Charger AC vs DC pada Mobil Listrik, Mana yang Lebih Cepat Mengisi Baterai?

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08:20 WIB
Ilustrasi pengisian baterai AC dan DC pada mobil listrik. (Foto:.evb.com )
Ilustrasi pengisian baterai AC dan DC pada mobil listrik. (Foto:.evb.com )

RADAR BOGOR – Memilih metode pengisian baterai yang tepat menjadi salah satu hal penting bagi pemilik mobil listrik.

Ada dua jenis pengisian daya yang umum digunakan pada mobil listrik, yakni charger AC (Alternating Current) dan DC (Direct Current). 

Keduanya memiliki karakteristik berbeda, terutama dari segi cara kerja, kecepatan pengisian, hingga biaya penggunaan.

Perbedaan charger AC dan DC pada mobil listrik perlu dipahami agar pengguna dapat menyesuaikan metode pengisian dengan kebutuhan sehari-hari.

Charger AC biasanya menjadi pilihan untuk mengisi baterai di rumah atau tempat kerja, sedangkan charger DC lebih banyak dimanfaatkan ketika membutuhkan pengisian daya dalam waktu singkat, khususnya saat perjalanan jauh.

Lantas, bagaimana cara kerja charger AC dan DC, serta apa saja kelebihan dan kekurangan masing-masing?

Baca Juga: 10 Tips Isi BBM Mobil agar Irit dan Kebiasaan yang Harus Dihindari

Berikut penjelasannya, dirangkum dari informasi yang dikutip melalui situs kia.com.

Mengenal AC dan DC pada Mobil Listrik

AC atau Alternating Current merupakan arus bolak-balik, yaitu arus listrik yang arah alirannya berubah secara berkala.

Jenis arus ini digunakan pada jaringan listrik yang memasok kebutuhan rumah tangga, perkantoran, dan berbagai bangunan lainnya.

Sementara itu, DC atau Direct Current adalah arus searah yang mengalir dalam satu arah.

Baterai mobil listrik menyimpan energi dalam bentuk arus DC sehingga listrik yang digunakan untuk mengisi baterai harus tersedia dalam bentuk arus tersebut.

Perbedaan mendasar inilah yang membuat proses pengisian daya menggunakan charger AC dan DC memiliki mekanisme berbeda.

Perbedaan cara konversi listrik tersebut juga berpengaruh terhadap kecepatan pengisian baterai kendaraan.

Cara Kerja Charger AC pada Mobil Listrik

Charger AC menyalurkan listrik dari jaringan dalam bentuk arus bolak-balik menuju kendaraan.

Sebelum energi disimpan di baterai, arus AC tersebut harus dikonversi menjadi arus DC menggunakan komponen yang disebut on-board charger.

Komponen ini terpasang di dalam mobil listrik dan bertugas mengubah arus listrik agar sesuai dengan kebutuhan baterai.

Baca Juga: Bansos Tahap 4 Belum Cair, Ini Jawaban Soal Pelanggaran dan BLT Kesra

Oleh karena itu, kecepatan pengisian menggunakan charger AC tidak hanya bergantung pada daya perangkat pengisi daya, tetapi juga pada kapasitas on-board charger yang dimiliki kendaraan.

Pengisian AC banyak digunakan untuk kebutuhan rutin karena dapat dilakukan di rumah maupun tempat kerja.

Metode ini cocok bagi pemilik mobil yang bisa mengisi baterai ketika kendaraan tidak digunakan selama beberapa jam.

Kelebihan Charger AC

Charger AC memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya praktis untuk penggunaan sehari-hari.

  1. Mudah digunakan untuk kebutuhan rutin. Charger AC dapat dimanfaatkan untuk mengisi baterai mobil listrik di rumah atau tempat kerja.

  2. Pemasangan relatif lebih terjangkau. Biaya instalasi charger AC umumnya lebih rendah dibandingkan perangkat pengisian DC berdaya tinggi.

  3. Cocok untuk pengisian dalam waktu lama. Pengisian dapat dilakukan ketika mobil diparkir selama berjam-jam, misalnya pada malam hari.

  4. Praktis untuk penggunaan harian. Pengemudi dapat mengisi baterai ketika mobil tidak sedang digunakan tanpa harus meluangkan waktu khusus untuk mengunjungi SPKLU.

Meski demikian, kelemahan utama charger AC terletak pada durasi pengisian yang cenderung lebih lama dibandingkan charger DC.

Sebagai gambaran, mobil listrik yang mendukung pengisian AC hingga 11 kW dapat membutuhkan waktu beberapa jam untuk mengisi baterai sampai penuh.

Baca Juga: KKS Baru Cair Dobel Rp1,2 Juta? Ini Penyebab dan Cek Faktanya

Durasi sebenarnya bergantung pada kapasitas baterai, daya pengisian yang tersedia, kondisi baterai, serta batas kemampuan pengisian kendaraan.

Karena itu, charger AC lebih ideal digunakan ketika mobil memiliki waktu parkir yang cukup panjang.

