RADAR BOGOR - Setiap tahun, pemandangan ribuan mahasiswa mengenakan topi toga persegi di acara wisuda menjadi simbol universal kelulusan dan prestasi akademik.
Namun, sedikit yang mengetahui bahwa asal mula aksesori ikonik ini dapat ditelusuri jauh ke masa abad pertengahan di Eropa.
Topi toga, dengan bentuknya yang khas, berevolusi dari pakaian fungsional menjadi penanda kehormatan intelektual.
Sejarah topi toga wisuda berakar pada praktik busana para sarjana dan biarawan pada abad ke-12 dan ke-13 di universitas-universitas pertama di Eropa seperti Bologna dan Paris.
Pada masa itu, iklim di Eropa yang dingin mendorong para akademisi untuk mengenakan jubah panjang bertudung atau topi yang lebih tebal.
Pakaian ini berfungsi ganda: sebagai penghangat dan penanda status mereka sebagai kaum terpelajar.
Awalnya, bentuk topi yang digunakan bervariasi, mulai dari tudung sederhana hingga topi berbentuk bulat. Seiring waktu, desainnya mulai distandarisasi.
Topi persegi yang kita kenal sekarang, sering disebut sebagai mortarboard atau square academic cap, diyakini berkembang dari pileus quadratus, sejenis topi yang dikenakan oleh klerus dan akademisi pada abad ke-15.
Bentuk persegi itu sendiri kemungkinan besar melambangkan buku, memberikan representasi visual dari pengetahuan dan pembelajaran.
Perkembangan universitas dan sistem gelar di Eropa kemudian membawa topi toga menjadi bagian tak terpisahkan dari upacara akademik.
Setiap fakultas atau tingkat gelar seringkali memiliki warna atau variasi tertentu pada rumbai topi, menandakan disiplin ilmu yang ditempuh oleh sang wisudawan.
Penggunaan rumbai yang digeser dari kiri ke kanan setelah nama dipanggil juga merupakan tradisi simbolis yang menandakan transisi dari status mahasiswa menjadi lulusan atau profesional.
Tradisi mengenakan topi toga ini kemudian menyebar luas ke seluruh dunia seiring dengan ekspansi sistem pendidikan Barat.
Di Amerika Utara, Inggris, dan kemudian Asia, topi toga menjadi elemen esensial dari upacara kelulusan, melambangkan pencapaian intelektual dan perjalanan panjang dalam mengejar ilmu.
Meskipun zaman terus berubah, topi toga wisuda tetap lestari sebagai simbol universal dari dedikasi, kerja keras, dan keberhasilan dalam pendidikan tinggi.
Lebih dari sekadar aksesori, ia adalah warisan sejarah yang terus mengingatkan kita akan nilai pengetahuan dan pentingnya perayaan pencapaian akademik. (*)