Kenali Fitur Regenerative Braking Motor Listrik, Cara Kerja dan Risiko Bahaya di Jalur Turunan

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 08:00 WIB
Illustrasi motor listrik dengan fitur regeneratif braking (Foto: Instagram: @ionmobility_id)
Illustrasi motor listrik dengan fitur regeneratif braking (Foto: Instagram: @ionmobility_id)

RADAR BOGOR – Pengguna motor listrik perlu memahami cara kerja fitur rem regeneratif (regenerative braking) yang menjadi salah satu teknologi penting pada kendaraan listrik modern.

Fitur tersebut bukan hanya membantu memperlambat laju motor listrik, tetapi juga dapat mengembalikan sebagian energi kinetik menjadi listrik untuk mengisi baterai.

Teknologi ini menjadi salah satu keunggulan motor listrik dibandingkan sepeda motor bensin konvensional, khususnya bagi pengguna yang mengutamakan efisiensi energi.

Ketika motor melaju di jalan menurun atau mengalami deselerasi, energi yang biasanya terbuang saat pengereman dapat dimanfaatkan kembali.

Meski demikian, penggunaan rem regeneratif tidak bisa dilakukan tanpa memperhatikan kondisi baterai dan batas kemampuan sistem kelistrikan.

Pemilik motor listrik yang belum memahami mekanismenya berpotensi menghadapi persoalan serius.

Baca Juga: Desil 1-4 Penerima Bansos PKH BPNT Tahap Keempat, Cek Syarat dan Bantuan Tambahan

Seperti overvoltage atau lonjakan tegangan, bahkan kerusakan pada komponen kontroler ketika kendaraan digunakan melewati turunan panjang dan curam.

Penjelasan mengenai mekanisme, manfaat, hingga potensi risiko penggunaan rem regeneratif pada motor listrik disampaikan praktisi konversi kendaraan listrik melalui kanal YouTube Dul Teknik.

Bagi pemilik kendaraan listrik, berikut sejumlah hal penting yang perlu diketahui sebelum memanfaatkan fitur regenerative braking.

1. Dinamo Motor Berubah Fungsi Menjadi Generator

Rem regeneratif bekerja dengan memanfaatkan dinamo BLDC (Brushless Direct Current) yang pada kondisi tertentu tidak hanya bertugas menggerakkan roda, tetapi juga dapat berfungsi sebagai generator untuk menghasilkan listrik.

Ketika pengendara mengurangi bukaan gas atau melakukan pengereman secara perlahan, putaran roda belakang tetap menggerakkan bagian dalam dinamo.

Pergerakan tersebut menghasilkan gaya elektromagnetik yang kemudian memberikan tahanan terhadap putaran roda sehingga kecepatan motor berkurang.

Pada saat yang sama, energi kinetik kendaraan dikonversi menjadi energi listrik. Arus yang dihasilkan dapat dialirkan kembali menuju baterai dengan besaran pengisian sekitar 10 hingga 20 ampere, tergantung sistem dan pengaturan kendaraan.

Dengan mekanisme tersebut, energi yang biasanya terbuang ketika kendaraan melambat dapat dimanfaatkan kembali.

Sistem ini juga membantu mengurangi penggunaan rem mekanis sehingga secara tidak langsung dapat menekan keausan kampas rem cakram.

2. Ada Tiga Kondisi yang Bisa Mengaktifkan Rem Regeneratif

Pada motor listrik, sistem regenerative braking umumnya dikendalikan oleh kontroler yang telah diprogram untuk membaca kondisi tertentu.

Baca Juga: Pembaruan Data DTSEN Oktober 2026, Tanda Bansos Tahap 4 Siap Disalurkan? 

Sedikitnya terdapat tiga mekanisme yang dapat memicu bekerjanya pengereman regeneratif.

Pertama, melalui saklar pada tuas rem. Ketika handel rem disentuh, sistem dapat terlebih dahulu mengaktifkan pengereman melalui dinamo sebelum kampas rem menekan piringan cakram.

