RADAR BOGOR - Sebelum memutuskan membeli motor baru, kebanyakan masyarakat Indonesia biasanya mempertimbangkan desain dan harga sebagai faktor utama.
Namun ada satu pertimbangan lain yang juga tidak kalah penting, yakni harga jual kembali di pasar motor bekas.
Meski motor bukan barang investasi yang nilainya terus naik, faktor ini tetap krusial dipertimbangkan mengingat kebutuhan mendadak seperti ingin ganti motor baru atau butuh dana cepat bisa saja muncul di kemudian hari.
Baca Juga: 10 Kesalahan Fatal Beli Mobil Bekas yang Bisa Bikin Rugi Puluhan Juta, Jangan Sampai Terulang
Sayangnya, tidak semua tipe motor memiliki keistimewaan mudah dijual kembali dengan harga stabil.
Dikutip dari channel YouTube Mata Moto, setidaknya ada tujuh motor yang tercatat mengalami kesulitan signifikan di pasar motor bekas Indonesia, meski dari sisi kualitas dan keandalan mesin motor-motor tersebut sebenarnya tidak bermasalah.
1. Yamaha Mio M3 dan Mio Z
Nama Mio sebenarnya sudah legendaris sejak awal tahun 2000-an sebagai pionir sekaligus pembentuk tren motor matik di Indonesia. Sayangnya, masa kejayaan tersebut perlahan meredup sejak Honda meluncurkan Beat yang lebih mudah diterima masyarakat luas.
Baca Juga: Mendikdasmen: Keputusan Sekolah Tatap Muka atau Daring Diserahkan ke Pemda Terdampak Abu Vulkanik
Meski Yamaha terus memberikan pembaruan hingga lahirnya Mio M3 dan Mio Z, teknologi yang dibawa dianggap kurang relevan di pasar kelas bawah, ditambah konsumsi bensin yang dinilai kurang irit.
Banyaknya varian yang dikeluarkan Yamaha justru membuat konsumen kebingungan, sehingga nilai jual kembali motor ini kalah telak dibandingkan Honda Beat.
2. Vespa Matic Versi Non-Injeksi
Vespa matic kini sudah menjadi simbol gaya hidup dan status bagi anak muda, terlepas dari spesifikasi maupun mahalnya harga suku cadang.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai ke Bogor, Pemkab Imbau Warga Pakai Masker
Namun ironisnya, menjual Vespa matic di pasar bekas membutuhkan kesabaran ekstra karena kadang butuh waktu berbulan-bulan agar laku sesuai harga pasaran.
Kondisi ini semakin terasa pada varian mesin lawas yang belum menggunakan sistem injeksi, mengingat selisih harga bekas antara varian non-injeksi dengan varian injeksi tidak terlalu jauh.
Padahal versi lawas ini dikenal memiliki cukup banyak masalah teknis, sehingga pembeli yang sudah memahami seluk beluk motor ini cenderung memilih mundur kecuali harga yang ditawarkan benar-benar sangat murah.
Baca Juga: Bansos Rp900 Ribu Cair September 2026, Cek Jenis dan Kriteria Penerima Bantuannya
3. Suzuki Satria F
Bagi yang mengalami era sebelum tahun 2010, Suzuki Satria F pernah merajai pasar dengan penjualan unit baru yang meledak dan harga bekas yang sangat stabil, hanya beda tipis dari harga barunya.
Namun masa keemasan tersebut perlahan memudar seiring tren motor underbone atau ayago yang tidak lagi menjadi daya tarik utama konsumen.
Kondisi ini membuat Satria F menjadi sangat sulit dijual dengan harga yang terjun bebas, bahkan untuk seri terbaru sekalipun nasibnya di pasar bekas tetap sama.
Baca Juga: Bansos Rp900 Ribu Cair September 2026, Cek Jenis dan Kriteria Penerima Bantuannya
Pasar motor jenis ini sekarang sudah terlalu sempit untuk bisa dibilang menjanjikan bagi sebagian besar konsumen.
4. Kawasaki Ninja 250 SL Mono
Meski motor sport fairing masih menjadi impian anak muda karena kesan macho dan sporty yang ditawarkan, nasib kurang beruntung justru dialami Kawasaki Ninja 250 SL Mono.
Sejak awal peluncurannya, motor ini sudah gagal menarik minat konsumen di pasar motor baru.
