RADAR BOGOR - Helianthi Dewi, S.Hut., M.Si., lahir di Jakarta pada 11 September 1975. Meskipun besar di ibu kota, ia memiliki akar keturunan Jawa yang melekat dalam dirinya.
Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di Jakarta, tempat ia menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga sekolah menengah atas.
Ia merupakan lulusan SMAN 8 Jakarta pada tahun 1993, salah satu sekolah unggulan yang banyak melahirkan akademisi dan profesional di berbagai bidang.
Ketertarikannya pada bidang biologi mulai tumbuh sejak di bangku sekolah. Ia selalu mendapatkan nilai yang baik dalam mata pelajaran tersebut dan merasa bahwa biologi adalah bidang yang menarik serta penuh dengan eksplorasi.
Ketika tiba saatnya memilih jurusan untuk pendidikan tinggi, ia pun memutuskan untuk melanjutkan studi di Fakultas Kehutanan, IPB University.
Pada awalnya, ia mengira kehutanan hanya berkaitan dengan ilmu biologi dan ekosistem, tetapi ternyata lebih luas dari itu, terdapat unsur manajemen, ilmu sosial, teknologi, dan berbagai aspek lain yang semakin memperkaya wawasannya.
Pada tahun 1998, ia menyelesaikan pendidikan sarjananya dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana. Perjalanan akademiknya tidak berhenti di sana.
Ia menyelesaikan program magister pada tahun 2005, dengan fokus pada penelitian yang menggabungkan pemanfaatan teknologi dalam studi ekologi, khususnya pada habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Dunia akademik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Helianthi Dewi. Ia memulai kariernya sebagai asisten dosen, sebuah pengalaman yang membuka matanya terhadap dinamika dunia pendidikan tinggi.
Sejak tahun 2004, ia bergabung sebagai pengajar di Program Diploma IPB, dan pada tahun 2009, ia resmi menjadi dosen tetap.
Bagi Helianthi, menjadi dosen bukan sekadar profesi, tetapi juga passion. Ia menikmati interaksi dengan mahasiswa yang selalu berganti setiap tahunnya.
"Saya merasa seperti tidak pernah menua karena selalu bertemu dengan mahasiswa yang bersemangat dan penuh ide baru," ujarnya dalam wawancara.
Dalam perjalanannya sebagai akademisi, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam mengikuti perkembangan teknologi yang terus berubah.
Salah satu tantangan utama yang ia hadapi adalah bagaimana memanfaatkan teknologi dalam pengembangan ekowisata, bidang yang menjadi fokus utamanya.
Selain itu, perubahan pola pikir mahasiswa dari generasi ke generasi juga menjadi tantangan tersendiri.
Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki akses informasi yang lebih luas, tetapi kurang dalam hal kemandirian mencari informasi. Oleh karena itu, ia selalu berusaha membimbing mereka untuk lebih proaktif dan memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi.
Ekowisata adalah bidang yang paling menarik minatnya dalam dunia kehutanan. Ia tidak hanya melihat ekowisata sebagai perjalanan ke kawasan hutan semata, tetapi sebagai konsep yang lebih luas dan bisa diterapkan di berbagai jenis destinasi wisata.
Baginya, ekowisata tidak hanya berbicara tentang konservasi, tetapi juga bagaimana menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta melestarikan budaya lokal.
Ia telah banyak terlibat dalam penelitian di bidang ini, termasuk dalam proyek mengenai Urban Ecotourism yang menyoroti tantangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kampung wisata di Kota Bogor.
Salah satu temuan penting dalam penelitiannya adalah bahwa banyak kampung wisata yang masih belum memiliki kesiapan penuh dalam pengelolaannya.
Ia menekankan bahwa partisipasi aktif dari masyarakat lokal sangat penting dalam keberhasilan kampung wisata, mulai dari produksi makanan khas, pembuatan suvenir, hingga aspek kebersihan dan keamanan.
Selain itu, ia juga menaruh perhatian pada edukasi anak-anak mengenai ekowisata dan konservasi lingkungan.
Salah satu penelitiannya yang berjudul "Dongeng Sebagai Rekreasi Edukasi Bagi Anak Sekolah Dasar di Bogor dengan Media Boneka Tangan" menunjukkan bahwa media digital memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan edukatif kepada anak-anak.
Namun, ia juga menyoroti bahwa konten digital yang berkualitas untuk anak-anak masih tergolong minim. Oleh karena itu, ia berharap akan ada lebih banyak konten edukatif berbasis budaya lokal yang dapat dinikmati oleh anak-anak Indonesia.
Dalam perjalanan akademik dan kariernya, Helianthi Dewi banyak terinspirasi oleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya. Ia diajarkan untuk menjadi pribadi yang gigih, mandiri, dan tidak mudah menyerah.
Selain itu, ia juga menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan dalam bagaimana bersikap bijaksana dan mampu merangkul perbedaan.
Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang selalu ia pegang teguh adalah Surah Ar-Rahman ayat 33 yang berbunyi:
"Wahai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)."
Baginya, ilmu pengetahuan adalah kunci untuk membuka berbagai pintu kesempatan, dan dengan ilmu, seseorang dapat melampaui batas-batas yang ada.
Sebagai seorang akademisi yang telah lama mendalami bidang ini, Helianthi Dewi melihat bahwa ekowisata di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
Konsep ekowisata semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat, dan semakin banyak destinasi wisata yang mulai menerapkan prinsip-prinsip ekowisata dalam pengelolaannya. Namun, menurutnya, masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki.
Ia menekankan bahwa ekowisata tidak hanya sebatas menawarkan keindahan alam semata, tetapi juga harus mencakup pilar utama agar bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan.
Selain itu, ia juga menyoroti bahwa banyak pihak yang masih memiliki pandangan terbatas tentang ekowisata.
Banyak orang masih berpikir bahwa ekowisata hanya tentang hutan dan alam liar, padahal konsep ini bisa diterapkan di berbagai lingkungan, termasuk kawasan perkotaan.
Sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik, Helianthi Dewi terus berkontribusi dalam membentuk masa depan ekowisata Indonesia.
Dengan semangatnya yang tak pernah padam, ia terus menginspirasi generasi muda untuk memahami dan mengembangkan konsep ekowisata yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat luas. (***)
Penulis : Muhammad Alfath
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University