RADAR BOGOR - Pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB 2025 jenjang SD di Kota Bogor resmi dimulai, Senin (16/6/2025). Pelaksanaannya akan terus berlangsung hingga 18 Juni 2025 mendatang.
Pendaftaran SPMB 2025 jenjang SD di Kota Bogor dibuka secara online. Namun skema ini tidak menutup mereka untuk melakukannya di rumah. Masih banyak wali murid yang datang ke sekolah tujuan anaknya.
Hal itu seperti tercermin di pelataran SDN Kebon Pedes 1, Kota Bogor. Sedari pagi banyak wali murid yang berdatangan ke sekolah tersebut. Mereka kebingungan cara mendaftar SPMB 2025 via online.
Kondisi tersebut seperti dialami oleh Ade Zahrani. Warga asal Cibuluh itu sudah datang dari pukul 07.00 WIB ke SDN Kebon Pedes 1. Hal ini terpaksa dilakukan agar menghindari antrean.
Ade Zahrani sendiri hendak mendaftarkan keponakannya lewat jalur domisili. Namun dia mengaku bingung skema pendaftarannya. Karena ada perbedaan skema dari tahun lalu dengan yang sekarang.
“Dulu kan namanya zonasi sekarang domisili, bingung cara daftarnya gimana. Supaya ga salah makanya saya dateng ke sini. Tadi dari rumah ke sini sekitar jam 07.00 WIB,” bebernya.
Keluhan berbeda dialami wali murid lain. Amalia misalnya. Dia mengaku resah karena server SPMB 2025 tidak bisa diakses. Padahal peralatan elektronik dirumahnya sudah lengkap. Seperti wifi dan laptop.
Amalia mengaku panik karena khawatir sang buah hati gagal masuk ke sekolah impiannya. Server SPMB sudah dia klik sejak pukul 08.00 WIB. Namun hingga pukul 10.00 WIB website tersebut tidak bisa diakses.
“Karena kuotanya terbatas. Jadi panik. Ini sudah dari jam 8 loading terus. Padahal di rumah ada Wifi ada laptop. Tapi ini muter terus. Kami ambil jalur domisili,” terang Amalia.
Server yang sulit diakses itu juga dibenarkan oleh, Ketua Pelaksana SPMB SDN Kebon Pedes 1, Friska Emilia Aritonang. Kondisi itu disebutnya membuat para wali murid panik.
Friska menyebut penyebab server down sendiri karena banyak warga yang mengakses. Untuk membuat mereka tenang, pihaknya pun tim khusus untuk memberikan pelayanan kepada para wali murid.
“Iya orang tua banyak yang panik. Servernya down karena banyak yang akses. Mereka bingung ketika memasuki NIK anak tapi akunnya tidak terdaftar. Padahal memang seperti itu. Karena akun baru,” jelasnya.
Guru kelas 5 SDN Kebon Pedes 1 itu juga tidak menampik bahwa masih saja ada orang tua yang bingung perbedaan antara jalur domisi dan zonasi. Padahal menurutnya itu hanya perbedaan istilah saja.
“Kalau persyaratan umum sebetulnya sama, seperti KK, akte kelahiran kemudian titik pendaftaran. Hanya kalau di afirmasi yang berasal dari kurang mampu ditambahkan dengan PKH. Kalau ABK ringan ditunjang dengan Sikolog,” ujarnya.
Di SDN Kebon Pedes 1 sendiri, Friska membeberkan bahwa pihaknya membuka kuota calon siswa baru sebanyak 112. Ini terdiri dari 24 rombel yang telah disediakan.
“Iya 112 itu dari semua jalur. Nah untuk persentasenya sesuai dengan Juknis SPMB 2025 dari Dinas Pendidikan. Kami buka 24 rombel,” pungkasnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin