RADAR BOGOR - Beragam cara menghemat bahan bakar minyak (BBM) kerap menjadi perbincangan para pemilik kendaraan. Mulai dari penggunaan etanol, pemilihan RON, engine brake, hingga fitur Eco Mode pada mobil.
Melansir Dokter Mobil Indonesia, sejumlah mitos dan fakta seputar BBM dibahas, termasuk pengaruh jenis bahan bakar terhadap performa dan kondisi mesin.
Etanol Disebut Tidak Bermasalah untuk Bensin
Dalam pembahasan tersebut, Dokter Mobil menjelaskan bahwa penggunaan etanol pada bensin pada dasarnya tidak menjadi masalah selama bahan bakar tidak terlalu lama mengendap di dalam tangki.
Baca Juga: KRL Bakal Sampai Lido, Pemkab Bogor Didorong Jadikan Cigombong Destinasi Wisata Baru
Menurut penjelasan dalam video, etanol memiliki sifat menarik partikel air lebih banyak sehingga bensin yang mengandung etanol berpotensi lebih cepat mengandung air. Karena itu, penggunaan kendaraan secara rutin disebut dapat mengurangi masalah tersebut.
Etanol juga disebut dapat membuat temperatur mesin sedikit lebih tinggi. Karena itu, sistem pendinginan kendaraan, termasuk coolant dan kipas, perlu dalam kondisi baik.
Jangan Asal Pilih RON
Pembahasan berikutnya menyangkut penggunaan BBM dengan RON yang lebih rendah dari rekomendasi pabrikan.
Dokter Mobil menjelaskan bahwa RON berkaitan dengan kemampuan bahan bakar menahan pembakaran akibat temperatur dan tekanan di ruang bakar sebelum terjadi pengapian yang semestinya.
Mobil dengan rasio kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar dengan spesifikasi RON yang sesuai. Jika menggunakan RON yang terlalu rendah, salah satu gejala yang dapat muncul adalah knocking atau ngelitik.
Namun, dalam video tersebut dijelaskan bahwa kendaraan dengan mesin standar dan bukan kendaraan berperforma tinggi tidak serta-merta mengalami kerusakan parah hanya karena menggunakan RON lebih rendah. Gejala seperti ngelitik tetap perlu diperhatikan dan tidak sebaiknya dibiarkan dalam waktu lama.
Mobil Ngelitik Tidak Selalu karena RON
Dokter Mobil juga menyinggung kasus kendaraan yang tetap mengalami ngelitik meski sudah menggunakan BBM dengan RON tinggi.
Menurut penjelasan dalam video, penyebabnya bisa berasal dari kondisi kendaraan, seperti injektor kotor, saluran bahan bakar yang kotor, ruang bakar yang kotor, atau temperatur mesin yang terlalu tinggi.
Karena itu, pemeriksaan dan perawatan komponen kendaraan menjadi bagian penting untuk mengatasi masalah tersebut.
Engine Brake Disebut Bisa Memengaruhi Konsumsi BBM
Soal penggunaan engine brake ketika melewati jalan menurun, Dokter Mobil menyebut teknik tersebut perlu disesuaikan dengan jenis transmisi dan cara penggunaannya.
Pada mobil manual, engine brake dinilai dapat digunakan untuk membantu memperlambat kendaraan. Sementara pada mobil matik, pengguna perlu memperhatikan cara kerja transmisinya.
Dalam pembahasan tersebut juga disebutkan bahwa ketika kendaraan berada dalam kondisi tertentu dan RPM meningkat saat engine brake, mesin dapat bekerja pada putaran lebih tinggi.
Eco Mode Bikin Mobil Lebih Irit?
Fitur Eco Mode pada kendaraan juga dibahas. Menurut penjelasan Dokter Mobil, mode tersebut dapat mengatur perpindahan gigi agar transmisi lebih cepat masuk ke gigi yang lebih tinggi sehingga RPM mesin lebih rendah.
Efeknya, respons atau tarikan kendaraan dapat terasa lebih lambat dibandingkan ketika menggunakan mode Dynamic atau Sport yang mempertahankan RPM lebih tinggi.
Namun, penghematan BBM yang dihasilkan Eco Mode disebut tidak selalu signifikan dan sangat bergantung pada kondisi serta cara berkendara.
Hemat atau Kencang, Pengguna Harus Memilih
Untuk kendaraan diesel, Dokter Mobil juga membahas pencampuran Dex dan Biosolar.
Jika tujuan utama adalah menghemat biaya bahan bakar, Biosolar disebut menjadi pilihan dalam pembahasan tersebut. Sementara jika mengejar performa dan tarikan, Dex disebut memberikan karakter yang berbeda.
Intinya, menurut penjelasan dalam video, pengguna perlu menentukan prioritas antara efisiensi biaya BBM dan performa kendaraan. (Fauzan Kaifah/Magang Radar Bogor)
Editor : Eka Rahmawati