5 Mitos Mobil yang Masih Dipercaya, Ternyata Bisa Bikin Mesin Cepat Rusak

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 10:40 WIB
Pengemudi saat mengoperasikan area dasbor dan kunci kontak mobil. Kebiasaan menginjak gas saat mematikan mesin kini terbukti hanyalah mitos lama. (Foto: Google)
Pengemudi saat mengoperasikan area dasbor dan kunci kontak mobil. Kebiasaan menginjak gas saat mematikan mesin kini terbukti hanyalah mitos lama. (Foto: Google)

RADAR BOGOR – Sejumlah kebiasaan dalam merawat mobil masih kerap dilakukan karena mengikuti cara yang dipercaya sejak generasi sebelumnya.

Padahal, perkembangan teknologi otomotif membuat sebagian kebiasaan tersebut tidak lagi relevan, bahkan berpotensi menimbulkan masalah pada kendaraan.

Pemilik mobil perlu lebih cermat membedakan informasi yang benar dengan mitos otomotif yang sudah lama beredar.

Pasalnya, kesalahan dalam memperlakukan kendaraan dapat berdampak terhadap performa hingga menyebabkan kerusakan komponen dengan biaya perbaikan yang tidak sedikit.

Mengutip ulasan edukasi dalam segmen #MITOSFAKTA di kanal YouTube Dokter Mobil Indonesia, terdapat sejumlah anggapan mengenai kendaraan yang perlu diluruskan berdasarkan prinsip teknis dan cara kerja mesin modern.

Berikut beberapa mitos mobil yang masih sering dipercaya beserta fakta sebenarnya:

Baca Juga: Semarga Asian Kitchen Bogor, Restoran Keluarga dengan Menu Indonesia, Cina dan Thailand

1. Menginjak Pedal Gas Sebelum Mematikan Mesin Mobil Tua

Pengemudi pada era mobil lama mungkin masih mengenal kebiasaan menekan pedal gas dalam-dalam sebelum mematikan mesin.

Cara tersebut dipercaya dapat membuat sirkulasi oli bekerja maksimal sehingga komponen bagian atas mesin tetap mendapatkan pelumasan sebelum mesin berhenti.

Namun, anggapan tersebut tidak memiliki manfaat teknis seperti yang dipercaya selama ini. Mesin tidak perlu digas terlebih dahulu ketika hendak dimatikan.

Pemilik kendaraan cukup mematikan mesin secara normal tanpa perlu menginjak atau mengocok pedal gas terlebih dahulu.

2. Salah Memilih Oli Bisa Merusak Transmisi Manual

Mitos lain yang cukup berisiko berkaitan dengan penggunaan oli pada transmisi manual.

Ada anggapan bahwa oli mesin yang lebih encer, misalnya 10W-30, dapat digunakan sebagai pengganti oli transmisi manual atau Manual Transmission Oil (MTF).

Padahal, oli transmisi memiliki karakteristik dan formulasi yang berbeda dengan oli mesin.

Transmisi membutuhkan pelumas dengan tingkat kekentalan serta kandungan aditif yang sesuai agar mampu melindungi komponen gir ketika terjadi gesekan.

Contohnya, pada aplikasi tertentu digunakan oli dengan spesifikasi SAE 80W-90. Penggunaan oli mesin yang tidak sesuai dapat mengurangi perlindungan terhadap gir dan berpotensi mempercepat keausan hingga menyebabkan kerusakan pada komponen transmisi.

Karena itu, pemilik mobil sebaiknya selalu mengikuti spesifikasi oli yang direkomendasikan oleh produsen kendaraan.

Baca Juga: BOYNEXTDOOR Tembus Top Tours Billboard, Sejajar BTS dan SEVENTEEN

3. Mobil yang Pernah Overheat Pasti Akan Mengalami Overheat Lagi

Pernah mengalami overheat tidak berarti sebuah mobil akan selamanya memiliki masalah temperatur mesin. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Mobil dapat kembali mengalami panas berlebih apabila sumber masalah sebelumnya belum ditemukan dan diperbaiki secara menyeluruh.

Beberapa penyebab overheat antara lain kinerja extra fan yang melemah, radiator yang mengalami penyumbatan hingga kebocoran cairan pendingin atau coolant.

Jika sumber persoalan telah ditangani dengan tepat dan sistem pendingin kembali bekerja normal, mobil tidak otomatis akan mengalami overheat kembali.

4. Suhu Panas di Ruang Mesin Bisa Memengaruhi Usia Aki

Temperatur tinggi di area engine bay memang dapat berpengaruh terhadap usia pakai aki atau accumulator.

Paparan panas yang terus-menerus dapat membuat kinerja dan daya tahan aki menurun lebih cepat.

Karena itu, sejumlah kendaraan modern telah menggunakan perlindungan panas atau accumulator blanket untuk membantu mengurangi paparan temperatur tinggi terhadap aki.

Pada beberapa model mobil, produsen bahkan menempatkan aki di area bagasi yang memiliki kondisi temperatur lebih rendah dibandingkan ruang mesin.

5. Sering Menggunakan Sport Mode Bikin Mesin Cepat Rusak

Penggunaan Sport Mode pada mobil juga sering dikaitkan dengan anggapan bahwa mesin akan lebih cepat rusak karena bekerja pada putaran tinggi.

Padahal, fitur tersebut pada dasarnya dirancang untuk mengubah karakter pengaturan komputer kendaraan.

Baca Juga: 8 Hal Wajib Dicek Sebelum Beli Mobil Listrik Bekas, Jangan Cuma Lihat Harga

Salah satunya dengan menahan perpindahan gigi pada RPM yang lebih tinggi sehingga respons akselerasi kendaraan terasa lebih cepat.

Selama mesin dan seluruh komponen pendukungnya dirawat sesuai rekomendasi serta pelumas berada dalam kondisi baik, penggunaan Sport Mode tidak secara otomatis menyebabkan kerusakan mesin.

Memahami fakta di balik berbagai mitos otomotif menjadi hal penting bagi pemilik mobil.

Dengan mengetahui cara kerja kendaraan secara tepat, pemilik dapat menghindari kebiasaan perawatan yang sebenarnya tidak diperlukan sekaligus mengurangi risiko kerusakan komponen yang dapat menimbulkan biaya perbaikan besar.(Adi/Boash)

Editor : Yosep Awaludin
mobil otomotif kendaraan