Kedua, regenerative braking dapat bekerja ketika cruise control digunakan untuk menjaga kecepatan kendaraan, terutama saat motor melewati jalan yang menurun.

Ketiga, sistem dapat aktif ketika pengendara melepas tuas gas sepenuhnya. Kondisi tersebut memicu deselerasi sehingga kendaraan mengalami perlambatan yang karakteristiknya menyerupai efek engine brake pada motor bermesin bensin.

3. Kondisi Baterai dan Kenyamanan Pengendara Harus Diperhatikan

Besarnya efek rem regeneratif tidak selalu dibuat sama pada setiap motor listrik. Pabrikan perlu menyesuaikan pengaturannya dengan kemampuan baterai dalam menerima arus listrik yang masuk secara cepat.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sebagian motor listrik tidak mengatur regenerative braking dengan karakter yang terlalu agresif.

Kesiapan sel baterai menerima arus hasil regenerasi menjadi faktor penting untuk menjaga keamanan sekaligus memperpanjang usia baterai.

Jenis baterai juga berpengaruh. Baterai berbasis timbal seperti SLA (Sealed Lead Acid) atau VRLA (Valve Regulated Lead Acid) dinilai kurang optimal dalam menerima arus regeneratif dibandingkan baterai lithium.

Karena itu, pengaturan sistem pada kendaraan dengan baterai tersebut dapat dibuat lebih rendah.

Selain faktor teknis, karakter pengereman juga perlu diperhatikan pengendara. Efek deselerasi yang terlalu kuat ketika gas dilepas dapat terasa seperti tarikan mendadak.

Baca Juga: 4,3 Juta KPM Baru Siap Terima PKH dan BPNT Awal Oktober 2026, Ini Penjelasan dan Cara Cek Saldo

Bagi pengendara atau penumpang yang belum terbiasa, kondisi tersebut bahkan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga mual.

4. Jangan Isi Baterai 100 Persen Sebelum Melewati Turunan Panjang

Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian utama pengguna motor listrik adalah kondisi baterai sebelum melewati jalur menurun yang panjang dan curam.

Kesalahan yang berpotensi menimbulkan masalah adalah mengisi baterai hingga 100 persen ketika berada di dataran tinggi atau kawasan pegunungan, kemudian menggunakan motor untuk perjalanan pulang melalui turunan panjang.

Ketika kapasitas baterai sudah penuh, Battery Management System (BMS) akan menjalankan fungsi perlindungan dengan menghentikan atau membatasi proses pengisian untuk mencegah terjadinya overcharging.

Masalahnya, saat motor terus melaju menuruni jalan, roda tetap memutar dinamo. Dinamo tersebut masih dapat menghasilkan energi listrik melalui proses regenerative braking.

Jika baterai sudah tidak memiliki ruang yang cukup untuk menerima energi tambahan, arus hasil regenerasi tidak dapat diserap sebagaimana mestinya.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan tegangan atau overvoltage pada sistem.

Lonjakan tegangan tersebut dapat membebani komponen elektronik pada kontroler.

Dalam kondisi tertentu, tegangan berlebih bahkan berisiko merusak transistor MOSFET yang menjadi salah satu komponen penting dalam kontroler motor listrik.

Kerusakan pada komponen tersebut dapat membuat kontroler mengalami gangguan hingga rusak total.

Baca Juga: Status DTSEN Penyaluran Bansos Tahap 4 2026 hingga Rincian Bantuan Tambahan KPM

Karena itu, pengguna motor listrik yang hendak melewati jalur turunan panjang dari kawasan dataran tinggi disarankan tidak memenuhi baterai hingga kapasitas maksimal.

Kapasitas sekitar 85 hingga 90 persen dapat menyisakan ruang untuk menampung energi listrik tambahan yang dihasilkan regenerative braking selama perjalanan menurun.

Pemahaman terhadap karakter baterai, sistem BMS, kontroler, serta cara kerja rem regeneratif motor listrik menjadi penting agar teknologi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi tersebut tetap digunakan secara aman. (Raditya/Boash)

Editor : Yosep Awaludin
rem regeneratif motor listrik baterai