RADAR BOGOR - Sijaka atau singkatan dari Sirih merah, Jahe merah, Kayumanis merupakan inovasi biofarmaka IPB University untuk kemandirian farmasi Indonesia.
Biofarmaka memiliki penting khususnya dalam dunia farmasi di Indonesia. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan biofarmaka. Sebab hal ini menjadi sumber bahan baku obat herbal yang mendukung kemandirian industri farmasi serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Dosen IPB University sekaligus Ketua Departemen Biokimia Prof Mega Safithri merupakan salah satu yang fokus mendalami riset bidang biofarmaka, salah satu hasil riset unggulannya yakni Sijaka.
Sijaka atau Sirih merah, Jahe merah, Kayumanis merupakan suplemen antidiabetes dan antioksidan yang terbuat dari bahan herbal asli Indonesia.
Riset tersebut ia kaji sejak 2005, saat dirinya masih menjadi mahasiswa pascasarjana hingga saat ini.
Produk Sijaka telah diuji coba di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG), terakreditasi ISO secara internasional, serta memiliki lisensi dan sudah diproduksi PT Nano Herbaltama Indonesia.
“Ini salah satu bukti bahwa IPB University sangat unggul dalam riset biofarmaka terutama untuk antidiabetes,” ujar Prof Mega.
Ia juga menjelaskan produk lain yang siap skala produksi adalah serum anti-aging berbahan dasar ekstrak nano daun sirih merah dan nano propolis yang berasal dari lebah Apis Mellifera.
Produk tersebut siap untuk dikomersialkan melalui program riset Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks Project (PRIMEStep).
Menurut Prof Mega, peran biofarmaka dalam sistem kesehatan nasional ke depannya sangat menjanjikan. Hal ini karena beberapa penyakit dapat terjadi dan berkembang dari reaksi redoks dan ketidakseimbangan stres oksidatif dan antioksidan dalam tubuh.
Obat sintetik senyawa kimia pada umumnya hanya dapat mengobati penyakit tanpa memperbaiki sistem homeostasis stres oksidatif dan antioksidan tubuh secara keseluruhan.
Sedangkan biofarmaka memiliki potensi untuk membantu memperbaiki fungsi tubuh dengan cara menjaga keseimbangan sistem redoks dalam tubuh.
"Salah satu contohnya adalah Sijaka, yang meskipun tidak bekerja secepat obat berbasis senyawa kimia, tetapi ini dapat mendukung pemulihan tubuh secara menyeluruh sehingga seseorang menjadi lebih sehat,” jelasnya.
Prof Mega memaparkan, sirih merah bekerja memperbaiki sel beta pankreas akibat paparan radikal bebas. Lalu kayu manis bekerja pada usus yakni menghambat penyerapan glukosa serta dan jahe merah bekerja meredam radikal bebas dan peradangan akibat kondisi tingginya kadar glukosa di darah.
Meskipun belum dikomersialisasikan secara resmi, menurutnya banyak orang yang telah menantikan produk Sijaka berdasarkan berbagai testimoni dari uji coba yang dilakukan secara terbatas oleh Prof Mega dan Tim PT NHI.
Produk ini telah mendapat pendanaan untuk riset sejak 2005 serta pernah mendapatkan sejumlah penghargaan pada 2012, 2016, dan 2019.
Saat ini, Prof Mega bersama mahasiswa bimbingannya di tingkat S1, S2 dan S3 Biokimia sedang melakukan riset biofarmaka yakni dengan memanfaatkan bahan temulawak, teh hitam, kayumanis, dan sirih merah sebagai antidemensia.
Riset tersebut bahkan sudah melalui uji in silico dan in vitro dan akan melalui uji in vivo pada hewan tikus.
Melalui riset biofarmaka tersebut, IPB University memiliki kemitraan dengan berbagai industri seperti PT Nano Herbaltama Indonesia, PT Nanotech Natura, PT SOHO Industri Farmasi, dan industri lainnya.
Prof Mega berharap riset Biofarmaka di IPB University dapat diperkuat dengan uji klinis dari Fakultas Kedokteran IPB dan semakin banyak hasil riset biofarmaka yang dikomersilkan oleh perusahaan atau industri obat.
Editor : Eka Rahmawati