Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dikukuhkan sebagai Professor of Academic in Law oleh Universiti Geomatika Malaysia, Chancellor UNIDA Bogor Sampaikan Orasi Ilmiah tentang Selat Malaka

Rani Puspitasari Sinaga • Senin, 8 Juli 2024 | 13:00 WIB

Dikukuhkan sebagai Professor of Academic in Law oleh Universiti Geomatika Malaysia, Chancellor UNIDA Bogor Sampaikan Orasi Ilmiah tentang Selat Malaka
Dikukuhkan sebagai Professor of Academic in Law oleh Universiti Geomatika Malaysia, Chancellor UNIDA Bogor Sampaikan Orasi Ilmiah tentang Selat Malaka
 

RADAR BOGOR - Chancellor Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H dikukuhkan sebagai Professor of Academic in Law setelah menerima penghargaanbergengsi Professor of Practice dari Universiti Geomatika Malaysia (UGM).

Penerimaan Penghargaan dan Pengukuhan untuk UNIDA Bogor, diberikan dalam rangkaian acara 20th Years of Excellence UGM Honorary Award Ceremony 2024 yang digelar pada Kamis, 4 Juli 2024, di Mudzaffar Hotel, Melaka, Malaysia.

Dalam pengukuhannya tersebut, Chancellor UNIDA Bogor Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.Hberkesempatan menyampaikan orasi ilmiah berjudulSelat Malaka: Tantangan dan Peluang”.

 Baca Juga: Menang Praperadilan Kasus Vina Cirebon, Hakim Perintahkan Polda Jabar Bebaskan Pegi Setiawan

Di awal pemaparannya, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menjelaskanbahwasanya ada peran luar biasa besar dari pahlawan Indonesia berdarah Sunda, yakni Ir. Djuanda Kartawidjaja dalam menyatukan teritorial daratan dan perairanNKRI melalui gagasannya yang diakui oleh hukum Internasional.

Gagasannya tersebut dikenal Deklarasi Djuanda yang dikemukakan pada tahun 1957. Melalui gagasan ini, laut Indonesia adalah sebagai satu kesatuan wilayah tidak terpisahkan.   

Kedaulatan maritim Indonesia diakui secara internasional melalui UNCLOS 1982, yang memperbolehkan pelayaran damai tanpa izin atau kompensasi. Pasal 58 UNCLOS menyatakan bahwa negara asing berhak melintas dengan kapal, memasangkabel bawah laut, dan menjamin perjalanan yang aman dan nyaman bagi kapal yang lewat,” terangnya.

Baca Juga: Kembangkan Potensi Daerah, Sekolah Vokasi IPB University Lakukan Business Matching dengan Dunia Industri

“Namun, Pasal 19 UNCLOS mengamanatkan bahwa kapal asing yang memasukiperairan negara lain harus mematuhi aturan tertentu, antara lain tidak berhentisembarangan, terus berlayar, tidak mengancam, atau mengambil sumber dayanegara lain,” sambungnya.

Pada prosesnya, terdapat permasalahan yakni sumber daya kelautan Indonesia masih dicuri oleh negara lain, meskipun pasal 19 UNCLOS sudah menjaminkeamanannya.

Penangkapan ikan secara ilegal telah menimbulkan kerugian ekonomisebesar Rp. 260 triliun pertahun, dengan kerugian mencapai 2.000 triliun.

 Baca Juga: Andri Amarald Kembali Nahkodai GM FKPPI PC 10.05 Kota Bogor Periode 2024-2029

Padahal jika dimanfaatkan dengan baik, potensi kelautan dan perikanan Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan, termasuk perikanan tangkap, budidaya laut, budidaya tambak, dan bioteknologi,” ungkapnya.

Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H kemudian memaparkan mengenai kontekshubungan Selat Malaka antara Indonesia dan Malaysia.

Ia menyampaikan bahwadiperlukan kolaborasi nyata antara Indonesia dan Malaysia berkaitan denganoptimalisasi pengelolaan Selat Malaka yang melibatkan beberapa aspek penting, seperti keamanan maritim, kerja sama ekonomi, lingkungan ekosistem laut, teknologi, hingga paradigma hukum untuk membangun kerangka peraturanperundangan-undangan yang harmonis dalam mengelola Selat Malaka, termasukperaturan navigasi, pengawasan lingkungan, dan penegakan hukum internasional.

Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H dalam closing remarks-nya menegaskan, Selat Malaka tidak diragukan lagi merupakan salah satu kekayaan Nusantara. SelatMalaka menjadi anugerah bagi Indonesia dan Malaysia, sehingga kedua negaradapat bersama-sama memanfaatkan dengan baik potensi ekonomi yang sangatbesar, baik melalui joint management, joint security, joint study dan lainnya.

Diharapkan agar kedua bangsa dapat lebih mengembangkan kolaborasi produktifdemi kemajuan dan kesejahteraan bersama, oleh karena itu sangat diperlukanpemikiran geopolitik untuk memaksimalkan kekayaan dan potensi kekayaan yang ada di Selat Malaka tersebut,” pungkas Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #UNIDA #malaysia