Baca Juga: Sebaran Abu Vulkanik Sampai ke Bogor, Dedi Mulyadi Himbau Kepala Sekolah Terapkan PJJ
Begitu masuk ke bursa motor bekas, peminatnya semakin sepi, apalagi harga motor bekas 250 cc bermesin dua silinder kini semakin terjangkau.
Kondisi ini membuat SL Mono yang hanya mengusung satu silinder semakin tidak dilirik, dengan pasar yang benar-benar terbatas pada segelintir orang yang memang secara spesifik mencari tipe motor ini.
5. Yamaha Lexi 125
Sejak pertama kali rilis pada 2018, Yamaha Lexi 125 dinilai serba nanggung dari berbagai aspek, mulai dari mesin, bodi, hingga gaya berkendaranya.
Baca Juga: Benarkah Motor Zaman Sekarang Lebih Cepat Rusak Dibanding Motor Jadul? Ini Faktanya
Meski membawa embel-embel Maxi Yamaha, pijakan kakinya justru dibuat rata dan harganya terasa nanggung jika dibandingkan dengan Yamaha NMAX.
Menyadari hal tersebut, Yamaha akhirnya menghentikan versi 125 cc ini dan menggantinya dengan mesin 155 cc.
Sayangnya, stigma nanggung tersebut masih melekat di pasar motor bekas, dengan harga jual yang mepet dengan Honda Vario 125 atau bahkan NMAX generasi lama, membuat konsumen lebih memilih motor lain yang lebih mudah dimodifikasi.
Baca Juga: Terungkap Ini Trik Cepat Taklukkan Soal Pecahan dan Desimal Soal TIU CPNS
6. Honda ADV 150
Honda ADV 150 yang dirilis pada 2019 sebenarnya sempat mendapat respons cukup bagus berkat desain petualangnya yang unik.
Namun malapetaka muncul pada 2022 ketika Honda memutuskan untuk melakukan upgrade ke ADV 160, yang langsung mematikan pamor ADV 150 secara total di pasar bekas.
Meski secara tampilan desainnya masih mirip, jeroan mesin kedua motor ini sudah jauh berbeda, dan di Indonesia angka kapasitas mesin sangat berpengaruh terhadap gengsi kepemilikan.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, IPB Alihkan Kuliah Jadi Daring
Ditambah lagi, ADV 150 dari awal peluncurannya sudah kalah bersaing secara penjualan dibandingkan saudaranya sendiri, yakni Honda PCX, sehingga nasibnya di pasar bekas menjadi cukup berat meski harganya sudah jatuh cukup dalam.
7. Suzuki Address
Suzuki Address menjadi motor dengan nasib paling miris dalam daftar ini. Bahkan pernah tercatat penjualan unit baru dari pabrik ke dealer motor ini dalam setahun hanya laku satu unit saja, menggambarkan betapa sepinya minat konsumen terhadap motor ini sejak awal peluncurannya di pasar baru.
Jika unit barunya saja sepi peminat, kondisi di pasar bekas tentu jauh lebih kacau. Meski harganya sudah turun drastis, konsumen tetap jarang melirik motor ini karena tidak ada alasan kuat yang membuat orang merasa perlu membelinya, apalagi harga pasaran bekasnya masih mepet dengan motor-motor sejuta umat lain yang jauh lebih populer di pasaran.
Baca Juga: Usut Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan di Pemkab Bogor, Dirkrimsus Polda Jabar Dilibatkan
Bukan Soal Kualitas, Tapi Branding dan Tren Pasar
Ketujuh motor tersebut memang terbukti memiliki tantangan tersendiri ketika hendak dijual kembali di pasar motor bekas, meski preferensi konsumen di setiap daerah bisa saja berbeda-beda.
Perlu digaris bawahi bahwa seluruh motor dalam daftar ini bukanlah motor yang buruk secara kualitas atau keandalan mesin, melainkan faktor branding, posisi segmen pasar, dan tren yang membuat nasib jual kembalinya kurang beruntung.
Dari fakta tersebut, mempertimbangkan harga jual kembali sebelum memutuskan membeli motor baru menjadi langkah yang sangat masuk akal dan rasional diterapkan di Indonesia.***
Editor : Asep SuhendarSumber : YouTube Mata Moto