Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengajarkan Sedari Dini, Ini Cerita Aktivisme Lingkungan Ala Pesantren Misykat Al Anwar Bogor

Fikri Rahmat Utama • Jumat, 21 Juni 2024 | 20:13 WIB
Sejumlah santri mengikuti kegiatan sekolah ekologi  di pesantren Misykat Al -Anwar dikampung carangpulang desa Cikarawang, Dramaga Bogor,  Kamis (20/6-20245).
Sejumlah santri mengikuti kegiatan sekolah ekologi di pesantren Misykat Al -Anwar dikampung carangpulang desa Cikarawang, Dramaga Bogor, Kamis (20/6-20245).

RADAR BOGOR - Pesantren Misykat Al Anwar Bogor punya pendidikan khas untuk santrinya.

Santri Misykat Al Anwar Bogor tak hanya dibasuh dengan ilmu agama, namun diajarkan terkait lingkungan dan cara melestarikannya.

Pesantren Ekologi Misykat Al Anwar Bogor merupakan salah satu pesantren yang berbeda dengan pesantren pada umumnya.

Serupa namanya pesantren ini menawarkan pendidikan gabungan antara ekologi dan Islam.

Kurikulum pun yang diterapkan di pesantren ini mengusung konsep pendidikan informal atau alternatif.

Ini bisa dilihat dari isi kurikulumnya tentang konsep inklusif, Islam ahlussunnah waljamaah, humanis, ekologis, dan berpikir kritis.

Pengajar di Pesantren Misykat Al-Anwar, Fahmi Saiyfuddin mengatakan, dia mengelola pesantren ini bersama dua orang lain yaitu Roy Murtadho dan Siti Barokah.

Roy merupakan pengasuh utama pesantren ini sedangkan Siti merupakan istri Roy.

Mereka mengelola tempat ini sejak 2019 sebagai pengasuh sekaligus guru. Selain mereka, pesantren ini tidak punya guru tetap hanya guru yang silih berganti setiap saat.

"Awalnya ini program ekologi yang keliling diajarkan di sejumlah pesantren di Indonesia pada 2016 silam. Kemudian Gus Roy pindah dan menetap di sini dan dititipkan anak untuk dididik akhirnya timbul inisiatif untuk membuat pesantren ini," ungkapnya.

Pesantren ini mengajarkan cara melestarikan lingkungan. Siswa disajikan terkait kondisi yang terjadi terhadap lingkungan dan cara mencegahnya rusak.

Mereka juga diberikan dasar teori sosial ekologi politik, eco-feminism, filsafat ilmu, multikulturalisme, dan lain sebagainya.

"Siswa tidak hanya diberikan teori namun ikut mempraktekkan pelestarian lingkungan itu. Mulai dari pembatasan sampah dan menanam sayuran sendiri," ujarnya.

Tempat yang dimiliki pesantren ini sebenarnya merupakan tempat kedua.

Mereka pindah ke lokasi ini baru sekitar 1 tahun yang lalu. Di tempat ini mereka memiliki kebun sendiri yang dipakai menanam sayuran dan buah-buahan untuk konsumsi.

"Ini upaya kita untuk makan apa yang kita tanam dan kita tahu apa dan bagaimana proses yang kita makan sebagai bagian dari ekologi itu sendiri," ungkapnya.

Bangunan pesantren mereka juga dibangun dengan prinsip ramah lingkungan.

Di antaranya penggunaan bahan-bahan bekas, ruangan yang didesain kaya akan cahaya dan angin, dan juga menggunakan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah.

"Kami hemat listrik karena desain pondok ini cahaya masuk dari mana saja dan sirkulasi angin juga masuk dengan baik. Termasuk panel surya yang sebenarnya sudah digunakan namun karena kita pindah ke sini jadi masih tahap proses perakitan," katanya.

Pengasuh Utama Pesantren Misykat Al-Anwar, Gus Roy menjelaskan tempat ini sebenarnya serupa dengan pesantren pada umumnya.

Ilmu agama Islam seperti Al-Quran dan hadis tetap diterapkan hanya saja di tempat ini santri juga dilatih untuk mengembangkan minatnya sendiri dan diajak untuk peduli terhadap lingkungannya.

Jadi siswa di sini mempelajari banyak hal mulai dari Islam, ekologi, teori politik, ekonomi, praktek seni dan budaya, olahraga dan sebagainya.

Aturan yang dimiliki pesantren ini juga berbeda mereka hanya memiliki 2 kelas dalam sehari dan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan santri.

Adapun nama Misykat Al-Anwar itu dari karya Imam Al-Ghazali artinya sendiri misykat al-anwar yaitu cahaya di atas cahaya.

Cahaya yang dimaksud yaitu cahaya spiritualitas yang tidak boleh hanya berorientasi akhirat, tapi juga merawat kehidupan di bumi agar bisa berkelanjutan.

"Kami dan pesantren lain yang membedakan itu selain kami tidak ketat aturannya, kami juga mengajarkan ekologi dan mempraktekkannya. Kami ini kedua setahu saya, yang pertama itu ada di Garut pesantren ekologi Ath-Thaariq," ujar pria asal Jombang Jawa Timur ini.

Walau pesantren ini sekilas merupakan informal namun terdapat dua tingkatan di pesantren ini yaitu SMP dan SMA dengan jumlah siswa keseluruhan 22 siswa.

Sama seperti sekolah pada umumnya waktu belajar yang akan ditempuh yaitu tiga tahun. Dan mereka memiliki ijazah yang didapatkan lewat ujian kesetaraan.

"Jadi ada ujian kesetaraan yang diberikan untuk siswa yaitu paket B dan C sehingga siswa yang lulus bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya baik SMA maupun perguruan tinggi," sebutnya.

Pesantren ini ditopang dana operasional dari uang pendidikan para santri.

Gus Roy sendiri berencana akan membuat amal usaha kedepannya yang akan digunakan untuk mengembangkan pesantren ini.

"Kami memang menerima santri dari berbagai kalangan sehingga semua uang pendidikan itu menyesuaikan dengan latar belakang santri. Walaupun belum stabil namun kami tetap akan berencana mengembangkan pesantren ini," katanya.

Salah seorang santri, Zaka Aviecena Amartya menuturkan ia memiliih pesantren ini karena metode pengajarannya yang berbeda.

Baca Juga: Gelar Karya P5 di SMAN 10 Bogor, Kepsek Berharap Jadi Wadah Perkuat Karakter Siswa

Ia mulai tertarik sejak SD kemudian akhirnya masuk di tingkat SMP hingga SMA saat ini.

"Saya cukup senang dengan pembelajarannya karena kita diberikan kebebasan untuk memilih belajar apa," beber ramaja asal Bogor ini. (rp1)

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #Pesantren Misykat Al Anwar #lingkungan