Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Lolos UTBK SNBT Masih Bisa Ikut Ujian Mandiri Loh, Ternyata Tahun Ini Vokasi Jadi Primadona

Lucky Lukman Nul Hakim • Jumat, 14 Juni 2024 | 07:56 WIB

Tes UTBK di kampus IPB University Dramaga Bogor Selasa (7/5/2024).
Tes UTBK di kampus IPB University Dramaga Bogor Selasa (7/5/2024).


RADAR BOGOR – Sebanyak 232.204 peserta dinyatakan lolos dalam ujian tulis berbasis komputer untuk Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK SNBT) masuk PTN 2024.

Dalam seleksi tahun ini, program studi (prodi) vokasi sukses mencuri perhatian.

Hasil seleksi UTBK SNBT 2024 ini diumumkan Kamis (13/6) melalui laman https://pengumuman-snbt-snpmb.bppp.kemdikbud.go.id.

Termasuk 41 link PTN-PTN mirror lainnya yang tergabung dalam SNBT.

Tercatat, hanya 232.204 orang peserta yang dinyatakan lolos dalam UTBK SNBT 2024.

Artinya, masih ada sisa kuota 41.144 yang belum terisi.

Ganefri menegaskan, ketidakterisian kuota ini lantaran ada prodi-prodi yang sepi peminat bahkan nol pendaftar.

Ini terjadi untuk prodi-prodi seni dan bahasa, terutama di daerah-daerah Indonesia Timur.

”Yang memilih prodi itu, kuotanya nggak terpenuhi. Coba bayangin di ISBI Papua itu ada prodi nggak ada yang milih. Jadi, daya tampung itu yang sisa itu bukan tidak terpenuhi tapi pendaftarnya nggak ada,” tuturnya ditemui usai konferensi pers pengumuman hasil SNBT 2024, di Jakarta, Kamis (13/6).

Lalu, kemana sisa kuota ini nantinya?

Menurutnya, sisa kuota akan dialihkan ke jalur mandiri.

Nantinya pun, peserta yang lolos UTBK SNBT ini dibolehkan untuk mengikuti seleksi jalur mandiri.

Dengan syarat, belum melakukan daftar ulang, yang mulai dibuka pada 14-30 Juni 2024.

Adapun dalam proses verifikasi data akademik dan registrasi ulang ini, peserta yang dinyatakan lolos seleksi jalur SNBT wajib memenuhi ketentuan.

Salah satunya, memperlihatkan ijazah/ SKL (Surat Keterangan Lulus) asli, rapor asli serta persyaratan lainnya yang ditetapkan oleh perguruan tinggi.

Kemudian, bagi peserta lolos pelamar Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), selain verifikasi data akademik, juga akan dilakukan verifikasi data ekonomi berdasarkan dokumen dan/atau kunjungan ke alamat tinggal peserta.

Ganefri berdalih, dibukanya kesempatan ini sebagai upaya dalam mengakomodir minat dan aspirasi karir dari para siswa yang mungkin dalam hasil SNBT tidak sesuai yang diinginkan.

”Yang lolos UTBK tapi dia mendaftar ulang, tidak boleh (ikut seleksi mandiri, red). Namun kalau dia belum daftar ulang, bisa (ikut seleksi mandiri, red),” ungkapnya.

Angka ini jauh dari pilihan yang ada di PTN vokasi, yakni 89.147 orang untuk D3 dan 75.200 di D4.

”Ini menggembirakan, karena banyak yang memilih vokasi. Meski anak-anak kita sepertinya masih melihat rumahnya. Istilahnya kalau naik pesawat biarlah duduk di belakang asal Garuda,” paparnya.

Tak hanya itu, kejutan lain terlihat dari prodi-prodi yang memiliki keketatan tinggi.

Dari 20 prodi dengan tingkat keketatan tertinggi, semuanya merupakan prodi vokasi.

Sebut saja prodi Farmasi (D3) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang memiliki ketetatan hingga 0,50.

Yang artinya, dari 100 pendaftar hanya satu orang yang diterima.

Kabar baik lainnya, dalam hal skor UTBK-SNBT 2024 ini, diketahui bahwa
selisih skor rerata UTBK tahun 2024 antara calon mahasiswa jenjang sarjana dan calon mahasiswa jenjang Diploma Tiga lebih kecil daripada selisih skor pada tahun 2023.

Tahun ini, skor rerata paling besar dipegang oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan hasil 718,73.

Sementara untuk PTN Vokasi, rerata skor tertinggi sebesar 610,03 di Politeknik Negeri Bandung.

Ia turut menyoroti soal hasil tes peserta dari sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka.

