RADAR BOGOR - Banyak pemilik mobil masih meyakini bahwa mesin berkilometer tinggi wajib menggunakan oli mesin yang lebih kental seperti 15W-40 atau 20W-50.
Padahal, anggapan ini justru keliru untuk mobil bermesin modern, meski odometernya sudah menembus angka di atas 500.000 kilometer sekalipun, karena berpotensi mempercepat kerusakan komponen dalam mesin.
Mengutip dari kanal YouTube AHA pedia, mesin mobil modern, khususnya yang mengusung teknologi Dual VVT-i, memiliki celah pelumasan dan hydraulic lifter dengan ukuran yang sangat sempit.
Baca Juga: Perempuan Ditemukan Meninggal Dunia di Sungai Kali Baru Cibinong Bogor
Kondisi ini membuat penggunaan oli mesin dengan tingkat kekentalan tinggi seperti 15W-40 atau 20W-50 justru tidak sesuai dengan karakteristik komponen mesin yang dirancang lebih presisi dibanding mesin generasi lama.
Sirkulasi Oli Lambat Bisa Percepat Keausan Komponen
Oli mesin yang terlalu kental membutuhkan waktu lebih lama untuk mengalir ke celah-celah kecil pada mesin saat pertama kali dinyalakan.
Kondisi ini mengakibatkan gesekan antar komponen meningkat pada momen kritis tersebut, sehingga komponen mesin berpotensi mengalami keausan lebih cepat dibanding penggunaan oli dengan kekentalan yang sesuai spesifikasi pabrikan.
Baca Juga: Malas Servis CVT? Ini Akibat Fatal yang Bisa Bikin Motor Matic Mogok Total di Jalan
Empat Efek Negatif Oli Kental pada Mesin Modern
Penggunaan oli mesin yang terlalu kental pada mobil modern dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif, di antaranya:
1- Mesin terasa berat dan boros, akselerasi mobil menjadi lebih lambat akibat oli yang sulit mengalir dengan cepat ke seluruh bagian mesin.
2- Suara mesin kasar, pelumasan yang terlambat sampai ke komponen bagian atas seperti lifter dan sprocket menimbulkan bunyi kasar saat mesin bekerja.
3- Kebocoran seal, tekanan pada ruang engkol atau crankcase meningkat, memicu rembesan oli pada bagian seal crankshaft yang menjadi sambungan antara mesin dan transmisi.
4- Risiko pembentukan sludge, oli yang kental lebih mudah membentuk endapan lumpur di dalam mesin, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu sirkulasi pelumasan secara keseluruhan.
Baca Juga: Akses Penyeberangan Stasiun Bogor Bakal Dihapus, Penumpang Nantinya Lewat Eskalator
Rekomendasi Kekentalan Oli yang Tepat
Untuk menjaga performa mesin tetap optimal, disarankan menggunakan oli mesin sesuai kekentalan yang tercantum dalam buku manual kendaraan, umumnya berada di kisaran 0W-20 atau 5W-30.
Bagi kendaraan dengan kilometer sangat tinggi yang menginginkan oli sedikit lebih tebal untuk alasan tertentu, batas maksimal kekentalan yang masih disarankan adalah 10W-40, tanpa perlu melompat langsung ke oli sekental 15W-40 atau 20W-50.
Biaya Perbaikan Jika Terjadi Kerusakan Akibat Oli Tidak Sesuai
Kesalahan pemilihan kekentalan oli dalam jangka panjang berpotensi memicu kerusakan serius yang mengharuskan turun mesin atau overhaul.
Baca Juga: Hanami Suki Bogor, All You Can Eat dengan Daging Premium dan Pelayanan Terbaik
Biaya dasar untuk proses overhaul mesin berkisar sekitar Rp8 juta, yang mencakup jasa pengerjaan, penggantian gasket, ring piston, oli, dan coolant.
Namun apabila kerusakan sudah merambat ke bagian kruk as atau metal yang mengalami keausan hingga harus undersize, biaya perbaikan total bisa membengkak hingga kisaran Rp12 juta sampai Rp15 juta, jauh lebih mahal dibandingkan biaya penggantian oli rutin dengan kekentalan yang tepat.
Memilih kekentalan oli mesin yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan menjadi langkah penting untuk menjaga keawetan mesin mobil modern, terlepas dari seberapa tinggi angka kilometer yang sudah ditempuh.
Baca Juga: XPeng GX EREV Punya Tenaga 503 PS, SUV 3 Baris Ini Tawarkan Kabin Mewah
Anggapan bahwa mesin berkilometer tinggi otomatis membutuhkan oli lebih kental sebaiknya mulai ditinggalkan, mengingat resiko kerusakan yang ditimbulkan justru bisa menguras biaya perbaikan yang jauh lebih besar.***
Editor : Asep SuhendarSumber : YouTube AHA pedia