RADAR BOGOR - Pendidikan reproduksi pada remaja atau siswa kerap kali dipandang negatif oleh sebagian masyarakat Indonesia, termasuk di Kota dan Kabupaten Bogor.
Namun ternyata Konselor, Angel’s Counseling and Consultation (ACC) Reni Sinta Dewi, mengutarakan, pendidikan reproduksi jadi salah satu pengetahuan yang wajib diketahui oleh para siswa.
Menurutnya pendidikan reproduksi bukan berarti pengajaran tentang cara berhubungan badan, tapi lebih dari itu, yakni memberi pengetahuan tentang segala macam hal yang berkaitan dengan jenis alat vital.
“Mulai dari perannya hingga fungsinya, jadi mengedukasi terkait area sensitif yang ada didalam dirinya, tidak cuma perempuan laki laki juga perlu,” jelas Rere pada Radar Bogor.
Sehingga secara umum, Rere mengutarakan setidaknya ada dua alasan pentingnya pendidikan reproduksi bagi para siswa yang wajib diketahui.
Pertama Rere menilai, setidaknya para siswa yang sudah memasuki fase pubertas mengetahui terkait higienitas alat vitalnya, baik laki-laki maupun perempuan.
Apalagi, kata Rere, fase pubertas adalah momen dimana seluruh alat reproduksi sedang bekerja secara optimal, sehingga kebersihan alat vital menjadi sangat penting.
Kemudian yang kedua, menurut Rere, pendidikan seksualitas dapat membantu para siswa atau remaja untuk memhami cara mengontrol diri dari hal-hal negatif.
“Misal anak laki-laki, yang sudah tau dia bisa membuahi otomatis dia sudah harus menjaga dirinya agar tidak semena mena kepada wanita,” jelas Rere, Kamis (3/10/2024).
Begitu juga sebaliknya, lanjut Rere, perempuan yang sudah sadar bahwa dirinya sudah bisa dibuahi, dia harus mulai menjaga pergaulan dan batasan antara laki-laki dan perempuan.
Sehingga dengan begitu, Rere menyebut pendidikan reproduksi justru dapat menetralisir maraknya pergaulan bebas dikalangan para remaja, atapun siswa.
Rere juga mengungkapkan eksekutor yang berperan penting dalam memberikan pemahaman tentang pendidikan reproduksi pada siswa ini ada dua, yaitu lembaga pendidikan dan orang tua.
“Lembaga pendidikan, atau sekolah misalnya, mulai memasifkan kembali program keputrian, minimal program tersebut dapat mengingatkan siswa tentang pentingnya menjaga diri,” ungkapnya.
Adapun untuk peran orang tua dalam hal pendidikan reproduksi pada siswa ini, Rere menjelaskan paling tidak Ibu ataupun ayah tidak sungkan untuk ngobrol intens dengan anaknya.
“Mulai dari hal-hal kecil aja, nanya kabar dan aktifitas satu hari yang dilakukan oleh anaknya, dengan begitu anak bakal nyaman, dan obrolan juga lama-kelamaan akan berkembang,” pungkasnya. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin