RADAR BOGOR - Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang mengadakan dialog dengan Ibu Puti Guntur Soekarno, anggota Komisi X DPR RI, yang berwenang dalam bidang pendidikan, olahraga, serta sains dan teknologi.
Pertemuan tersebut berlangsung di Wisma Duta KBRI Tokyo dan dihadiri oleh perwakilan dari berbagai organisasi PPI di Jepang, seperti PPI Kanto, PPI TIU, PPI Grips, PPI Todai, PPI Keio, PPI Waseda, dan PPI Nodai.
Ketua Umum PPI Jepang, Prima Gandhi, yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Tokyo University of Agriculture, menyampaikan kekhawatirannya mengenai fenomena brain drain, yakni kehilangan sumber daya manusia unggul Indonesia yang memilih untuk bekerja di luar negeri.
Fenomena ini sering kali melibatkan individu dengan pendidikan tinggi dan keahlian khusus yang memutuskan untuk meninggalkan kewarganegaraan mereka.
Menurut Prima, brain drain dapat merugikan negara dalam jangka pendek, terutama jika melibatkan pemuda-pemudi yang telah mendapatkan fasilitas negara seperti beasiswa atau grant riset.
"Brain Drain akan meghambat pertumbuhan ekonomi dan inovasi suatu negara akibat kehilangan sumber daya manusia unggul," ungkap Prima.
Ibu Puti Guntur Soekarno merespon dengan menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam upaya mengurangi brain drain.
Ia berkomitmen untuk mendorong pemerintah dan sektor swasta untuk menciptakan peluang kerja yang menarik bagi talenta-talenta unggul Indonesia, termasuk menyediakan insentif dan fasilitas yang mendukung pengembangan karier di dalam negeri.
"Dalam rapat dengan Mitra komisi X yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Teknologi, Kemenpora, serta BRIN, saya akan sampaikan isu Brain Drain ini agar dapat dicarikan solusinya baik dalam jangka pendek,menengah dan Panjang, kemudian saya berharap pelajar dan mahasiswa yang sedang kuliah di Jepang tidak pindah kewarganegaraan, negara membutuhkan pikiran dan tenaga kalian setelah lulus," ujar Ibu Puti.
Ia juga berharap agar pelajar dan mahasiswa Indonesia di Jepang tidak berpindah kewarganegaraan, mengingat negara membutuhkan pikiran dan tenaga mereka setelah lulus.
Selain membahas masalah brain drain, audiensi ini juga menyentuh berbagai isu lain, seperti efisiensi beasiswa LPDP, kelembagaan organisasi PPI, serta topik riset mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Acara yang diakhiri dengan makan siang bersama ini turut dihadiri oleh Atase Keuangan Ibu Leni Nurlaeni dan Atase Pendidikan Bapak Amzul Rifin.
Sebagai penutup, PPI Jepang memberikan cenderamata berupa buku berjudul Inspirasi Bumi Momotaro, yang berisi tulisan-tulisan dari diaspora pelajar Indonesia di Jepang.
Buku ini mengangkat pengalaman mereka selama tinggal di Jepang, dengan berbagai tema terkait pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebijakan publik lainnya.***
Editor : Halimatu Sadiah