Cara Kerja Charger DC atau Fast Charging

Berbeda dengan charger AC, perangkat pengisian DC melakukan konversi arus listrik di dalam unit charger sebelum energi dialirkan ke baterai mobil listrik.

Dengan mekanisme tersebut, proses konversi tidak mengandalkan on-board charger untuk mengubah arus AC menjadi DC.

Charger DC dapat menyalurkan daya yang lebih besar, selama didukung oleh kemampuan perangkat, kendaraan, dan kondisi baterai.

Teknologi ini dikenal sebagai DC fast charging atau pengisian cepat. Fasilitas tersebut umumnya tersedia di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan banyak dimanfaatkan oleh pengemudi yang membutuhkan tambahan daya selama perjalanan.

Baca Juga: Bansos Cair 16 Oktober 2026: KKS Himbara Ini yang Sudah Masuk

Kelebihan Charger DC

Keunggulan utama charger DC adalah kemampuannya mengisi baterai dalam waktu relatif lebih singkat dibandingkan charger AC.

Sejumlah perangkat DC fast charging memiliki daya sekitar 50 kW. Sementara itu, pengisi daya berdaya tinggi tersedia dengan kapasitas lebih dari 350 kW, bergantung pada spesifikasi fasilitas yang digunakan.

Meski demikian, daya maksimum charger tidak otomatis menjadi daya pengisian yang diterima setiap mobil.

Kemampuan pengisian kendaraan, tingkat baterai, dan pengelolaan suhu dapat memengaruhi daya aktual serta durasi pengisian.

Charger DC lebih sesuai digunakan dalam beberapa kondisi berikut:

  1. Saat melakukan perjalanan jarak jauh.
  2. Ketika membutuhkan tambahan daya dalam waktu singkat.
  3. Saat berhenti di SPKLU untuk beristirahat sejenak.
  4. Ketika ingin mengurangi waktu tunggu selama perjalanan.
  5. Saat fasilitas pengisian AC tidak memungkinkan untuk digunakan dalam waktu lama.

Dengan kecepatan pengisian yang lebih tinggi, charger DC dapat membantu pengemudi melanjutkan perjalanan tanpa harus menunggu selama pengisian AC.

Kekurangan Charger DC

Di balik keunggulannya, charger DC juga memiliki sejumlah keterbatasan. Biaya pembangunan, pemasangan, dan pengoperasian perangkat DC fast charging umumnya lebih tinggi dibandingkan charger AC.

Perbedaan biaya tersebut dapat memengaruhi tarif pengisian yang dikenakan kepada pengguna di sejumlah SPKLU.

Baca Juga: Usai Rapat Kabinet di Istana Bogor, Menteri Maruar Sirait: Bersyukur 2 Tahun Kerja

Selain itu, pengisian cepat dapat menghasilkan panas lebih tinggi pada baterai dibandingkan pengisian berdaya rendah dalam kondisi tertentu.

Penggunaan fast charging secara intensif juga perlu disesuaikan dengan rekomendasi produsen kendaraan.

Meski demikian, dampaknya terhadap baterai tidak semata-mata ditentukan oleh jenis charger.

Sistem pengelolaan baterai, pengaturan suhu, kondisi baterai, dan pola pengisian turut memengaruhi kesehatan baterai dalam jangka panjang.

Karena itu, pemilik mobil listrik sebaiknya menggunakan charger DC sesuai kebutuhan serta mengikuti petunjuk pengisian yang ditetapkan oleh produsen kendaraan.

Lebih Baik Charger AC atau DC untuk Mobil Listrik?

Memilih antara charger AC dan DC sebaiknya disesuaikan dengan pola penggunaan kendaraan.

Keduanya memiliki fungsi berbeda sehingga tidak ada satu jenis charger yang selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua kondisi.

Bagi pemilik mobil listrik yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas harian, charger AC dapat menjadi pilihan praktis.

Pengisian bisa dilakukan di rumah atau tempat kerja ketika mobil tidak digunakan selama beberapa jam.

Sebaliknya, charger DC lebih tepat ketika pengemudi membutuhkan pengisian cepat, terutama saat bepergian jauh atau ketika waktu berhenti di SPKLU terbatas.

Baca Juga: Momen Menteri Zulhas hingga Nasaruddin Umar Jalan Kaki Usai Rapat Kabinet di Istana Bogor

Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dirangkum sebagai berikut:

Pemilik mobil listrik juga perlu memperhatikan spesifikasi kendaraan sebelum memilih perangkat pengisian.

Tidak semua mobil mendukung daya pengisian yang sama, sehingga kemampuan charger perlu disesuaikan dengan batas maksimum yang dapat diterima kendaraan.

Dengan memahami perbedaan charger AC dan DC pada mobil listrik, pengguna dapat menentukan metode pengisian yang lebih sesuai dengan kebutuhan, mengatur waktu pengisian secara efisien, serta menjaga penggunaan baterai tetap mengikuti rekomendasi pabrikan. (Fauzan Kaifah/MG)

Editor : Yosep Awaludin
charger mobil listrik baterai