RADAR BOGOR - Diperkirakan jumlah penduduk dunia akan mencapai 9 milliar pada 2050, dan BPS memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 328,93 juta jiwa.
Populasi penduduk khususnya Indonesia yang semakin meningkat, memerlukan pemenuhan kebutuhan akan pangan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta dukungan lingkungan yang memadai.
Terdapat beberapa permasalahan yang muncul, salah satunya di Indonesia, sebagai dampak dari keterbatasan sumber daya, seperti masalah kemiskinan, pangan, kesehatan, dan lingkungan.
Berkaitan dengan hal di atas, selain pendidikan dan penelitian, Perguruan Tinggi memiliki peran penting melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) merupakan salah satu realisasi Program PkM yang dikoordinasikan melalui Direktorat Pengembangan Masyarakat Agro-Maritim, Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
Sesuai dengan Namanya, Program Dospulkam ini mengambil lokasi yang memiliki nilai historis dengan insan IPB.
Tim Dospulkam “PENYINTAS” didukung oleh tiga dosen dari Fakultas Ekologi Manusia dan satu orang Dosen Sekolah Vokasi IPB, lima mahasiswa multistrata dari Departemen SKPM, dan satu staf pendukung.
Tim Dospulkam yang diketuai oleh Dr. Siti Amanah (Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB) mengusung inovasi PENYINTAS (Pendekatan Penyuluhan Sensitif Gizi sebagai Investasi Modal Manusia menuju Indonesia Emas) melaksanakan kick-off meeting dengan mitra dengan Tim Penggerak PKK (Program Kesejahteraan Keluarga) Kelurahan Kampung Kajanan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali pada akhir Mei lalu.
Selain melaksanakan koordinasi secara langsung di lokasi kegiatan, Tim Dospulkam “PENYINTAS” berkesempatan berkunjung ke Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng.
Untuk memperoleh informasi terkini mengenai pengembangan pangan lokal yang dikembangkan di Bali Utara.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng, I Gede Putra Aryana, S.Sos., MAP menyatakan terbuka untuk berkolaborasi dengan IPB University.
Terlebih saat ini, Kabupaten Buleleng Tengah mengembangkan “kembali” tanaman shorgum (jagung gimbal) di beberapa kecamatan, saat ini terfokus di Kecamatan Busung Biu dan Seririt.
Tanaman shorgum dikenal juga dengan jagung buleleng, dan pada lambang Kabupaten Buleleng, tepatnya pada kaki kanan singa memegang shorgum (jagung gimbal).
Produksi shorgum antara lain bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan penganekaragaman konsumsi pangan,
Pada 11 Juni lalu, dilakukan penyampaian materi PENYINTAS” secara lebih lengkap kepada PKK Mitra Program Dospulkam “PENYINTAS”.
Salah satu perspektif yang berkembang dalam beberapa dasa warsa berkaitan dengan pendekatan penyuluhan sensitif gizi adalah produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
Tim Dospulkam “PENYINTAS” menekankan bahwa Tim PKK berperan penting sebagai Penyuluh Swadaya dalam membantu transformasi perilaku ke arah yang lebih baik dalam menerapkan sepuluh Program Pokok PKK yang sangat mendukung pencapaan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dalam hal ini, Program Dospulkam “Penyintas” relevan dengan SDGs 1, 2, dan 3.
Persoalan produksi dan konsumsi pangan, serta kesehatan yang dihadapi oleh individu, kelompok, dan masyarakat sangat bervariasi, dan bersifat multidimensi.
Melalui Inovasi “PENYINTAS”, Siti Amanah menyatakan bahwa melalui implementasi penyuluhan yang tepat sesuai kaidah pendidikan berkelanjutan, dapat didorong terjadinya transformasi perilaku individu, kelompok dan masyarakat dalam produksi dan konsumsi pangan.
Dalam hal ini, Kader dan Anggota PKK Kelurahan Kampung Kajanan merupakan Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) juga.
Terdapat tiga KWT di Kelurahan ini yang memiliki usaha olahan pangan yang bervariasi.
Pangan yang diolah dengan benar dan tepat sesuai prinsip HACCP (Hazard Analyisis and Critical Control Point) misalnya akan menjamin mutu pangan yang diproduksi dan dikonsumsi.
Meski pun di Tingkat KWT belum terlalu mengenal istilah HACCP, Tim PKK dan Penyuluh setempat diharapkan perannya dalam mengedukasi dan mendampingi para KWT dalam memproduksi pangan yang sehat dan aman.
Selain aspek produksi, Tim Dospulkam juga mengingatkan kembali mengenai pentingnya menerapkan gaya hidup sehat (Healthy Lifestyle).
Selain menerapkan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA) yang relatif mudah diterapkan, karena Indonesia sangat kaya akan sumber-sumber pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi, sangat diperlukan kemauan dan usaha nyata untuk memulai hidup sehat lahir dan batin.
Hal ini sesuai pepatah yang sangat populer yaitu, “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (men sana in corpore sano).” Melalui healthy lifestyle yang diterapkan oleh setiap anggota keluarga, maka kesehatan keluarga lebih terjamin.
Dospulkam “PENYINTAS” membahas pula mengenai diversifikasi pangan, pengemasan produk, promosi produk secara online, manajemen keuangan usaha, dan upaya memelihara kesehatan.
Melalui program Dospulkam ini, diharapkan usaha KWT dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinergi dan kerjasama multipihak, dari pemerintah, partisipasi masyarakat, dunia usaha dunia industri, perguruan tinggi, dan media massa. #SDGs 1, 2, 3.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga