RADAR BOGOR – Melihat indikator baterai mobil listrik turun hingga 1 persen tentu bisa membuat pengemudi panik, terlebih ketika posisi stasiun pengisian daya masih jauh.
Pertanyaannya, apakah mobil listrik benar-benar kehabisan energi ketika indikator baterai menunjukkan 0 persen?
Pada kondisi tersebut, mobil listrik memang pada akhirnya bisa kehilangan tenaga untuk bergerak.
Namun, angka 0 persen pada indikator tidak selalu berarti seluruh kapasitas baterai telah terkuras hingga benar-benar kosong.
Mengapa Baterai 0 Persen Tidak Selalu Kosong?
Mobil listrik modern dilengkapi Battery Management System (BMS) yang bertugas memantau sekaligus menjaga kondisi baterai.
Salah satu fungsi sistem tersebut adalah mencegah baterai mengalami pengosongan secara berlebihan.
Baca Juga: Sanju Coffee and Eatery Sirkuit Sentul: Bingsu Mulai Rp26.000-an
Untuk memberikan perlindungan, produsen kendaraan biasanya menyisakan sebagian kapasitas baterai sebagai cadangan.
Besaran kapasitas yang disimpan tersebut dapat berbeda antara satu produsen dan model kendaraan dengan lainnya.
Cadangan ini berfungsi mengurangi risiko kerusakan akibat deep discharge, yaitu kondisi ketika baterai dikosongkan terlalu dalam.
Dengan demikian, saat layar kendaraan menunjukkan angka 0 persen, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai batas bawah energi yang dapat digunakan pengemudi.
Bukan berarti seluruh sel baterai di dalam kendaraan sudah benar-benar kehilangan energi.
Tenaga Mulai Dibatasi Sebelum Baterai Mencapai Batas Akhir
Ketika kapasitas baterai semakin menipis, mobil listrik umumnya tidak langsung berhenti secara mendadak.
Sebelum mencapai batas bawah yang telah ditentukan sistem, BMS dapat mengurangi tenaga yang tersedia.
Pengemudi juga akan menerima berbagai peringatan seiring semakin rendahnya kapasitas baterai.
Pembatasan tersebut memiliki dua tujuan, yakni memberi kesempatan kepada pengemudi untuk segera mencari lokasi pengisian sekaligus melindungi baterai dari pengosongan berlebihan.
Jika daya akhirnya sudah mencapai batas minimum yang ditentukan sistem, motor listrik tidak lagi memperoleh energi yang cukup untuk menggerakkan kendaraan. Mobil akan kehilangan tenaga, melambat, kemudian berhenti.
Baca Juga: Bantuan Tambahan PIP bagi KPM Bansos PKH-BPNT hingga Persiapan Tahap 4
Mobil Berhenti, tetapi Tidak Semua Sistem Kelistrikan Mati
Mobil listrik yang sudah tidak dapat berjalan karena baterai habis bukan berarti seluruh sistem kelistrikannya langsung mati.
Sistem kelistrikan 12V yang digunakan untuk mendukung sejumlah fungsi kendaraan, seperti kunci pintu, lampu, hingga sistem infotainment, pada kondisi tertentu masih dapat bekerja.
Namun, baterai tegangan tinggi yang menjadi sumber tenaga utama motor listrik tidak lagi mampu menggerakkan kendaraan.
Artinya, mobil tidak dapat digunakan untuk melanjutkan perjalanan. Pengemudi membutuhkan pengisian daya atau bantuan untuk membawa kendaraan menuju lokasi pengisian.
Apa yang Terjadi Saat Mobil Kembali Dicas?
Kondisi mobil listrik yang sudah kehabisan daya juga dapat memengaruhi proses pengisian berikutnya.
Ketika kendaraan mulai mendapatkan suplai listrik, BMS dapat membatasi kecepatan pengisian pada tahap awal.
Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi baterai kembali stabil sebelum proses pengisian berjalan lebih optimal.
Temperatur baterai juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Dalam kondisi tertentu, seperti baterai yang terlalu dingin, sistem dapat lebih berhati-hati ketika menerima daya.
Sistem pengelolaan temperatur baterai bisa bekerja terlebih dahulu sebelum baterai menerima pengisian dengan daya yang lebih tinggi.
Hindari Kebiasaan Mengosongkan Baterai hingga 0 Persen
Walaupun mobil listrik memiliki sistem perlindungan baterai, pengemudi tetap sebaiknya tidak menjadikan kondisi 0 persen sebagai hal yang biasa.
Baca Juga: Dealer Merek Jepang Berguguran, Suzuki Justru Tambah Jaringan Jadi 362 Outlet
Baterai yang berulang kali mengalami pengosongan sangat dalam berpotensi mempercepat penurunan kondisinya dalam jangka panjang.
Semakin sering baterai menjalani siklus pengosongan dalam, semakin besar beban terhadap usia pakai baterai dibandingkan penggunaan dengan tingkat pengosongan yang lebih dangkal.
Karena itu, pengemudi sebaiknya memperhatikan peringatan kapasitas baterai dan mulai mencari lokasi pengisian sebelum daya masuk ke level kritis.
Baterai Habis di Jalan? Jangan Langsung Panik
Jika mobil listrik sampai berhenti karena kehabisan daya, kondisi tersebut tidak otomatis berarti baterai mengalami kerusakan.
Pengemudi dapat membutuhkan bantuan seperti pengisian daya darurat, mobile charging, atau layanan derek menuju stasiun pengisian.
Jenis bantuan yang tersedia tetap bergantung pada layanan yang disediakan dan ketentuan dari masing-masing produsen kendaraan.
Apabila mobil listrik berulang kali mengalami kondisi baterai habis hingga kendaraan berhenti, pemeriksaan oleh teknisi profesional juga disarankan.
Teknisi dapat mengecek data yang tersimpan dalam BMS sekaligus melihat kemungkinan adanya kode gangguan maupun masalah lain yang berkaitan dengan sistem baterai.
Jadi, Apa Arti 0 Persen pada Mobil Listrik?
Indikator 0 persen pada mobil listrik tidak serta-merta berarti seluruh energi di dalam baterai benar-benar kosong.
Sistem BMS dirancang untuk memberikan perlindungan sekaligus menyisakan kapasitas tertentu agar baterai terhindar dari pengosongan yang terlalu dalam.
Baca Juga: Sinopsis Film Gak Ada Matinya, Ayah Dikira Meninggal Malah Hidup Lagi
Meski demikian, kondisi tersebut tetap tidak sebaiknya dijadikan kebiasaan. Membiarkan baterai mencapai level sangat rendah berisiko membuat kendaraan berhenti di tengah perjalanan dan jika dilakukan berulang dapat berkontribusi terhadap degradasi baterai dalam jangka panjang.
Karena itu, pengemudi mobil listrik sebaiknya memperhatikan peringatan kapasitas baterai, memperhitungkan jarak perjalanan, serta merencanakan lokasi pengisian sebelum daya benar-benar habis. (Fauzan Kaifah/MG)
Editor : Yosep Awaludin