RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengizinkan kegiatan belajar mengajar dengan jumlah siswa dalam satu kelas mencapai 50 orang. Kebijakan ini menimbulkan berbagai tanggapan dari kalangan pendidik, termasuk di Kabupaten Bogor.
Ketua PGRI Kabupaten Bogor Amsohi, menilai keputusan tersebut pasti telah melalui kajian dan pertimbangan matang. Ia mengatakan pimpinan tidak mungkin mengambil langkah besar tanpa memikirkan konsekuensinya.
"Kalau kita bicaranya begini. Apabila itu sudah menjadi keputusan beliau pasti telah memperhitungkan," kata Amsohi kepada Radar Bogor.
Menurutnya, alternatif solusi pasti sudah disiapkan, termasuk soal ruang dan sarana pendukung pembelajaran dan ia menyebut kebijakan itu bisa saja disesuaikan dengan situasi sekolah masing-masing.
“Pimpinan ambil keputusan, berarti kan sudah ada alternatifnya begitu,” ucapnya.
Amsohi yang pernah menjadi guru mengaku dulu pun sempat mengalami keterbatasan sarana belajar. Namun standar pembelajaran tetap mengacu pada kriteria nasional.
"Kalau zaman saya jadi guru mah segalanya penuh kekurangan, ruangannya juga," ujar Amsohi.
Ia tak menampik, jumlah siswa dalam satu kelas yang terlalu banyak bisa berdampak pada proses belajar. Tapi saat ini, pendekatan berbasis teknologi bisa menjadi solusi pendukung.
“Sekarang kan sudah ada pendekatan IT. Siapa tahu itu bisa terbantu,” katanya.
Soal efektif atau tidaknya, Amsohi menilai kebijakan ini perlu diuji lebih dulu. Evaluasi menjadi penting agar implementasinya tidak justru membebani guru dan siswa.
“Kan belum dimulai. Nah nanti setelah diberlakukan baru dievaluasi bagaimana efektivitasnya,” pungkasnya. (rp1)
Editor : Eka Rahmawati