Pada seleksi tahun ini, jumlah peserta dari lulusan Kurikulum Merdeka ini memang tak sebanyak peserta dari lulusan sekolah Kurikulum 2013 (K-13).

Di mana, untuk peserta K-13 sebanyak 1.482.167 peserta sementara Kurikulum Merdeka hanya 107.114 peserta untuk jenjang SMA.

Sama halnya dengan lulusan SMK, dari SMK yang menerapkan K-13, jumlah peserta mencapai 272.934 orang sementara peserta dari sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka sebanyak 105.683 orang.

Kendati demikian, rerata skor UTBK-SNBTnya lebih tinggi peserta dari lulusan sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka daripada K-13.

Meski selisihnya tak terlalu besar. Yakni lulusan K-13 untuk jenjang SMA skornya sebesar 548,98 dan lulusan Kurikulum Merdeka sebesar 557,33.

”Meskipun secara persentase penerimaan siswa alumni Kurikulum Merdeka sedikit lebih rendah namun rerata skor UTBK dari lulusan sekolah Kurikulum Merdeka lebih tinggi. Penerimaan ini juga berkaitan dengan keketatan prodi ya,” jelasnya.

Capaian ini pun disambut hangat oleh Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo.

Dia menilai, sudah mulai terlihat sinkronisasi antara program Kurikulum Merdeka dengan tes seleksi masuk PTN yang kini tak lagi berbasis hafalan.

Melainkan mengedepankan critical thinking.

Diakuinya, butuh waktu untuk mengubah mindset atau cara berpikir maupun praktik pembelajaran berbasis hafalan yang sudah terbentuk bertahun-tahun.

Karenanya, dibuatlah skenario di mana salah satu instrumen paling kuat, paling berdampak untuk membantu mengubah itu melalui aturan seleksi masuk PTN.

”Karena itu kita mengubah secara mendasar di UTBK sejak 2 tahun lalu,” ungkapnya.

Dia optimis, lambat laun, para guru di SMA dapat melihat hasil nyata dari Kurikulum Merdeka.

Bahwa, yang belajarnya bukan orientasi hafalan, tapi untuk mengasah daya nalar literasi dan numerasi itu bisa mendapat kesempatan lebih tinggi probabilitasnya masuk ke PTN.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek) Kemendikbudristek Abdul Haris mengapresiasi masyarakat yang cukup besar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Ini terlihat dari peningkatan jumlah peserta, yang mana di tahun ini mencapai 785 ribu. Meski, kuota di seleksi jalur ini masih terbatas.

Oleh karenanya, dia mengimbau, para peserta yang tak lolos seleksi UTBK-SNBT tidak berkecil hati.

Masih ada seleksi jalur mandiri yang bisa diikuti.

”Tapi tidak perlu mengendurkan usaha apalagi putus asa. Masih ada jalur mandiri,” tegasnya.

Selain itu, masih ada peluang untuk masuk di perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada di Indonesia.

Diakuinya, angka partisipasi kasar (APK) di perguruan tinggi masih minim. Masih berada di angka 31,45 persen.

Yang artinya, mayoritas anak-anak usia sekolah tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Dalam merespon hal ini, pihaknya pun terus melakukan berbagai upaya agar angka ini bisa terus naik. Salah satunya, dengan mempersiapkan program baru yakni pre university.

Sementara itu, disinggung soal UKT untuk camaba lulusan SNBT, Haris menekankan bahwa tidak ada kenaikan UKT untuk mereka, sama halnya dengan lulusan SNBP sebelumnya.

Sebab, perguruan tinggi telah diminta untuk kembali menggunakan penetapan UKT yang lama dan sesuai Permendikbud 2/2024.

Saat ini, seluruh perguruan tinggi telah mengajukan besaran UKT dan IPI barunya.

Meski dipastikan tidak ada kenaikan, namun bakal ada penyesuaian khususnya di IPI.

Haris tidak merinci. Dirinya hanya menyebut saat ini proses pengkajian tengah berlangsung.

”Pada intinya tidak ada kenaikan. Ada penyesuaian tapi tidak naik. Artinya kalau kita kan ada batas minimal, UKT 1, UKT 2, plus yang maksimal. Maksimalnya tidak akan lebih besar atau sesuai dengan tahun 2023,” pungkasnya.

Disinggung soal progress pengembalian kelebihan pembayaran UKT pada camaba lulusan SNBP, Guru Besar Universitas Indonesia itu mengatakan hal itu diserahkan ke masing-masing pihak perguruan tinggi.

Namun, tetap dalam pengawasan Ditjen Diktiristek. (mia)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#vokasi #SNBT #utbk #ptn