RADAR BOGOR - Konselor pendidikan Angel’s Counseling and Consultation (ACC) Bogor Reni Sinta Dewi membeberkan sebuah fakta, bahwa skor IQ pada pelajar, bukan penentu utama untuk mendulang kesuksesan.
Akan tetapi menurut konselor pendidikan di Bogor itu, ada hal lain yang tidak kalah penting, agar pelajar dapat mendulang kesuksesan di masa yang akan datang.
Emotional Quotient (EQ), adalah hal penting yang harus diutamakan dalam mendulang sukses pelajar-pelajar di Bogor, yang menurut konselor pendidikan di Bogor itu yang kurang diperhatikan.
Reni Sinta Dewi atau yang akrab disapa Rere menyebut, EQ menjadi penting, sebab menurutnya seseorang atau siswa yang pandai mengatur emosinya dapat dengan mudah untuk bergaul.
“Orang yang pandai mengelola emosi pasti senang dengan kita, apalagi koneksi juga menjadi salah satu hal yang penting dalam mendulang kesuksesan untuk saat ini,” ucap Rere.
Tidak hanya soal kepandaian dalam mengelola emosi, EQ disebut Rere berkaitan erat dengan produktifitas siswa didalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saat sekolah.
Rere menegaskan, biasanya siswa yang sudah pandai menguasai EQ-nya, bakal cenderung lebih rajin dan ulet dalam mengerjakan segala sesuatu.
Misalnya, kata Rere, saat guru menjelaskan materi didalam kelas, siswa yang rajin atau pandai mengelola EQ nya, bakal mencatat hal hal penting didalam bukunya.
Sehingga, lanjut Rere, Ia bisa belajar dan menelaah kembali tentang materi yang disampaikan, melalui catatan yang ada didalam bukunya.
“Atau sama kaya ceritanya kancil dan kura-kura, yang balapan, karena kancil merasa so tau, akhirnya dia semena mena, tapi kalau kura kura meski jalannya lambat dia tetap konsisten, sehingga kura kura lah yang menang,” jelas Rere.
Akan tetapi Konselor ACC itu juga tidak menapikan bahwa IQ menjadi salah satu bagian yang tidak dipisahkan bagi siswa yang ingin mendulang kesuksesan.
Hanya saja, dia ingin berpesan, apabila siswa tidak memiliki skor IQ yang tinggi, tidak sepatutnya dibeda-bedakan saat pembelajaran berlangsung.
Sebab menurutnya, pendidikan seharusnya bersifat sama rata, tidak ada diskriminasi satu sama lain, baik yang pintar ataupun yang kurang pintar.
Bahkan dia, menyarankan bagi tiap-tiap instansi pendidikan untuk melakukan survey pembelajaran sebelum proses KBM di tiap sekolah berlangsung.
“Karena lagi lagi kecerdasan anak itu juga beda beda, termasuk cara Ia menangkap materi pembelajaran, sehingga dengan survey itu bakal ketemu metode yang tepat untuk anak,” tegasnya, Rabu (17/9/2024).
Editor : Rani Puspitasari Sinaga