RADAR BOGOR - Penggunaan Pertalite masih menjadi pilihan sebagian pemilik sepeda motor karena harganya relatif terjangkau.
Namun, warga Bogor sebaiknya tidak menyamakan kebutuhan BBM semua motor. Jenis mesin, rasio kompresi, sistem pendingin, serta rekomendasi pabrikan menjadi faktor penting yang menentukan bahan bakar yang sesuai.
Mengutip dari kanal YouTube HND garage, motor dengan rasio kompresi relatif rendah dan masih menggunakan pendingin udara cenderung lebih toleran terhadap BBM beroktan lebih rendah.
Baca Juga: Ganti Menkeu Pencairan TPG Terganggu? Guru Pahami 3 Poin Ini
Sebaliknya, motor dengan kompresi tinggi membutuhkan BBM dengan nilai oktan lebih tinggi untuk mengurangi risiko knocking atau mesin ngelitik.
Honda Beat Lama dan Motor 125 Cc Pendingin Udara
Kelompok motor yang disebut relatif aman menggunakan Pertalite adalah Honda Beat generasi awal hingga model sebelum 2020 yang memiliki rasio kompresi di bawah 10:1.
Selain itu, beberapa motor Yamaha 125 cc tanpa radiator seperti keluarga Mio juga masuk kategori mesin dengan kompresi relatif rendah.
Baca Juga: Dapat Modal Rp5 Juta dan Ilmu Bisnis, 10 UMKM Gunung Putri Ikuti Coaching LAZ Rabbani
Honda Verza 150 dan Yamaha Scorpio 225 juga disebut dapat menggunakan Pertalite karena menggunakan sistem pendingin udara.
Meski demikian, pemilik motor tetap perlu mengecek buku manual atau spesifikasi resmi kendaraannya.
Istilah aman tidak berarti semua kondisi penggunaan dan semua mesin akan memberikan performa yang sama.
Baca Juga: Viral Sidak Ombudsman di Lapas Cibinong Bogor, Ini Penjelasan Ditjenpas
Motor Kompresi Sekitar 10:1 Perlu Lebih Diperhatikan
Motor generasi lebih baru dengan rasio kompresi sekitar 10:1 membutuhkan perhatian lebih dalam pemilihan BBM. Contohnya adalah beberapa model Honda dengan mesin generasi terbaru, termasuk Beat eSP, Genio dan Scoopy tertentu.
Dalam sumber informasi tersebut, penggunaan campuran Pertamax dan Pertalite dengan perbandingan 1:2 disebut sebagai salah satu opsi.
Namun, campuran BBM sebaiknya tidak dijadikan patokan universal karena kebutuhan oktan setiap model tetap mengikuti spesifikasi pabrikan.
Baca Juga: Bukan Acuan, Pakai Data Formasi CASN 2024 untuk Tahun 2026? Ini Bahayanya
Yang perlu diperhatikan warga Bogor bukan sekadar jenis BBM, tetapi apakah nilai oktannya sesuai dengan kebutuhan mesin.
Penggunaan BBM dengan oktan yang tidak sesuai dapat memengaruhi performa dan berpotensi menyebabkan knocking pada kondisi tertentu.
Motor Radiator dan Kompresi Tinggi Sebaiknya Pakai RON 92
Berbeda dengan motor kompresi rendah, sejumlah motor matic dan sport modern memiliki rasio kompresi lebih tinggi. Contohnya Vario, ADV 160, PCX 160, Yamaha NMAX, Aerox, CBR150R hingga R15.
Baca Juga: Karhutla Kalimantan Selatan Makin Serius, 300 Perusahaan Dikerahkan Padamkan Api Serentak
Untuk kelompok tersebut, sumber informasi merekomendasikan BBM dengan RON minimal 92, seperti Pertamax atau bahan bakar dengan spesifikasi setara.
Jika berada dalam kondisi tertentu dan harus menggunakan Pertalite, sumber tersebut menyebut campuran 50 persen Pertamax dan 50 persen Pertalite sebagai alternatif.
Namun, pilihan utama tetap sebaiknya mengikuti rekomendasi BBM dari pabrikan kendaraan.
Baca Juga: Bukan CPNS Baru, Kementerian Haji dan Umrah Mulai Penuhi Kebutuhan PNS Lewat Mutasi
Kenapa Rasio Kompresi Penting?
Rasio kompresi berkaitan dengan seberapa besar campuran udara dan bahan bakar dimampatkan sebelum pembakaran.
Semakin tinggi kompresinya, umumnya semakin besar kebutuhan mesin terhadap BBM dengan angka oktan yang sesuai.
Jika BBM yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan mesin, salah satu gejala yang dapat muncul adalah knocking atau ngelitik.
Baca Juga: Daftar Bansos PKH BPNT Bisa Lewat Perlinsos, Begini Caranya
Dalam penggunaan jangka panjang, kondisi pembakaran yang tidak ideal juga dapat memengaruhi performa dan efisiensi mesin.
Tips BBM Motor untuk Warga Bogor
Sebelum memilih Pertalite atau Pertamax, pemilik motor sebaiknya:
- Cek rekomendasi BBM pada buku manual kendaraan.
- Perhatikan rasio kompresi mesin.
- Jangan menjadikan jenis motor saja sebagai patokan.
- Waspadai suara ngelitik saat mesin bekerja di bawah beban.
- Gunakan BBM sesuai spesifikasi pabrikan.
- Hindari menganggap motor radiator otomatis harus menggunakan BBM tertentu tanpa mengecek spesifikasinya.
Bagi warga Bogor, memilih BBM yang tepat bukan hanya soal harga per liter. Spesifikasi mesin tetap menjadi acuan utama.
Baca Juga: RSUD R Moh Noh Nur Leuwiliang Bogor Jadi Tuan Rumah Bakti Sosial Bantuan Atensi Sentra Galih Pakuan
Motor dengan kompresi rendah mungkin lebih toleran terhadap Pertalite, sementara motor dengan kompresi tinggi umumnya membutuhkan BBM dengan oktan lebih tinggi.
Dengan menyesuaikan bahan bakar terhadap spesifikasi mesin, pemilik motor dapat menjaga performa dan mengurangi risiko masalah pembakaran.***
Editor : Asep SuhendarSumber : youtube HND garage