RADAR BOGOR - Persoalan siswa putus sekolah menjadi pekerjaan rumah di Kota Bogor. Bahkan dalam setahun, jumlahnya tembus diangka 500 orang.
Angka siswa putus sekolah itu terhitung sepanjang 2024. Datanya didapati langsung dari laporan 6 kecamatan yang ada di Kota Bogor.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hendres Dwi Nugroho membenarkan informasi jumlah siswa putus sekolah tersebut.
Dia menerangkan ada 4 kategori siswa putus sekolah. Pertama karena belum pernah sama sekali mengenyam pendidikan.
“Kedua karena terhenti sejak SD, kemudian ada pula yang lulus SD tapi tidak lanjut ke SMP, dan terakhir siswa SMP yang tidak lanjut ke SMA, total keselurahan ada 599 orang,” beber Hendres
Hendres menerangkan 599 orang itu adalah mereka yang tidak bisa diselamatkan. Karena sebagian sudah ada yang melanjutkan pendidikan lewat program PKBM.
Mengajak siswa kembali untuk mengenyam pendidikan disebut Hendres bukan persoalan mudah. Sebab sebagian diantara mereka sudah tidak lagi memiliki motifasi untuk menimba ilmu.
“Karena banyak orang yang sudah terbiasa tidak sekolah mereka susah lagi untuk di ajak sekolah, terus juga banyak juga yang sudah melanjutkan kerja,” terang Hendres pada Radar Bogor, Rabu (21/5/2025).
Belum masuk smester I di tahun 2025, Hendres mengaku pihaknya sudah kembali mendapatkan laporan baru terkait siswa yang putus sekolah. Ini terhitung sejak bulan Januari hingga Mei lalu.
“Totalnya ada 65 orang. Jadi di bulan Januari kemarin datanya kami mulai lagi dari 0, dan sekarang angkanya udah segitu,” ujar Hendres saat dikonfirmasi lebih lanjut.
Hendres menerangkan, pendataan di tahun 2025 masih terus berlanjut. Sebab ada beberapa kecamatan yang belum mengisi laporan. Dan kemungkinan akan terus bertambah.
“Jadi 2.000 siswa putus sekolah yang sebelumnya pernah disampaikan itu adalah hasil perhitungan dari tahun 2022 sampai 2024 kemarin, yang 2025 belum masuk, karena pendataan masih terus berlanjut,” jelas Hendres.
Program Japati alias Jaringan Anti Putus Sekolah, jadi andalan Hendres untuk mengintervensi persoalan tersebut. Ini terdiri dari kader-kader posyandu yang ada di masing-masing kelurahan,
“Tim itu akan kami beri tugas untuk mengarahkan siswa tersebut ke lembaga PKBM, karena kebanyakan dari mereka yang sudah lewat usia pelajar, ditambah KBM di PKBM waktunya lebih fleksibel,” pungkasnya.
Berikut data siswa putus sekolah sepanjang 2024 :
Kecamatan Bogor Barat :
- Belum Pernah Sekolah : 88
- SD/Sederajat : 3
- SMP/Sederajat : 3
- SMA/ Sederajat : 1
Kecamatan Bogor Selatan
- Belum Pernah Sekolah : 12
- SD/Sederajat : 11
- SMP/Sederajat : 5
- SMA/ Sederajat : 2
Kecamatan Bogor Tengah
- Belum Pernah Sekolah : 114
- SD/Sederajat : 1
- SMP/Sederajat : 1
- SMA/ Sederajat : 2
Kecamatan Bogor Timur
- Belum Pernah Sekolah : 1
- SD/Sederajat : 4
- SMP/Sederajat : 2
- SMA/ Sederajat : -
Kecamatan Bogor Utara
- Belum Pernah Sekolah : 21
- SD/Sederajat : 2
- SMP/Sederajat : 2
- SMA/ Sederajat : -
Kecamatan Tanah Sareal
- Belum Pernah Sekolah : 301
- SD/Sederajat : 20
- SMP/Sederajat : 1
- SMA/ Sederajat : 2
Data siswa putus sekolah sepanjangtahun 2025, terhitung sejak Januari hingga Mei
Kecamatan Bogor Selatan
- Belum Pernah Sekolah : 3
- SD/Sederajat : 29
- SMP/Sederajat : 23
Kecamatan Bogor Tengah
- Belum Pernah Sekolah : 7
- SD/Sederajat : 2
- SMP/Sederajat : -
Kecamatan Bogor Timur
- Belum Pernah Sekolah : -
- SD/Sederajat : 1
- SMP/Sederajat : -
(rp1)
Editor : Yosep Awaludin