RADAR BOGOR – Keinginan menekan pengeluaran untuk BBM membuat banyak pemilik kendaraan mencoba berbagai cara yang disebut-sebut bisa membuat konsumsi bensin lebih irit.
Sayangnya, sejumlah tips yang ramai beredar di media sosial justru dapat membahayakan kendaraan jika dilakukan tanpa memahami cara kerja mesin.
Informasi mengenai trik menghemat BBM memang semakin mudah ditemukan di internet.
Namun, pemilik kendaraan sebaiknya tidak langsung mempraktikkan setiap tips yang terlihat meyakinkan.
Mengutip pembahasan kanal YouTube Gearhead Insights, terdapat sejumlah metode yang diklaim mampu mengurangi konsumsi bensin, tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar teknis yang tepat.
Bahkan, beberapa di antaranya berpotensi menyebabkan kerusakan komponen kendaraan dan membuat biaya perbaikan membengkak.
Baca Juga: Deretan SUV Tua dengan Mesin Paling Awet, Sanggup Tembus 300 Ribu Kilometer Lebih
Jangan Pernah Lepas ECU demi Hemat BBM
Salah satu tips yang tergolong berbahaya adalah mencopot Electronic Control Unit (ECU) dengan alasan ingin mengurangi konsumsi bahan bakar.
Padahal, ECU merupakan komponen penting yang berperan sebagai pusat pengendali berbagai sistem pada mesin.
Perangkat tersebut mengatur sistem injeksi sekaligus membantu mengontrol proses pembakaran agar berlangsung secara tepat dan terukur.
Ketika ECU dilepas, sistem pengelolaan bahan bakar tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut justru dapat menyebabkan konsumsi bensin menjadi lebih boros.
Tidak hanya itu, hilangnya kendali ECU juga dapat meningkatkan risiko gangguan hingga kerusakan pada sejumlah komponen penting mesin.
Chip Penghemat BBM di OBD2 Bukan Solusi
Mitos lain yang juga banyak ditemukan adalah penggunaan perangkat penghemat BBM yang dipasang pada port OBD2.
Beberapa produk bahkan mengklaim mampu menurunkan konsumsi bensin hingga 50 persen.
Klaim tersebut dinilai tidak dapat dijadikan patokan. Gearhead Insights menyebut banyak perangkat sejenis hanya merupakan gimmick yang tidak memberikan pengaruh nyata terhadap efisiensi mesin.
Bentuknya bahkan kerap hanya berupa kotak plastik yang dilengkapi lampu berkedip, tanpa mekanisme teknis yang terbukti dapat membuat mesin lebih irit.
Penggunaan perangkat tambahan yang tidak jelas standar dan keamanannya juga bukan tanpa risiko. Modul tersebut berpotensi mengganggu sistem kelistrikan kendaraan.
Baca Juga: Daftar Bansos Cair September 2026, dari Beras 30 Kg hingga Susulan PKH BPNT Tahap 3
Jangan Masukkan Spons ke Tangki Bensin
Cara lain yang tidak kalah berisiko adalah memasukkan spons cuci piring ke dalam tangki bahan bakar.
Praktik tersebut biasanya dilakukan dengan anggapan bahwa spons dapat berfungsi sebagai penyaring kotoran yang terdapat di dalam BBM.
Alih-alih membantu menyaring bahan bakar, material spons justru dapat rusak ketika terendam bensin. Bagian spons yang hancur atau larut berpotensi masuk ke sistem penyaluran BBM.
Jika material tersebut menyumbat saluran bahan bakar maupun fuel pump, aliran bensin menuju mesin dapat terganggu bahkan terhenti secara tiba-tiba.
Kerusakan pada sistem penyaluran BBM dari dalam tangki pun dapat terjadi akibat eksperimen tersebut.
WD-40 Bukan Cairan untuk Tangki BBM
Pemilik kendaraan juga sebaiknya tidak mencoba memasukkan cairan pelumas seperti WD-40 ke dalam tangki bensin.
Produk tersebut bukan dibuat sebagai bahan bakar dan bukan pula formulasi yang dirancang untuk dicampurkan dengan bensin.
Baca Juga: Publikasi Kinerja Badan Penanggulahan Bencana Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2026
Memasukkan cairan tersebut ke tangki berpotensi mengganggu proses pembakaran ketika campuran bahan bakar masuk ke ruang bakar mesin.
Karena itu, pemilik kendaraan perlu lebih berhati-hati terhadap berbagai informasi mengenai cara menghemat BBM yang beredar di media sosial maupun internet.
Daripada mencoba eksperimen yang belum terbukti dan berpotensi merusak kendaraan, perawatan rutin serta penggunaan kendaraan sesuai rekomendasi pabrikan tetap menjadi langkah yang lebih aman. (Angga/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin