Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

JPPI Minta Kabupaten Bogor Jadi Percontohan Pendidikan Inklusif, Kecam Praktek Diskriminasi Anak Disabilitas

Muhamad Rifki Fauzan • Sabtu, 21 Juni 2025 | 11:33 WIB
Momen anak anak disabilitas saat mengikuti kampanyen pendidikan inklusif di Stadion Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Sabtu 21 Juni 2025.
Momen anak anak disabilitas saat mengikuti kampanyen pendidikan inklusif di Stadion Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Sabtu 21 Juni 2025.

RADAR BOGOR - Pemerintah Kabupaten Bogor diminta segera menerapkan skema pendidikan inklusif. Harapan ini tertuang dalam kegiatan Global Action Week Gawe, di Stadion Pakansari Cibinong, Sabtu 21 Juni 2025.

Global Action Week Gawe sendiri diinisiasi Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang berkolaborasi dengan Yayasan Difable Action Indonesia. Ada 200 anak disabilitas yang ikut terlibat.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji menjelaskan Global Action Week Gawe merupakan kampanye pendidikan inklusif.

Ini dipandang penting untuk keberlangsungan hidup anak-anak penyandang disabilitas.

Ubaid menyebut, jika mengacu pada data Disabilitas Komite Nasional hanya ada 4 persen anak-anak penyandang disabilitas yang sekolah di tempat formal. Baginya angka tersebut sangat kecil sekali.

“Maka kami ingin suarakan pendidikan inklusif lewat Bogor. Kami berharap Kabupaten Bogor bisa menjadi percontohan bagaiamana pemerintah bisa memberikan layanan yang baik terhadap anak anak disabilitas,” jelas Ubaid.

Momentum Hari Jadi Bogor (HJB) diharap bisa menjadi kado istimewa terhadap layanan pendidikan anak-anak disabilitas.

Apalagi ini bertepatan dengan berlangsungnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Ubaid menginginkan tidak ada diskriminatif pendidikan terhadap anak-anak disabilitas.

Sebab menurut laporan yang diterimanya, di wilayah lain praktek tercela itu masih saja terjadi.

“Kami mendapat banyak pengaduan bahwa sekolah menolak anak disabilitas mendaftar. Kami tidak setuju dan mengcam adanya pihak pihak sekolah yang menolak anak-anak disablitas yang mendaftar,” tegasnya.

Bagi Ubaid ketika anak-anak disabilitas mendaftar ke sekolah formal seharusnya diberi karpet merah.

Sebab bagi mereka sendiri itu seharusnya sudah menjadi nilai plus dengan berbagai macam kekurangannya.

“Anak disabilitas ini halangannya banyak. Mulai dari stigma,diskriminasi. Mereka berani mendaftar aja udah luar biasa. Jangan sampai mereka yang berani mendaftar berani keluar rumah. Berani sosialisasi. Sampe sekolah malah ditolak. Ini sangat mendzolimi anak anak disabilitas,” tegasnya.

Disamping itu, Ubaid juga menuturkan anak-anak disabilitas tidak kalah dengan mereka yang terbilang normal.

Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Presiden Abdurahman wahid saat memimpin Indonesia.

“Beliau (Gus Dur) juga kan bagian dari itu. Jadi sebetulnya kalau anak anak disabilitas diberi ruang, diberi kesempatan, mereka pasti mampu membuktikan. Disamping kekurangan yang mereka alami, ada kelebihan yang harus dihargai,” pungkasnya.(rp1)

MICE MENGGELIAT: Sejumlah peserta menghadiri salah satu kegiatan pertemuan di Hotel Lombok Raya Mataram.
MICE MENGGELIAT: Sejumlah peserta menghadiri salah satu kegiatan pertemuan di Hotel Lombok Raya Mataram.
Editor : Alpin.
#pemkab bogor #Global Action Week Gawe #pendidikan inklusif