RADAR BOGOR - Bisbul adalah buah-buahan lokal yang sering ditemukan dan dijual di pasar-pasar Jawa Barat.
Tumbuhan Bisbul ini lazim dikenal sebagai 'apel beludru' atau 'buah apel tropis'.
Bisbul ini berkerabat dengan kesemek dan kayu hitam.
Bisbul ini tumbuh dengan baik di daerah tropika beriklim muson pada berbagai jenis tanah sampai dengan ketinggian 800 m dpl.
Bisbul umum dijumpai sepanjang tahun, walaupun akhir-akhir ini mulai jarang ditemukan buahnya karena adanya fenomena pergeseran musim berbuah.
Ketika kondisi biasa atau tidak terjadi anomali lingkungan, waktu panen puncak terjadi antara bulan Maret hingga Mei dan bulan Juni hingga September.
Dalam ilmu taksonomi tumbuhan, nama ilmiah pohon bisbul adalah Diospyros blancoi A. DC.
Hal ini tercatat pada situs International Plant Name Index (IPNI) yang menjadi situs resmi dalam pencarian tata nama ilmiah tumbuhan yang diterima secara global (accepted name).
Nama ilmiah sangat penting, sebab menjadi rujukan internasional dalam penamaan suatu jenis tumbuhan ataupun organisme lainnya.
Dalam sejarah tata nama tumbuhan, Diospyros blancoi pernah memiliki banyak nama, yang tentunya saat ini sudah tidak sah lagi.
Nama-nama yang tidak sah ini dalam dunia botani dikenal dengan istilah nama sinonim (Synonym name).
Synonim name dari Diospyros blancoi adalah: Cavanillea mabolo Poir, C. philippensis Desr., Diospyros discolor Willd, D. durionoides Bakh., D. mabolo (Poir.) Roxb. ex Lindl., D. mabolo Roxb. ex J.V.Thomps., D. malacapai A.DC., D. merrillii Elmer, D. philippensis (Desr.) Gürke, D. utilis Hemsl., Embryopteris discolor (Willd.) G.Don, dan Mabola edulis Raf.
Bisbul juga memiliki nama lokal yang berbeda-beda tergantung wilayah dan negaranya.
Dalam bahasa Melayu, buah ini dikenal dengan nama buah mentega atau buah lemak.
Nama tersebut berasal dari ciri morfologi daging buahnya yang menyerupai mentega atau lemak ketika matang.
Dalam bahasa Jawa buah ini dikenal dengan nama "sembolo", dalam bahasa Thailand disebut "marit", dan dalam bahasa Inggris disebut dengan Velvet Apple.
Berbeda dengan orang Filipina, mereka mengenal buah ini dengan nama "kamagong", "tabang", atau "mabolo" (kata Tagalog yang mengacu pada kulit buah yang lembut dan berbulu).
Buah bisbul dapat dimakan segar, beberapa masyarakat memanfaatkan buah bisbul sebagai campuran minuman dan rujak.
Rasanya yang segar dan manis akan nikmat dipadukan dengan sambal kacang yang gurih asin.
Buah bisbul ini diketahui memiliki kadar antioksidan yang baik untuk kesehatan.
Buah ini kaya akan vitamin A, vitamin C, serat, dan fitonutrien.
Kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mencegah penuaan dini, dan meningkatkan kesehatan kulit.
Buah bisbul juga dapat membantu mengobati masalah pernapasan, seperti sesak nafas, batuk, dan asma.
Selain buahnya, ternyata kayu bisbul juga dikenal berkualitas baik.
Baca Juga: DSA Boja Farm Membentuk Ekosistem Pertanian Organik, Buah Kesabaran Selama Bertahun-tahun
Kayu bisbul memiliki karakter dengan warna cokelat kemerahan hingga hitam, bertekstur halus, kuat dan keras.
Karakter seperti ini sangat disenangi pengrajin kayu sebagai bahan dasar mebel.
Di daerah lain seperti Filipina, kayu bisbul digunakan sebagai bahan kerajinan yang berharga.
Bahkan saking berharganya tumbuhan ini akhirnya dilindungi oleh undang-undang setempat.
Pada beberapa tempat, pohon bisbul sering digunakan sebagai pohon pengarah dan penghijauan karena memiliki tajuknya yang bagus.
Pohon bisbul kerap ditanam di taman-taman dan tepi jalan.
Walaupun bisbul banyak dijumpai di daerah Jawa Barat, ternyata tumbuhan ini tidak berasal dari Jawa Barat, bahkan Pulau Jawa.
Bisbul ternyata hanya diintroduksi ke Pulau Jawa dan beberapa daerah lain (seperti Kepulauan Andaman, Bangladesh, Belize, kepulauan Caroline, Costa Rica, Honduras, India, Malaya, New Caledonia, Kepulaun Nicobar, Panamá dan Trinidad-Tobago).
Khusus untuk kawasan Pulau Jawa, kemungkinan buah ini masuk melalui jalur perdagangan saat periode penjajahan Belanda.
Bisbul sesungguhnya berasal dari Pulau Borneo, Philippines dan Taiwan.
Walaupun demikian, dari informasi riset terkini ternyata kemungkinan ditemukan bisbul yang berasal dari pulau Papua.
Tumbuhan ini diduga kuat akan menjadi subspecies baru karena belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Jadi, walaupun tumbuhan ini banyak dijumpai di tanah Sunda, tetapi asal usulnya bukan berasal dari tanah Sunda.
Pohon bisbul merupakan jenis tumbuhan berumah dua, yaitu bunga jantan dan bunga betina berasal dari individu pohon yang berbeda.
Oleh karenanya, tumbuhan ini memerlukan agen penyerbuk untuk proses penyerbukannya.
Individu pohon berbunga betina akan berhasil terserbuki apabila serbuk dari individu pohon jantan dapat terbawa agen penyerbuk dan jatuh di kepala putik bunga betina.
Dengan demikian, peranan serangga penyerbuk sangat penting bagi jenis tumbuhan ini.
Segudang manfaat dari pohon bisbul ini dapat menjadi pertimbangan dalam melestarikan jenis tumbuhan ini.
Meskipun hingga saat ini belum ada laporan mengenai status konservasi pohon bisbul di alam, kita perlu menjadi kelestarian jenis ini.
Kelestarian pohon bisbul perlu dijaga agar kehadirannya di masa kini dapat berlangsung hingga ke masa depan.***
Penulis: Irvan Fadli Wanda, Ade Ayu Oksari
Editor : Halimatu Sadiah