RADAR BOGOR - Pada era 2000-an, mobil MPV 7 seater seperti Honda Odyssey dan Honda Stream sedang berada di masa keemasan.
Mitsubishi tidak mau ketinggalan dan menghadirkan Mitsubishi Grandis di Indonesia pada 2005.
Sayangnya, mobil ini kalah saing dari Honda Odyssey sehingga kurang populer. Kini, justru itulah yang membuat harga bekasnya jauh lebih menarik.
Artikel ini membahas sejarah, desain, mesin, interior, kenyamanan, dan harga Mitsubishi Grandis.
Baca Juga: Mazda 2 Non Skyactiv, Apakah Hatchback yang Masih Layak di 2026?
Sejarah Singkat Mitsubishi Grandis
Di Jepang, Grandis sudah dijual sejak 2003 sebagai penerus Mitsubishi Chariot yang sudah ada sejak 1983.
Mitsubishi tidak lagi memakai nama Chariot karena mobil penerusnya sangat berbeda, mulai dari sasis, desain, hingga dimensi yang lebih besar. Kasusnya mirip dengan Toyota Kijang dan Toyota Innova di Indonesia.
Di Indonesia, Grandis dijual dari 2005 sampai 2012 dan mendapat satu kali facelift pada 2008. Pilihan tipenya ada dua, yaitu GLS dan GT (Grand Touring).
Baca Juga: Mau Perjalanan Jauh Naik Mobil? Cek 8 Komponen Ini Sebelum Berangkat agar Tak Mogok
Desain Eksterior: Elegan tetapi Segmented
Alasan pertama mengapa Grandis kalah dari Honda Odyssey adalah desainnya. Tampilannya bagus, tetapi cukup segmented dan belum tentu disukai semua orang.
Odyssey terlihat lebih normal dan sporty, mendekati wagon.
Sementara Grandis mengarah ke MPV dengan tampilan elegan. Hal ini wajar karena desainernya pernah bekerja di Mercedes-Benz.
Baca Juga: Pedal Persneling Motor Tiba-Tiba Lemas dan Tak Kembali? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Perbedaan tipe GLS dan GT mudah dikenali:
GLS: tampilan lebih polos tanpa body kit, pelek ring 16.
GT: body kit dari depan hingga belakang, overfender di samping, aksen berbeda pada grill, pelek ring 17 dengan desain berbeda.
Selebihnya hampir sama. Lampu depannya tajam, garis bodi samping melengkung dari depan ke belakang, dan lampu belakang vertikal yang khas mobil era 2000-an. Lampu belakangnya sudah LED, kecuali lampu sein dan lampu mundur.
Baca Juga: Honda HRC Pakai Livery Red Bull di MotoGP 2027, Tampilannya Mirip KTM?
Fitur eksterior lainnya meliputi sensor parkir depan dan belakang, roof spoiler dengan third brake lamp, serta wiper dan rear defogger di kaca belakang. Aksen krom tergolong sedikit, hanya ada di handle pintu dan garnish belakang.
Mesin dan Konsumsi BBM
Grandis memakai mesin 4G69 berkapasitas 2.400 cc SOHC 4 silinder segaris 16 valve dengan teknologi MIVEC.
Mesin ini hampir sama dengan yang dipakai Mitsubishi Lancer, hanya berbeda kode. Tenaganya sekitar 162 hp pada 6.000 rpm dan torsi 217 Nm pada 4.000 rpm.
Baca Juga: Mika Lampu Kabut Mitsubishi Panther Pecah? Ini Cara Memperbaikinya
Transmisinya otomatis 4 percepatan dengan fitur Tiptronic dan teknologi INVECS-II. Tenaganya terasa cukup, bukan yang meledak-ledak, karena bodinya lebih berat dari Lancer.
Konsumsi BBM juga tidak irit, sekitar 1:7 km/liter untuk penggunaan dalam kota dengan rute kombinasi.
Interior: Biasa Saja tetapi Fungsional
Alasan kedua orang lebih memilih Odyssey ada di interior. Dashboard Odyssey terlihat lebih modern dan futuristis, bahkan tipe atasnya memakai sunroof. Interior Grandis terkesan biasa saja, tetapi tetap fungsional.
Baca Juga: Mesin Yamaha RX-King Bunyi Kasar dan Loyo? Ini Bagian yang Wajib Dicek Warga Bogor
Interiornya punya dua tema: dominan beige untuk GLS dan dominan hitam untuk GT. Keduanya memakai jok kulit.
Fitur interior yang tersedia:
- Power window auto di keempat pintu
- Pengaturan spion elektrik dan saklar fog lamp di sisi kanan setir
Baca Juga: Jangan Asal Pasang, Ini Cara Pasang Blok Piston dan Head Yamaha Vixion yang Benar
- Setir polos yang bisa diganti setir Pajero Sport atau Xpander agar lebih lengkap, bahkan bisa ditambah cruise control dan paddle shift (perlu modifikasi)
- Instrumen analog sederhana
- Head unit single din pada model awal dan double din setelah facelift 2008
- AC auto climate control, dengan kisi AC sampai baris ketiga
- Tuas transmisi di dashboard
- Rem tangan di tengah pada model awal, dan berpindah ke pedal kaki setelah facelift 2008 sehingga akses ke baris belakang lebih lega
Baca Juga: Tarikan Mobil Terasa Berat dan Boros BBM? 5 Cara Ini Wajib Dicoba Warga Bogor
Salah satu nilai jual Grandis adalah ruang penyimpanannya yang banyak. Di baris kedua, setiap pintu bahkan punya dua cup holder yang bertumpuk.
Legroom dan headroom cukup lega di semua baris, meskipun baris ketiga masih lebih lega di Honda Odyssey. Bagasinya cukup besar untuk MPV 7 seater, dan bisa rata lantai jika baris ketiga dilipat.
Rasa Berkendara
Posisi duduk Grandis lebih tinggi sehingga visibilitasnya sedikit lebih baik daripada Honda Odyssey.
Baca Juga: Setang Motor Goyang dan Seret? Warga Bogor Wajib Tahu 3 Ciri Komstir Rusak
Posisi mengemudinya ergonomis dengan setir tilt dan arm rest di sisi kiri pengemudi. Joknya empuk sehingga tidak melelahkan untuk perjalanan jauh. Baris kedua nyaman diisi tiga orang, atau dua orang dengan bagian tengah sebagai arm rest.
Handling-nya tidak setajam mobil Mitsubishi lain, wajar untuk MPV 7 seater. Suspensinya empuk tetapi agak kaku, bahkan lebih kaku dari Odyssey.
Keunggulannya, saat terisi penuh tujuh orang, Grandis tidak limbung, berbeda dengan Odyssey yang disebut cenderung limbung. Kekedapan kabinnya juga cukup baik.
Baca Juga: House Kopling Motor Oblak Bikin Tenaga Loyo? Warga Bogor Wajib Kenali Gejala dan Solusinya
Fitur Keselamatan
- Rem cakram depan dan belakang
- ABS dan EBD
- Dua airbag depan
- Sensor parkir depan dan belakang
Baca Juga: Motor Bermasalah? Warga Bogor Wajib Paham Istilah Bengkel Ini Sebelum Servis
Harga Bekas dan Pajak
Meski satu kelas dengan Honda Odyssey, harga Grandis bekas sekarang jauh lebih rendah. Tipe GT pasarannya masih lebih tinggi dari GLS, di kisaran Rp80 jutaan ke atas.
Sebagai perbandingan, Honda Odyssey bahkan untuk versi lama harganya jauh lebih mahal. Pajak tahunan Grandis sekitar Rp2 sampai 3 jutaan, bergantung pada tahun, daerah, dan kepemilikan.***
Editor : Eli KustiyawatiSumber : YouTube Wahyu Ekoo