RADAR BOGOR - Rahmat Irawan, seorang dosen praktisi akuntansi di Sekolah Vokasi IPB University, lahir di Bogor pada 5 Januari 1986. Meski lahir di Bogor, ia memiliki darah Jawa dari orang tuanya yang berasal dari Klaten.
Masa kecilnya sempat dihabiskan di Karanganyar saat duduk di kelas 1 SD, sebelum akhirnya pindah ke Bogor dan melanjutkan pendidikan dasarnya di SDN Pengadilan 4.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke SMP Negeri 11 Bogor, sebuah sekolah negeri yang menurutnya unik karena menjadi satu-satunya SMP negeri dengan jurusan Tehnik Otomotif, Tehnik Logam, dan Tata Boga.
Selama di SMP 11, Rahmat belajar banyak tentang dunia otomotif. Ia bercerita bahwa saat SMP sudah mampu membongkar motor, meski belum bisa merakitnya kembali.
Di jurusan tersebut, ia juga mempelajari proses kerja pembakaran pada karburator, kelistrikan motor dan sistem mekanik lainnya.
Namun, ketertarikannya pada dunia otomotif tidak berlanjut ke jenjang pendidikan menengah kejuruan.
Ia justru memilih untuk melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 6 Bogor dengan mengambil jurusan IPA.
Setelah lulus SMA, Rahmat melanjutkan studinya ke perguruan tinggi dengan mengambil program D3 Perbankan di Akademi Manajemen Kesatuan. Pada tahun 2009, ia melanjutkan ke jenjang S1 Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan.
Tak berhenti di sana, ia terus menambah wawasan dan kompetensinya dengan melanjutkan ke tahap Program Pendidikan Profesi Akuntan (PPAK) pada tahun 2012 di Universitas Trisakti untuk mendapatkan gelar Akuntan Profesional (Ak). Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang S2 pada tahun 2014 di Universitas Pancasila.
Dari Penyiar Radio Hingga Menjadi Dosen
Perjalanan karier Rahmat penuh dengan pengalaman unik. Selain menjadi dosen dan akademisi, pada tahun 2009 ia pernah menjadi penyiar di Radio MesRa (Mesjid Raya).
Tak hanya itu, ia juga sempat berjualan produk herbal. Semua pekerjaan itu dilakukannya sambil tetap menjalani perkuliahan.
Keberanian dan ketekunan dalam menjalani berbagai peran ini menunjukkan semangat belajar yang tinggi serta jiwa pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Sebelum akhirnya tertarik pada dunia akuntansi, Rahmat sempat merasakan kebingungan dalam menentukan arah karier saat bekerja di bidang perbankan.
Ia merasa bimbang antara melanjutkan karier di perbankan atau mencari jalan baru. Dalam pergolakan batin itu, ia berdiskusi dengan beberapa dosen dan meminta saran.
Setelah perbincangan tersebut, ia mendapatkan masukan untuk mencoba dunia akuntansi, terutama karena akuntansi memiliki cakupan yang luas dan fleksibel.
Ia pun menyadari bahwa bidang akuntansi sangat dibutuhkan di berbagai sektor, mulai dari perusahaan besar hingga lembaga sosial, karena hampir semua organisasi memerlukan akuntan untuk mengelola keuangannya.
Dalam perjalanannya sebagai dosen, Rahmat menghadapi berbagai tantangan, terutama saat diminta mengajar mata kuliah yang belum sepenuhnya dikuasai. Menurutnya, banyak orang yang beranggapan bahwa menjadi dosen itu mudah dan serba bisa.
Namun, ia mengakui bahwa saat kuliah dulu, dirinya bukanlah mahasiswa yang berprestasi. Sementara itu, pandangan umum terhadap dosen adalah sosok yang sempurna dan serba tahu.
Untuk mengatasi tantangan ini, ia berusaha mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan internet dan YouTube sebagai sumber pembelajaran tambahan, tentunya tetap dalam koridor kurikulum dan rencana pengajaran yang telah ditetapkan.
Merubah Paradigma Banyak Orang Terkait Kualitas Audit
Sebagai akademisi di bidang akuntansi, Rahmat tertarik pada isu kualitas audit. Dalam dunia akuntansi, kualitas audit biasanya dinilai berdasarkan kantor akuntan publik yang menaunginya, yang terbagi menjadi dua kategori: Big 4 dan non-Big 4 (middle atau kecil).
Selama ini, banyak penelitian yang menganggap audit berkualitas jika dilakukan oleh Big 4. Namun, ia melihat adanya kesenjangan dalam pendekatan tersebut yang secara tidak langsung mengecilkan peran kantor akuntan publik non-Big 4.
Ia pun mencari cara lain dalam menilai kualitas audit dengan pendekatan berbeda, yakni berdasarkan sehat atau tidaknya suatu perusahaan.
Menurut Rahmat, jika perusahaan tersebut sehat, maka perusahaan tersebut mau menerapkan standar akuntansi yang baik dan menjalankan tata kelola yang benar.
