RADAR BOGOR - Langkah taktis Naura Nurrahmah mengikuti Red Arrows Competition 2 tidak sia-sia. Santri asal Pondok Pesantren Al Ihsan Baron itu sukses menyabet medali perak di ajang panahan bergengsi di Kota Bogor.
Prestasi membanggakan yang ditorehkannya itu bukan didapat dengan cara cuma-cuma. Perempuan yang akrab disapa Naura tersebut, mengaku bahwa dirinya harus latihan panahan lebih kurang satu bulan.
Naura rela merenggut waktu istirahatnya untuk berlatih panahan. Padahal sebagai seorang santri dia memiliki banyak kesibukan. Mulai dari Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hingga menghafal ayat-ayat Al Quran.
“Untuk mengakalinya saya mulai latihan tiap pulang sekolah, sekira pukul 14.00 WIB sampai ashar. Abis itu saya mandi, lanjut tahfidz di pondok, setelahnya latihan lagi,” beber Naura.
Bukan sekedar latihan biasa. Bagi Naura memanah adalah satu kegiatan peribadatan sunnah. Dia meyakini setiap kali busur panah dilesatkan ada pahala yang dijanjikan tuhan.
Hal itulah yang membuat dirinya semakin getol untuk berlatih. Ditambah para guru di tempatnya menuntut ilmu, tidak henti-henti untuk memotifasi. Bagi Naura, kedua hal tersebut bagaikan doping penyemangat.
“Tiap kali latihan saya selalu punya target, pertama minimal anak panah sampai pada bantalan, terus naik ke arrows merah, sampai dipuncaknya yaitu dititik tengah,” ujarnya.
Skema latihan tersebut, didapat Naura dari dari hasil evaluasi event panahan yang sebelumnya dia ikuti. Saat itu Naura belum berhasil membawa pulang medali. Dia gagal di fase eliminasi.
Kegagalan tersebut cukup membuatnya terpukul. Namun dia bertekad untuk kembali di ajang panahan dengan penampilan optimal. Dengan persiapan yang jauh lebih matang ketimbang sebelumnya.
“Alhamdulillah berhasil, pada tanggal 27 April kemarin saya dapet perak, ini medali pertama saya di ajang panahan, terimaksih buat semuanya,” terang Naura.
Naura tidak menyangka saat itu podium berpihak kepadanya. Tuhan seoalah menjawab segala kerja kerasnya. Puluhan peserta tumbang. Anak panah yang dilesatkan Naura selalu tepat pada sasaran.
“Dan ini mungkin yah bukti kalau proses tidak akan pernah menyianyiakan hasil. Tentu saya tidak boleh puas diri, tapi semoga ini bisa menjadi motifasi,” pungkasnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin