RADAR BOGOR – Pengguna mobil listrik perlu lebih waspada saat berkendara pada musim hujan, terutama ketika menghadapi jalanan yang tergenang air.
Meski mobil listrik modern dilengkapi sistem perlindungan pada baterai dan komponen kelistrikannya, bukan berarti mobil bisa menerobos banjir tanpa mempertimbangkan batas kemampuan kendaraan.
Kekhawatiran mengenai risiko korsleting akibat air yang mengenai baterai maupun motor penggerak masih kerap muncul di kalangan pemilik mobil listrik atau Electric Vehicle (EV).
Padahal, komponen utama mobil listrik modern telah dirancang dengan sistem perlindungan tertentu untuk menghadapi paparan air dan debu.
Mengutip ulasan edukasi teknis di kanal YouTube Valtra BYD, perlindungan pada komponen kelistrikan menjadi salah satu aspek penting dalam desain mobil listrik.
Namun, kemampuan menghadapi air tetap bergantung pada spesifikasi kendaraan, kondisi komponen, serta tingkat dan lamanya kendaraan terpapar genangan.
Baca Juga: et al Coffee Yasmin, Tempat Nongkrong di Bogor yang Bisa Jadi Pilihan untuk Bersantai
Karena itu, pengemudi perlu memahami sejumlah hal sebelum memutuskan melintasi jalan yang tergenang air.
Berikut panduan yang perlu diperhatikan saat menggunakan mobil listrik dalam kondisi hujan deras maupun menghadapi potensi banjir.
1. Memahami Standar Perlindungan Baterai Mobil Listrik
Salah satu komponen penting pada mobil listrik adalah battery pack atau paket baterai yang menyimpan energi untuk menggerakkan kendaraan.
Komponen ini umumnya dirancang dengan rumah baterai tertutup serta perlindungan terhadap paparan air dan debu sesuai spesifikasi masing-masing model.
Salah satu kode perlindungan yang sering dibahas adalah IP67. Kode tersebut menunjukkan bahwa suatu komponen memiliki perlindungan terhadap debu dan mampu bertahan dalam kondisi perendaman air sesuai parameter pengujian standar.
Pada perangkat yang telah memenuhi standar IP67, angka 6 menunjukkan perlindungan terhadap masuknya debu, sedangkan angka 7 menunjukkan ketahanan terhadap perendaman air dalam kondisi pengujian tertentu.
Meski demikian, sertifikasi IP67 tidak otomatis berlaku untuk seluruh komponen pada semua mobil listrik.
Pengemudi perlu memeriksa spesifikasi resmi kendaraan untuk mengetahui tingkat perlindungan baterai, konektor, kabel tegangan tinggi (high-voltage), dan komponen lainnya.
Dengan demikian, keberadaan sistem perlindungan tersebut bukan berarti mobil listrik sepenuhnya kebal terhadap banjir.
Kondisi segel, usia kendaraan, kerusakan akibat benturan, serta paparan air yang melebihi batas pengujian tetap dapat memengaruhi tingkat keamanannya.
Baca Juga: Jamin Keselamatan Juru Parkir, Pemkot Bogor Beri BPJS Ketenagakerjaan
2. Perhatikan Ketinggian dan Kondisi Genangan Air
Meskipun baterai dan komponen kelistrikan dirancang dengan sistem perlindungan, pengemudi mobil listrik tetap harus berhati-hati ketika berhadapan dengan genangan air.
Ketinggian air yang mencapai setengah roda ban, sekitar 30–40 sentimeter, terkadang disebut sebagai gambaran batas genangan yang perlu diwaspadai.
Namun, angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan aman untuk semua jenis mobil listrik.
Batas kemampuan melewati genangan berbeda-beda, tergantung desain kendaraan, jarak terendah dari permukaan jalan (ground clearance), posisi komponen kelistrikan, serta rekomendasi pabrikan.
Durasi kendaraan berada di dalam air juga tidak bisa disamaratakan menjadi batas aman 30 menit.
Semakin lama kendaraan terpapar air, semakin besar pula kemungkinan air masuk melalui bagian yang tidak dirancang untuk terendam dalam waktu lama.
Karena itu, pengemudi sebaiknya tidak memaksakan diri melewati genangan yang dalam, arus air yang deras, atau jalan yang ketinggian permukaannya tidak terlihat.
Jika kedalaman air tidak diketahui, pilihan paling aman adalah mencari jalur alternatif.
Selain berisiko terhadap komponen kendaraan, genangan juga dapat menyembunyikan lubang jalan, mengurangi traksi ban, serta menyulitkan pengemudi memperkirakan kondisi permukaan jalan.
3. Langkah Darurat Jika Mobil Terjebak di Tengah Genangan
Situasi berbahaya dapat terjadi ketika mobil listrik terjebak kemacetan di tengah genangan yang terus meninggi.
Baca Juga: Nako Arena Bogor Perkenalkan Konsep Tropical Vibes, Siapkan Olahraga Gratis untuk Warga
Dalam kondisi seperti ini, keselamatan pengemudi dan penumpang harus menjadi prioritas utama.
Jika situasi masih memungkinkan dan jalur menuju tempat yang lebih tinggi aman dilalui, pengemudi dapat mengarahkan kendaraan menjauh dari genangan.
Namun, jangan memaksakan mobil bergerak apabila air sudah tinggi, arus deras, atau kondisi jalan tidak memungkinkan.
Apabila kendaraan terjebak dan air terus naik, segera hubungi layanan darurat setempat jika diperlukan.
Pengemudi dan penumpang sebaiknya keluar menuju tempat yang lebih tinggi hanya apabila tindakan tersebut aman dilakukan.
Untuk penanganan kendaraan, ikuti petunjuk dalam buku manual dan hubungi pusat layanan resmi pabrikan atau layanan derek yang memahami kendaraan listrik.
Jangan membuka, mencabut, atau memanipulasi soket pemutus arus darurat (emergency cut-off switch) maupun komponen tegangan tinggi tanpa petunjuk resmi dan kompetensi teknis yang sesuai.
Tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko sengatan listrik dan membahayakan keselamatan.
Pemeriksaan oleh teknisi diperlukan untuk memastikan kondisi baterai, konektor, sensor, serta sistem kelistrikan sebelum kendaraan kembali digunakan.
4. Jangan Langsung Menyalakan Mobil Listrik yang Terendam Banjir
Hal penting lainnya adalah menghindari upaya menyalakan kembali mobil listrik yang sempat terendam banjir, termasuk ketika kendaraan dalam kondisi terparkir dan tidak beroperasi.
Baca Juga: Ariel Tatum dan Menjadi Manusia Buka 100 Sesi Konseling Gratis, Simak Informasinya
Air yang masuk ke bagian tertentu berpotensi mengganggu sistem elektronik, konektor, sensor, maupun modul kontrol kendaraan.
Kerusakan tidak selalu langsung terlihat dari luar, sehingga kondisi mobil perlu diperiksa terlebih dahulu.
Jika mobil listrik terendam banjir, jangan mencoba menyalakan kendaraan atau mengisi daya baterai sebelum mendapat pemeriksaan dari teknisi yang kompeten.
Pemilik kendaraan juga sebaiknya tidak melakukan pembongkaran baterai maupun sistem kelistrikan tegangan tinggi secara mandiri.
Penanganan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko sengatan listrik, korsleting, hingga masalah keselamatan lainnya.
Segera hubungi layanan resmi pabrikan untuk mendapatkan petunjuk evakuasi. Kendaraan dapat dibawa menggunakan metode derek yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan agar tidak menimbulkan kerusakan tambahan pada sistem penggerak.
Selanjutnya, teknisi akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap baterai, sistem kelistrikan, konektor, dan komponen lain yang berpotensi terdampak air.
Prosedur pengeringan maupun perbaikan harus mengikuti metode yang ditentukan oleh pabrikan.
Memahami karakteristik mobil listrik dan menerapkan langkah pencegahan menjadi bagian penting dari keselamatan berkendara pada musim hujan.
Baca Juga: 5 Cara Menghemat Baterai Mobil Listrik, Teknik Eco-Driving Bikin Jarak Tempuh Lebih Jauh
Pengemudi sebaiknya tidak hanya mengandalkan anggapan bahwa baterai kendaraan telah kedap air, tetapi juga memperhatikan kondisi jalan, kedalaman genangan, dan petunjuk keselamatan dari pabrikan.
Dengan mengenali batas kemampuan kendaraan serta mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi banjir, risiko kerusakan mobil listrik maupun bahaya bagi pengemudi dan penumpang dapat diminimalkan. (Adi/Boash)
Editor : Yosep Awaludin