RADAR BOGOR - Dampak Pengembangan Desa Wisata Benteng Terhadap Aspek Sosial Ekonomi adalah tema Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan oleh tim peneliti Kolaborasi Penelitian Strategis (Katalis) Dosen Universitas Djuanda (UNIDA).
Berlangsung di Ruang Smart Class Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNIDA, diskusi ini dihadiri oleh berbagai narasumber yang berkontribusi besar pada pengembangan desa wisata.
Tujuan dari penelitian ini, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Harini, M.Si, dan dibantu oleh Dr. Rita Rahmawati, M.Si dan Endang Silaningsih, SE., MM, adalah untuk mempelajari dampak sosial dan ekonomi dari pengembangan Desa Wisata Benteng, Kabupaten Bogor.
Hibah Katalis, yang dibiayai oleh Dirjen Dikti Kemdikbudristek RI dan bernomor kontrak 059/E5/PG.02.00/PL.BATCH.2/2024, merupakan bagian dari upaya untuk membangun desa wisata halal yang berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini merupakan bagian dari hibah tersebut.
Penelitian yang dilakukan, kata Prof. Dr. Sri Harini, M.Si, ketua tim peneliti, mencakup banyak hal penting. Ini termasuk pemberdayaan sosial masyarakat, peningkatan pendapatan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pelestarian lingkungan dan budaya, dan pembangunan infrastruktur.
"Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak pengembangan pariwisata terhadap perubahan sosial, budaya, lingkungan, dan ekonomi masyarakat Desa Wisata Benteng. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi dasar evaluasi dan pengambilan kebijakan bagi pemerintah daerah, pelaku bisnis, dan komunitas masyarakat, sekaligus menjadi referensi bagi desa wisata lain di Indonesia," tuturnya.
Selanjutnya, Prof. Dr. Sri Harini, M.Si menyampaikan hasil dan rekomendasi penelitian. Kesimpulannya adalah bahwa sebelum dan sesudah pengembangan desa wisata terjadi perubahan yang signifikan di bidang sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
Selain itu, pentingnya menjaga budaya lokal dan menerima wisatawan melalui edukasi, serta meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui potensi desa.
Selain itu, diperlukan peraturan yang mengatur partisipasi masyarakat dalam perlindungan lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan polusi udara, air, dan suara.
“Dengan menjaga prinsip keberlanjutan dan menjadi model bagi desa wisata lain di Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat mendorong Desa Wisata Benteng berkembang lebih maju,” katanya.
Fokus kelompok fokus (FGD) ini dimoderatori oleh Muhammad irfan S.ST.Par, M.Par. Banyak narasumber diundang untuk memberikan pendapat mereka tentang pengembangan desa wisata.
Ketua Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarif Hidayat, memberikan penjelasan tentang strategi yang digunakan untuk membangun desa wisata.
H. Faka Harika, S.AP, Kepala Desa Benteng, menjelaskan bagaimana pembangunan desa wisata berdampak langsung pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Dani Ahmad Mubaraok, S.Par, Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, juga hadir untuk membahas dampak pengembangan pariwisata terhadap aspek sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan di Kabupaten Bogor, termasuk Desa Wisata Benteng.
Ketua Asosiasi Desa Wisata Abas Helmy kemudian mengatakan bahwa pengembangan desa wisata juga berdampak besar pada para pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya. I
a menekankan betapa pentingnya kerja sama semua pihak dalam menjaga keberlanjutan dan kelestarian desa wisata.
Bambang Hengky Ranianto, Ph.D., juga berbicara dari perspektif akademisi tentang tren penelitian tentang pariwisata dan pengembangan desa wisata.
Menurutnya, sangat penting untuk terus mempelajari dampak jangka panjang dari pariwisata terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya desa agar pengembangan pariwisata tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial tetapi juga menghasilkan keuntungan berkelanjutan. (***)
Editor : Yosep Awaludin