15 Kebiasaan yang Bikin Mobil Cepat Rusak, Sering Dilakukan Tanpa Sadar

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi perawatan mobil. (Foto : google)
Ilustrasi perawatan mobil. (Foto : google)

RADAR BOGOR – Merawat mobil bukan hanya soal melakukan servis ketika kendaraan mulai bermasalah.

Kebiasaan sehari-hari saat menggunakan mobil ternyata juga dapat memengaruhi usia komponen, performa mesin, hingga besarnya biaya perawatan.

Sejumlah tanda seperti konsumsi bahan bakar yang semakin boros, tarikan terasa berat, suara aneh dari ruang mesin, AC tidak lagi dingin, hingga lampu indikator menyala bisa menjadi sinyal bahwa kendaraan membutuhkan pemeriksaan.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti mobil memiliki kualitas yang buruk atau komponennya bermasalah sejak awal.

Kebiasaan pemilik kendaraan yang terlihat sederhana justru dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat keausan.

Mulai dari menunda penggantian oli, mengabaikan lampu indikator, mengemudi secara agresif, hingga membiarkan mobil terlalu lama tidak digunakan merupakan beberapa contoh yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Ganti Oli Mobil 5.000 Km atau 5 Bulan? Ini Patokan yang Perlu Diketahui

Jika ingin mobil tetap awet dan tidak cepat rusak, berikut sejumlah kesalahan yang sebaiknya dihindari pemilik kendaraan seperti dikutip dari Suzuki Indonesia.

1. Jarang Mengganti Oli Mesin

Salah satu kebiasaan yang paling sering dilakukan adalah menunda penggantian oli karena mesin masih dapat bekerja dan mobil masih bisa dikendarai.

Padahal, oli mempunyai fungsi penting dalam menjaga komponen mesin. Cairan tersebut membantu melumasi bagian-bagian yang bergerak sehingga gesekan dapat dikurangi.

Seiring bertambahnya waktu dan jarak tempuh, kualitas oli dapat mengalami penurunan. Karena itu, kondisi oli tidak sebaiknya hanya dinilai berdasarkan warnanya.

Oli yang terlihat hitam tidak otomatis berarti sudah tidak layak, begitu pula oli yang masih terlihat cukup bersih belum tentu kondisinya optimal.

Ikuti interval penggantian oli sesuai rekomendasi pabrikan dengan mempertimbangkan jarak tempuh, usia kendaraan, serta pola penggunaan.

Mobil yang sering digunakan di tengah kemacetan, melakukan perjalanan pendek berulang kali, membawa beban berat, atau menghadapi kondisi berkendara berat membutuhkan perhatian lebih terhadap jadwal perawatan.

Menghemat biaya penggantian oli dengan menundanya justru berpotensi menimbulkan pengeluaran lebih besar apabila kemudian terjadi kerusakan mesin.

2. Mengabaikan Lampu Indikator Dashboard

Lampu indikator di dashboard merupakan salah satu cara kendaraan memberikan informasi kepada pengemudi mengenai kondisi tertentu.

Sayangnya, masih ada pemilik mobil yang memilih mengabaikannya dengan alasan kendaraan masih bisa berjalan. Padahal, lampu peringatan yang menyala perlu diketahui penyebabnya.

Baca Juga: Gagal Login Info GTK Karena OTP Tidak Terkirim? Ini Solusi Paling Ampuh

Tidak setiap lampu indikator menandakan kerusakan berat. Namun, tingkat masalah juga tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat lampunya.

Semakin lama masalah dibiarkan, ada kemungkinan gangguan berkembang dan berdampak pada komponen lain.

Karena itu, ketika muncul indikator yang tidak biasa, jangan langsung panik tetapi juga jangan menganggapnya sepele.

Periksa buku manual kendaraan atau bawa mobil ke bengkel tepercaya untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

3. Terlalu Sering Menginjak Gas Secara Agresif

Gaya mengemudi juga berpengaruh terhadap usia pakai sejumlah komponen mobil.

Kebiasaan melakukan akselerasi secara mendadak dengan menginjak pedal gas dalam-dalam dapat membuat mesin dan berbagai komponen bekerja lebih keras.

Akselerasi tentu tetap diperlukan dalam situasi tertentu. Namun, apabila dilakukan secara agresif sebagai gaya berkendara sehari-hari, ditambah pengereman mendadak dan perubahan kecepatan yang ekstrem, beban kerja kendaraan dapat meningkat.

Selain berpotensi mempercepat keausan komponen, pola berkendara tersebut juga dapat membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi.

Mengemudi dengan halus bukan berarti harus selalu berjalan lambat. Mengatur akselerasi, menjaga jarak aman, serta membaca situasi lalu lintas dapat membuat perjalanan lebih nyaman sekaligus membantu mengurangi beban kendaraan.

4. Menahan Mobil di Tanjakan Hanya dengan Pedal Gas

Pengemudi yang sering melewati jalan menanjak perlu memperhatikan kebiasaan saat mempertahankan posisi mobil.

Baca Juga: Resep Soto Ayam Lamongan, Gurih Khas dengan Taburan Koya yang Bikin Nagih

Pada kondisi tertentu, pengemudi dapat mencoba menahan kendaraan menggunakan kombinasi pedal gas dan transmisi.

Jika teknik yang digunakan tidak tepat, kebiasaan tersebut dapat memberikan beban tambahan pada komponen kendaraan.

Cara yang benar dapat berbeda antara mobil manual dan otomatis, bahkan dapat berbeda sesuai sistem transmisi masing-masing kendaraan.

Karena itu, pahami karakter mobil yang digunakan. Jangan hanya mengandalkan kebiasaan dari kendaraan sebelumnya.

Buku manual dapat menjadi acuan untuk mengetahui prosedur penggunaan transmisi ketika menghadapi tanjakan, turunan, maupun kondisi berhenti dalam waktu cukup lama.

5. Terlalu Sering Menunda Servis

Mobil masih terasa nyaman sehingga servis dianggap bisa dilakukan nanti. Kebiasaan seperti ini cukup sering terjadi di kalangan pemilik kendaraan.

Padahal, kondisi mobil yang masih terasa normal tidak selalu berarti seluruh komponennya berada dalam kondisi sempurna.

Sejumlah komponen dapat mengalami keausan secara perlahan tanpa langsung menunjukkan gejala yang jelas.

Pengemudi terkadang baru menyadari adanya masalah ketika performa kendaraan sudah mengalami penurunan.

Servis berkala bukan hanya dilakukan ketika mobil mengalami kerusakan. Perawatan rutin juga bertujuan mendeteksi potensi masalah sejak awal dan menjaga kendaraan tetap dalam kondisi sesuai standar.

Baca Juga: 5 Film Baru yang Bisa Jadi Teman Akhir Pekan di Bioskop, Ada Resident Evil hingga Detective Conan

Jangan menunggu sampai mobil mogok di perjalanan baru membawanya ke bengkel.

6. Menggunakan Suku Cadang dan Cairan yang Tidak Sesuai

Memilih komponen berdasarkan harga paling murah juga dapat menjadi kesalahan dalam merawat mobil.

Menghemat biaya perawatan memang penting, tetapi setiap kendaraan mempunyai spesifikasi yang harus diperhatikan.

Oli, cairan kendaraan, filter, busi, aki, serta berbagai komponen lainnya memiliki persyaratan dan karakteristik masing-masing.

Jangan hanya memastikan sebuah komponen dapat dipasang. Pastikan pula spesifikasinya sesuai dengan kendaraan.

Selalu periksa rekomendasi pabrikan. Jika masih ragu, konsultasikan dengan teknisi yang kompeten.

Harga yang lebih murah saat pembelian belum tentu membuat biaya perawatan menjadi lebih rendah apabila komponen tersebut tidak sesuai dan kemudian menimbulkan masalah lain.

7. Sering Membawa Beban Berlebihan

Mobil memang dirancang untuk mengangkut penumpang dan barang. Namun, setiap kendaraan memiliki batas kemampuan tertentu.

Membawa barang dengan bobot berlebihan secara terus-menerus dapat menambah beban kerja sejumlah komponen, mulai dari mesin, transmisi, suspensi, ban, hingga sistem pengereman.

Karena itu, hindari menjadikan bagasi mobil sebagai tempat penyimpanan barang yang tidak diperlukan.

Baca Juga: Setir Innova Reborn Terasa Berat? Ternyata Ini Alasannya, Bukan Berarti Ada Masalah

Periksa isi bagasi dan kabin secara berkala. Jika terdapat barang yang tidak dibutuhkan, sebaiknya dikeluarkan.

Mobil yang lebih ringan juga berpotensi menggunakan bahan bakar dengan lebih efisien.

8. Mengabaikan Kondisi Ban

Sebagian pemilik mobil baru memperhatikan kondisi ban ketika sudah kempis atau mengalami kebocoran.

Padahal, ban merupakan salah satu komponen penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan berkendara.

Tekanan ban sebaiknya diperiksa secara berkala dan disesuaikan dengan rekomendasi kendaraan. Jangan hanya mengandalkan perkiraan atau melihat kondisi ban secara kasatmata.

Selain tekanan angin, perhatikan pula kondisi telapak ban, tingkat keausan, keausan yang tidak merata, retakan, serta kondisi fisik secara keseluruhan.

Ban yang bermasalah dapat memengaruhi kenyamanan berkendara sekaligus kemampuan kendaraan dalam melakukan pengereman dan mempertahankan traksi.

9. Membiarkan Mobil Terlalu Lama Tidak Digunakan

Mobil yang jarang dipakai bukan berarti terbebas dari perawatan. Kendaraan yang terlalu lama terparkir juga dapat mengalami sejumlah masalah.

Aki dapat mengalami penurunan kondisi, tekanan ban dapat berubah, sementara beberapa komponen tetap mengalami proses penuaan meskipun kendaraan tidak sering digunakan.

Jika mobil memang jarang dipakai, pemeriksaan tetap perlu dilakukan secara berkala.

Baca Juga: Setir Innova Reborn Terasa Berat? Ternyata Ini Alasannya, Bukan Berarti Ada Masalah

Jangan menunggu sampai kendaraan hendak digunakan untuk perjalanan jauh baru mengetahui bahwa aki sudah lemah atau terdapat masalah lain.

10. Hanya Mencuci Bodi dan Melupakan Bagian Bawah Mobil

Membersihkan bodi kendaraan memang penting untuk menjaga penampilan. Namun, bagian bawah mobil juga tidak boleh sepenuhnya diabaikan.

Perhatian lebih diperlukan jika mobil sering melewati genangan air, jalan berlumpur, atau kawasan dengan kondisi jalan yang kotor.

Kotoran yang menumpuk di bagian bawah kendaraan dapat membuat pemeriksaan kondisi komponen menjadi lebih sulit.

Setelah mobil melewati kondisi yang cukup ekstrem, lakukan pemeriksaan dan pembersihan sesuai kebutuhan.

Namun, hindari sembarangan menyemprot bagian kendaraan yang sensitif menggunakan tekanan air tinggi.

Jika tidak mengetahui bagian mana yang aman dibersihkan, konsultasikan dengan teknisi.

11. Membiarkan Kaki Menempel pada Pedal Kopling

Kebiasaan ini perlu diperhatikan khususnya oleh pengguna mobil manual. Sebagian pengemudi terbiasa meletakkan kaki kiri di atas pedal kopling ketika berkendara meskipun tidak sedang melakukan perpindahan gigi.

Tekanan yang diberikan mungkin terasa sangat ringan. Namun, kebiasaan tersebut berpotensi membuat mekanisme kopling bekerja ketika sebenarnya tidak diperlukan dan dapat mempercepat keausan.

Sebaiknya letakkan kaki kiri pada area yang memang disediakan ketika tidak sedang menggunakan pedal kopling.

Baca Juga: CFD di Kota Bogor Kian Disambut Antusias, Warga Usul Program Senam Bersama

12. Memindahkan Transmisi Tanpa Memahami Prosedurnya

Pengguna mobil otomatis juga perlu memahami karakter transmisi kendaraannya. Hindari kebiasaan memindahkan posisi transmisi secara sembarangan, terutama ketika kendaraan belum berhenti sepenuhnya atau posisi yang dipilih tidak sesuai dengan kondisi berkendara.

Setiap mobil dapat mempunyai prosedur penggunaan transmisi yang berbeda. Karena itu, buku manual kendaraan sebaiknya tidak diabaikan.

Luangkan waktu untuk memahami petunjuk penggunaan transmisi, karena informasi sederhana di dalamnya dapat membantu mencegah kesalahan saat mengoperasikan kendaraan.

13. Mengabaikan Suara dan Getaran yang Tidak Normal

Mobil sebenarnya dapat memberikan tanda ketika mulai mengalami masalah. Namun, pengemudi yang sudah terbiasa dengan kendaraan miliknya terkadang menganggap perubahan kecil sebagai sesuatu yang normal.

Suara berdecit, bunyi ketukan, getaran, suara dengung, maupun perubahan respons kendaraan bisa menjadi tanda bahwa ada bagian yang perlu diperiksa.

Tidak semua suara aneh berarti kerusakan serius. Namun, semakin cepat sumber masalah diketahui, semakin besar peluang gangguan tersebut ditangani sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih mahal.

Kenali suara dan karakter normal mobil Anda. Jika terdapat perubahan yang tidak biasa, jangan langsung menganggapnya sebagai kondisi normal.

14. Menganggap Mobil Modern Tidak Perlu Dirawat

Teknologi kendaraan saat ini memang semakin berkembang. Mesin semakin efisien, sistem elektronik semakin kompleks, dan berbagai fitur dirancang untuk membantu pengemudi.

Namun, kecanggihan teknologi tidak berarti mobil modern bebas dari perawatan. Justru semakin kompleks sistem kendaraan, semakin penting bagi pemilik untuk mengikuti prosedur perawatan yang sesuai.

Jangan menganggap mobil yang masih tergolong baru boleh melewatkan jadwal servis. Perawatan yang dilakukan secara konsisten sejak awal dapat membantu menjaga kondisi kendaraan dalam jangka panjang.

Baca Juga: IMM Bogor Raya Minta KPK Telusuri Dugaan Fasilitator Kasus Suap HGB Summarecon

15. Baru Memperbaiki Mobil Setelah Rusak

Menunggu kendaraan mengalami kerusakan baru melakukan perbaikan menjadi salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari.

Sebagian pemilik mobil menganggap biaya perawatan sebagai pengeluaran yang bisa ditunda.

Padahal, perawatan kendaraan dapat menjadi langkah untuk menjaga kondisi mobil sekaligus membantu mencegah masalah yang lebih besar.

Mengganti komponen ketika sudah mencapai masa penggantian dapat lebih masuk akal dibandingkan menunggu kerusakan menyebar ke komponen lain.

Jangan menunggu mobil mogok di jalan, mesin mengeluarkan suara keras, lampu indikator terus menyala selama berhari-hari, atau masalah kecil berubah menjadi tagihan bengkel yang besar.

Mulai Ubah Kebiasaan agar Mobil Lebih Awet

Dari berbagai kesalahan tersebut, beberapa di antaranya mungkin tanpa sadar masih sering dilakukan pemilik mobil.

Mulai dari menunda penggantian oli, jarang memeriksa tekanan ban, mengabaikan suara aneh, hingga baru datang ke bengkel ketika masalah sudah muncul.

Baca Juga: Danone Indonesia Gandeng Pemkot Bogor, UMKM Lokal Didorong Naik Kelas Lewat Damping Award

Mengubah kebiasaan tersebut tidak selalu membutuhkan biaya besar. Hal terpenting adalah konsisten merawat kendaraan, memahami karakter mobil, mengikuti jadwal perawatan, serta tidak mengabaikan tanda-tanda yang diberikan kendaraan.

Mobil yang dirawat dengan baik bukan hanya lebih nyaman digunakan. Perawatan rutin juga dapat membantu menjaga kondisi komponen dan membuat biaya kepemilikan kendaraan lebih terkendali dalam jangka panjang. (***)

Editor : Yosep Awaludin
servis mobil perawatan