Dengan demikian, kualitas audit bisa dinilai baik tanpa harus mempertimbangkan apakah audit dilakukan oleh Big 4 atau bukan.
Pendekatan ini diterima dengan baik oleh rekan - rekannya dan komunitas akademik. Bahkan, metode penelitian yang digunakan olehnya mendapatkan banyak sitasi dalam jurnal ilmiah, menunjukkan bahwa banyak peneliti dan akademisi yang tertarik dengan pendekatan yang ditawarkannya.
Kedepannya, Rahmat memiliki rencana untuk menulis buku bersama rekannya tentang akuntansi masjid.
Ide ini muncul dari pengamatannya bahwa masih banyak masjid yang mengalami kesulitan dalam menyusun laporan keuangan yang transparan.
Ia juga ingin menulis jurnal tentang hubungan antara latar belakang pendidikan pengurus masjid dengan transparansi laporan keuangan.
Harapannya, jurnal ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengurus masjid agar lebih transparan dalam pengelolaan dana infak dan sedekah.
Di luar kegiatan akademik, Rahmat juga aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat, terutama dalam memberikan pelatihan di daerah dengan latar belakang pendidikan yang minim.
Ia mengakui bahwa memberikan pelatihan di tempat seperti itu menjadi tantangan tersendiri, namun, ia justru menikmati pengabdian masyarakat yang dilakukannya.
Pandangan Rahmat terhadap perkembangan akuntansi di Indonesia menurutnya sudah baik, karena saat ini banyak sekali entitas dan pelaku usaha yang sadar bahwa akuntansi itu penting.
Menurutnya, sebesar apa pun suatu perusahaan jika laporan keuangannya tidak dicatat secara benar, maka itu bisa menjadi bom waktu sehingga nantinya bisa saja biaya lebih yang dianggap laba, ternyata biaya yang ditahan dan malah menimbulkan kerugian.
Dari hal tersebut, pastinya kebutuhan pelaku usaha terhadap akuntan akan tinggi. Namun, di sisi lain tugas yang berat saat ini menjadi akuntan adalah bagaimana akuntan tersebut harus bisa beradaptasi dengan dunia digital karena saat ini sudah serba digital
Rahmat juga bercerita bahwa sering kali ia mengajak mahasiswa memberikan kesempatan untuk bekerja paruh waktu di timnya, di mana hal ini bertujuan agar mereka dapat belajar ataupun praktik secara langsung.
Melihat kesempatan ini banyak mahasiswa yang antusias sekali ingin belajar ataupun praktik secara langsung bersamanya.
Filosofi yang Selalu Dipegang Rahmat Irawan
Dalam kehidupan sehari-harinya, bukan hanya sebagai dosen ataupun praktisi, Rahmat selalu menerapkan filosofi, yaitu berupa kutipan hadis bahwa 'sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat pada yang lain.'
Menurutnya, sekecil apa pun manfaat yang diberikan bisa menjadi proses pembelajaran hidup. Ia percaya bahwa semakin banyak manfaat yang diberikan, semakin banyak pula rezeki yang datang, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga pengalaman hidup yang berharga.
Selain filosofi hidup, ada sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah ayahandanya.
Ada momen yang sangat mengharukan, yaitu saat ia akhirnya bisa mengajar di IPB, tempat sang ayah mengabdi menjadi dosen.
Walaupun sang ayah sudah tiada, semangat dan nilai-nilai hidup yang ditanamkan selalu menjadi pegangannya.
Dari Komite Audit Hingga Komisaris Independen
Dalam dunia akuntansi, pengalaman yang paling membanggakan bagi Rahmat adalah terpilih sebagai Komisaris Independen di salah satu perusahaan Tbk pada tahun 2024.
Ia merasa bangga karena tidak semua orang bisa mendapatkan posisi tersebut. Yang lebih mengesankan lagi, posisi ini didapatkan secara tidak sengaja setelah sebelumnya ia dipercaya sebagai anggota komite audit di perusahaan yang sama pada tahun 2018.
Pesan Untuk Genarasi Muda
Satu pesan yang Rahmat sampaikan adalah, membeli dan membaca buku. Menurutnya, generasi saat ini sudah bergantung pada slide PowerPoint, Ai, ataupun artikel Google, hingga mereka lupa untuk membaca buku.
Selain itu, ia pun mempunyai pesan khusus bagi generasi muda, yakni jangan takut salah jurusan atau merasa salah jurusan.
Menurutnya, tidak ada istilah salah jurusan dalam hidup karena semua proses adalah bagian dari perjalanan untuk menemukan minat dan bakat yang sebenarnya.
Baginya, semua ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah akan berguna di masa depan, terutama dalam dunia kerja.
Melalui perjalanan hidup dan karier yang inspiratif, Rahmat Irawan menunjukkan bahwa dengan semangat belajar yang tinggi, keberanian dalam mencoba hal baru, dan keinginan kuat untuk memberi manfaat bagi orang lain, menjadikan seseorang bisa mencapai kesuksesan yang membanggakan.
Sosok Rahmat menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan ketekunan. (***)
Penulis : Nabila Fasya Agustin
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University