RADAR BOGOR - Pemerintah pusat tengah berupaya untuk memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai peserta simulasi bencana terbanyak.
Pemecahan rekor MURI itu dilakukan sebagai bagian dari upaya mereka untuk memeriahkan Hari Kesiapsiaagaan Bencana (HKB) yang jatuh pada Jumat (26/4/2025).
Guna mendukung gagasan pemecahan rekor MURI tersebut, seluruh lembaga di Indonesia, termasuk sektor pendidikan turut dilibatkan. Tak terkecuali bagi para siswa, dari Sabang sampai Merauke.
Dalam hal ini, siswa asal Kota Bogor pun turut ambil bagian. Salah satu sekolah yang turut terlibat memecahkan rekor MURI peserta simulasi terbanyak itu ialah SDN Bubulak 1 Bogor.
Sebanyak 400 peserta didik dari kelas 1 hingga 6 dilibatkan langsung dalam simulasi penanganan bencana yang telah berlangsung pada, Sabtu (27/4/2025) siang.
“Alhamdulillah, SDN Bubulak 1 sudah mendaftar dan menjadi bagian dari upaya pemecahan rekor MURI ini. Kami melibatkan sekitar 400 siswa,” ujar Kepala SDN Bubulak 1, Sri Suyati.
Suyati menjelaskan pemecahan rekor MURI itu dibawah naungan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Mereka disebut Suyati meargetkan ada sebanyak I juta peserta yang harus ikut ambil bagian. Dia pun mengaku bersyukur sebab menjadi salah satu sekolah yang turut andil dalam cita-cita tersebut.
Simulasi bencana yang difokuskan Suyati ialah penanganan saat terjadinya gempa bumi. Hal ini dilakukan lantaran letak geografis sekolahnya rawan terjadinya pergeseran tanah.
“Sesuai hasil dari Inarisk, potensi bencana tertinggi di lingkungan sekolah kami adalah gempa bumi. Karena itu, kami uji SOP penanganannya,” terang Suyati pada Radar Bogor.
Beberap SOP yang diuji dalam kegiatan tersebut diantara evakuasi ke titik kumpul, pelaporan oleh wali kelas, hingga pengecekan bangunan oleh tim sarpras.
Lebih lanjut, Sri menyebutkan bahwa sekolah juga tengah menyiapkan rencana simulasi kebakaran sebagai antisipasi terhadap potensi risiko lainnya.
“Kebakaran menjadi salah satu bencana yang juga mungkin terjadi. Sementara banjir dan longsor relatif aman, karena secara geografis wilayah kami tidak terdampak,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini Suyati berharap, siswa tidak hanya tahu secara teori, tapi juga sudah terlatih.
Sehingga apabila benar-benar terjadi bencana, mereka tidak panik, tahu harus ke mana, dan siapa yang harus dilaporin. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin