Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB University Launching 3 Inovasi Terbaru di Bidang Pertanian, Wamentan Sebut Ini Luar Biasa

Dede Supriadi • Rabu, 14 Mei 2025 | 15:16 WIB
Rektor IPB University, Prof Arif Satria, melaunching tiga Inovasi Bidang Teknologi di Lobby Gedung Rektorat, Kampus IPB Dramaga, Rabu (14/5/2025).
Rektor IPB University, Prof Arif Satria, melaunching tiga Inovasi Bidang Teknologi di Lobby Gedung Rektorat, Kampus IPB Dramaga, Rabu (14/5/2025).

RADAR BOGOR - IPB University resmi kembali melaunching tiga Inovasi Bidang Teknologi di Lobby Gedung Rektorat, Kampus IPB Dramaga, Rabu (14/5/2025).

Adapun, inovasi-inovasi yang diluncurkan tersebut mencakup sektor pertanian, seperti Padi IPB 125-155 oleh Prof. Hajrial Aswidinoor, Automatic Weather Station (AWS) oleh Idung Risdiyanto.

Kemudian, terakhir inovasi robot pendeteksi penyakit tanaman cabai berbasis kecerdasan buatan alias AI yang dibuat peneliti IPB Ridwan Siskandar.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria menjelaskan pentingnya penerapan teknologi dalam berbagai bidang khususnya sektor pertanian.

"Kami setiap bulan launching. Di IPB ini ada seribu lebih inovasi. Jadi kalau kita launching sebulan 3 kali, maka butuh berapa puluh tahun baru selesai," kata Rektor IPB University, Prof. Arif Satria.

Oleh karenanya, Arif Satria meminta agar IPB University rutin mengeluarkan berbagai inovasi terbaru yang bisa diseminasikan ke masyarakat dengan lebih baik lagi.

Empat varietas yang diperkenalkan kepada masyarakat kali ini adalah varietas padi sawah IPB 12S, IPB 13S, IPB 14S, dan IPB 15S.

Di mana, varietas-varietas ini sebelumnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian pada 2023, lalu.

"Jadi hari ini varietas yang benar benar kita akan pasarkan, akan kita kembangkan adalah varietas baru. Karena IPB sudah punya IPB 13S, IPB 14S yang produktivitas 12 ton per hektare dan sudah diterapkan di 26 daerah di Indonesia," kata Prof. Arif Satria.

Saat ini, IPB menghasilkan 9G khusus padi gogo yang sudah banyak dimanfaatkan masyarakat.

"Ternyata itu ampibi bisa untuk sawah atau pun untuk lahan kering," ucapnya.

"Dan kita ada lagi untuk lahan untuk pasang surut. Jadi kalau pak wamen (wakil menteri) mencari untuk lahan pasang surut, kita juga sudah ada lahan ini juga untuk padi lahan naungan," sambung dia.

Dia berharap Botaniship sebagai perusahaan IPB untuk bisa memperbanyak penelitian melahirkan banyak inovasi pada akhirnya bisa dirasakan masyarakat Indonesia.

"Pak Azrial terimakasih, selamat atas varietas unggul yang sudah diharapkan agar bisa dikonsumsi, karena varietas baru ini memiliki rasa yang lebih enak, lebih pulen, ini beras premium," jelas Rektor IPB.

Terpenting, dijelaskan Prof. Arif Satria adalah bagaimana memproduksi benih agar dapat diproduksi dan disebarkan ke para petani.

Inovasi kedua adalah teknologi cuaca berbasis komunitas atau AWS, yang mendukung pertanian adaptif dan Keberlanjutan.

IPB sendiri saat ininsudah memiliki 100 AWS yang sudah diimplementasikan di lapangan.

Di mana, alat ini memiliki radius 20 kilo meter dengan akurasi yang sangat tinggi.

"Jadi kalau acara acara IPB sekarang menggunakan ini. Akurasinya kurang lebih 90 persen. Kalau teman-teman mau main golf, pakai ini akurasinya lebih tahu cuacanya," beber dia.

Inovasi ketiga atau terakhir yang dikembangkan IPB adalah robot cerdas menggunakan AI untuk mendeteksi penyakit yang terdiagnosa pada tanaman cabai.

"Kita sudah ada robot buat cabai, robot dan drone bawah air yang dikembangkan oleh teman teman. Ini saya kira sangat membantu untuk bisa secara cerdas mendeteksi pertumbuhan ikan dan sebagainya," imbuh dia.

Keberadaan robot pendeteksi penyakit pada tanaman cabai dinilai sangat penting, mengingat masuk Dalam produk yang rentan inflasi.

"Maka, ini penting untuk bisa ditingkatkan kualitas produksinya dan lebih lebih lagi, pak Syukur sebagai penghasil varietas cabai untuk bisa terus menghasilkan varietas unggul dengan produktivitas yang lebih tinggi dan kualitas lebih baik dan rasa lebih pedas lagi," ungkap Prof. Arif.

"Yang paling penting adalah impact, maanfaat oleh petani dan masyarakat. Kemandirian pangan itu keharusan, namun juga yang perlu kita pertegas adalah kemandirian teknologi pangan, dan teknologi pertanian juga menjadi keharusan," ucapnya lagi.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono yang hadir dalam launching inovasi IPB berharap dapat diimplementasikan dalam sebuah prodak yang siap diluncurkan.

Salah satunya, inovasi padi dengan varietas IPB 13S, 14S, dan 15S.

"Ini luar biasa dan ini bagian dari cara kita intensifikasi bagaimana dengan bibit yang baik bisa meningkatkan produktivitas pertanian," kata Sudaryono.

Lalu, inovasi AWS yang dapat melakukan analisa cuaca yang lebih benar, dan pasti.

"Saya tadi challange (robot pendeteksi penyakit tanaman cabai, harus ada antisipasi atau cara penanggulangannya dengan cara disemprot dengan pestisida atau herbisida atau dengan apapun, dengan menggunakan robot," pintanya.

Pada kesempatan itu, Sudaryono menyebut bahwa keberadaan kampus sangat penting dalam peran melahirkan berbagai inovasi.

"(Agar) masyarakat tidak menganggap enteng bahwa kampus perananya sangat besar, banyak hal-hal yang kita tidak ketahui, tapi kita rasakan, (banyak) alat yang kita pakai adalah hasil riset di kampus-kampus, termasuk beras, jagung dan makanan yang kita makan," tandas Sudaryono.(ded)

Editor : Alpin.
#ipb #teknologi #inovasi