RADAR BOGOR - Siapa sangka, seorang akademisi dengan gelar Doktor di bidang Ekowisata yang kini berdedikasi di dunia pendidikan, dulunya adalah seorang jurnalis yang bergelut dengan berita.
Inilah perjalanan Rini Untari, sosok yang pernah merasakan dinamika dunia jurnalis di ruang redaksi sebelum akhirnya memilih masuk ke dunia akademik dan mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Ekowisata, Sekolah Vokasi IPB.
Dari dunia jurnalis merangkai berita hingga akhirnya menulis jurnal ilmiah, Rini menapaki jalur pendidikan dengan penuh ketekunan. Ia menempuh seluruh jenjang studinya di IPB University.
Mulai dari sarjana di Program Studi Konservasi dan Sumber Daya Hutan, magister di bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, hingga meraih gelar doktor dari Program Studi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan.
Bakat akademiknya sudah terlihat sejak dini. Saat masih menjadi mahasiswa sarjana, ia dipercaya menjadi asisten dosen dalam mata kuliah Dendrologi dan Ekologi Hutan.
Namun, siapa yang menyangka bahwa di sela-sela ketertarikannya pada dunia kehutanan, ia juga sempat berkarier sebagai reporter dan asisten redaktur di salah satu media besar di Indonesia?
Dari dunia jurnalistik yang penuh dinamika hingga mengabdikan diri dalam pendidikan dan penelitian, perjalanan Rini adalah bukti bahwa menulis dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan, mengantarkan seseorang ke puncak prestasi di lebih dari satu bidang.
Suka Menulis Diary Membawanya menjadi Jurnalis, Awal Perjalanan Jurnalistik
Sejak kecil, Rini Untari sudah akrab dengan dunia tulisan. Bukan sekadar menulis tugas sekolah, melainkan mencurahkan isi pikirannya ke dalam sebuah diary yang setia menemani hari-harinya.
Dari sekadar mencatat keseharian, ia mulai menuangkan ide dan cerita. Sebuah kebiasaan sederhana yang tanpa disadari menjadi titik awal perjalanan jurnalistiknya.
Seiring waktu, kecintaannya pada menulis semakin mengakar. Bukan hanya sebatas hobi, tetapi berkembang menjadi hasrat yang mendorongnya melangkah lebih jauh.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Rini memilih jalur yang tak terduga yaitu menjadi seorang reporter. Dunia jurnalistik yang cepat berubah, penuh tantangan, dan berpacu dengan waktu justru menjadi medan tempur pilihannya.
Dari tahun 2004 hingga 2006, ia mengabdikan diri sebagai reporter dan asisten redaktur di salah satu media besar di Indonesia.
Salah satu momen yang paling berkesan dalam kariernya adalah kesempatan emas untuk berdialog langsung dengan sastrawan legendaris, Pramoedya Ananta Toer.
Sebuah pengalaman yang bukan hanya meninggalkan jejak dalam perjalanan jurnalistiknya, tetapi juga semakin mempertegas kecintaannya pada dunia menulis.
Dedikasi dalam Jurnalistik dan Kontribusi bagi Masyarakat: Jejak Karya yang Bermakna
Setelah meninggalkan dunia jurnalistik, Rini beralih menjadi tenaga akademik di Program Studi Ekowisata, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Namun, langkahnya di dunia jurnalistik tidak berhenti di sana. Sebagai akademisi, ia tetap aktif menulis dan telah menghasilkan sekitar 80 buku sepanjang kariernya.
Salah satu karyanya yang paling berkesan adalah “Antologi Catatan Jurnalis: Di Balik Tajamnya Pena”, yang merekam perjalanan dan pengalaman para jurnalis selama bertugas.
Sebagai seorang akademisi, Rini memahami bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bagian penting dalam menerapkan keilmuan secara nyata.
Baginya, pengabdian adalah jembatan antara teori dan praktik, di mana ilmu yang dikuasai dapat diaplikasikan untuk membantu masyarakat, khususnya dalam pengembangan wisata.
Berinteraksi langsung dengan mitra yang memiliki beragam permasalahan memberikan pengalaman berharga, sekaligus tantangan tersendiri dalam mencari solusi yang tepat.
Komitmennya dalam pengabdian masyarakat tercermin dalam berbagai publikasi ilmiah yang telah diterbitkan di jurnal pengabdian, serta partisipasinya dalam berbagai seminar akademik.
Dedikasi Rini dan timnya pun membuahkan hasil gemilang. Mereka berhasil meraih juara 1 sebagai best presenter dalam dua kesempatan pada tahun 2024 dan 2025, serta juara 2 pada tahun 2024 dalam ajang yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Pengabdian pada Masyarakat (ADPI).
Prestasi ini menjadi bukti bahwa pengabdian tidak hanya berdampak bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah bagi akademisi untuk terus berkembang dan berkontribusi lebih luas.
Pesan dan Masukan untuk Generasi Muda
Bagi Rini, memiliki mimpi dan tujuan hidup adalah hal yang penting untuk terus maju. Ia percaya bahwa setiap perjalanan, baik dalam karier maupun kehidupan, harus dimulai dengan tujuan yang jelas.
Namun, ia juga menyadari bahwa jalan menuju impian pasti tidak selalu mulus. Kegagalan adalah bagian dari proses yang harus diterima dengan lapang dada dan iklas, bukan menganggapnya sebagai hambatan, tetapi sebagai pelajaran yang berharga.
Oleh karena itu, pantang menyerah dan terus berusaha menjadi prinsip yang selalu ia pegang teguh.
Selain itu, Rini menekankan pentingnya menikmati setiap proses dalam mencapai impian. Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga bagaimana seseorang tumbuh dan belajar di sepanjang perjalanan.
Rasa syukur atas setiap pencapaian, besar maupun kecil, adalah kunci untuk tetap termotivasi. Ia juga mengingatkan bahwa mengapresiasi diri sendiri sama pentingnya dengan bekerja keras.
Dengan bersyukur dan menghargai usaha yang telah dilakukan, seseorang akan lebih bahagia dan siap menghadapi tantangan berikutnya. (***)
Penulis : Muhammad Daffa Bachtiar
Sekolah Vokasi IPB University Komunikasi Digital dan Media