Jangan Asal Ganti Coolant Mobil Listrik, Ternyata Baterai Punya Kebutuhan Khusus

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 16:46 WIB
Ilustrasi mobil listrik
Ilustrasi mobil listrik

RADAR BOGOR – Pemilik mobil listrik perlu memperhatikan satu komponen yang kerap luput dari perhatian, yakni cairan pendingin atau coolant. Meski bentuknya terlihat mirip dengan coolant pada mobil bermesin bensin, cairan pendingin untuk mobil listrik ternyata memiliki spesifikasi khusus.

Hal tersebut disampaikan Suratman, Service Manager Denza. Menurutnya, sistem pendinginan pada mobil listrik memiliki fungsi penting karena tidak hanya menjaga temperatur komponen kendaraan, tetapi juga berkaitan langsung dengan sistem pendingin baterai.

“Coolant mobil listrik memang ada spesifikasi khusus, karena sistem pendinginannya juga berkaitan sama baterai. Jadi jangan asal pakai coolant biasa,” ujar Suratman.

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Digelar di Bandung, Dedi Mulyadi: Gerakkan Ekonomi Jawa Barat

Coolant Mobil Listrik Tak Bisa Sembarangan

Secara kasat mata, coolant mobil listrik memang sulit dibedakan dari cairan pendingin yang digunakan pada kendaraan konvensional.

Namun, perbedaan terdapat pada spesifikasi dan kemampuan cairan tersebut dalam bekerja pada temperatur yang dibutuhkan sistem kendaraan listrik.

“Kalau dilihat memang sama-sama cairan pendingin, tapi spesifikasinya ada perbedaan ya, terutama untuk kemampuan bekerja di temperatur tertentu yang lebih tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Timun Mas Coffee Lab Bogor, Tempat Ngopi di Gadog Bisa Lihat Proses Roasting Kopi

Menurut Suratman, spesifikasi tersebut menjadi penting karena sistem pendinginan pada kendaraan listrik turut berperan menjaga temperatur baterai.

Baterai merupakan salah satu komponen utama mobil listrik yang menghasilkan panas ketika kendaraan digunakan maupun saat proses pengisian daya.

Karena itu, sistem pendingin harus bekerja dengan cairan yang memang dirancang sesuai kebutuhan kendaraan.

“Baterai ikut didinginkan pakai coolant, makanya spesifikasinya harus sesuai dengan yang sudah ditentukan, walaupun ada kemiripan,” kata Suratman.

Baca Juga: 7 Penyebab Kendaraan Listrik Terasa Boros, Warga Bogor Perlu Tahu Sebelum Menyalahkan Baterai

Jangan Tunggu Coolant Bermasalah Baru Diganti

Pemilik mobil listrik juga tidak perlu khawatir harus terlalu sering mengganti coolant. Penggantiannya dilakukan berdasarkan jadwal perawatan yang telah ditentukan oleh pabrikan.

Pada Denza D9, misalnya, penggantian coolant termasuk dalam perawatan berkala ketika kendaraan telah mencapai 40.000 kilometer.

“Untuk coolant ini penggantiannya memang di 40.000 km, karena spesifikasinya sudah dites dan memang ditentukan untuk interval tersebut,” ujar Suratman.

Baca Juga: Update Bansos PKH dan BPNT September 2026: Cek Wilayah dan 10 Kriteria Pembatalan

Artinya, interval penggantian coolant pada mobil listrik berbeda dengan oli mesin pada mobil konvensional yang memiliki jadwal penggantian lebih rutin.

Meski begitu, bukan berarti pemilik bisa menggunakan cairan pendingin apa saja. Saat melakukan penggantian, coolant yang digunakan harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan pabrikan.

Salah Pilih Coolant Bisa Berdampak ke Sistem Pendinginan

Penggunaan coolant yang sesuai menjadi bagian penting dari perawatan mobil listrik. Pasalnya, cairan tersebut bekerja dalam sistem yang berkaitan dengan temperatur baterai dan komponen kendaraan.

Baca Juga: 5 Tanda Kompresor AC Mobil Mulai Rusak, Warga Bogor Jangan Langsung Ganti Komponen

Karena itu, pemilik mobil listrik sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan, termasuk mengenai jenis coolant dan interval penggantiannya.

Jangan hanya melihat warna atau bentuk cairan yang tampak serupa dengan coolant mobil bensin. Spesifikasi menjadi hal utama yang harus diperhatikan agar sistem pendinginan mobil listrik tetap bekerja sesuai peruntukannya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
mobil listrik coolant baterai