RADAR BOGOR - Penelitian para pakar kelautan IPB University berhasil mengkuantifikasi keindahan terumbu karang dengan tingkat akurasi mendekati maksimal, yang bisa jadi akan menjadi standar bagi peneliti dunia.
Pihak Mars Coral Reef Restoration Project merupakan tim yang melakukan upaya restorasi terumbu karang di Sulawesi Selatan yang mana upaya tersebut dipantau oleh tim gabungan, termasuk para peneliti dari IPB University.
Penelitian yang bisa disebut kolaborasi riset antara tim peneliti IPB University dengan para peneliti internasional dari Lancaster University, University of Montpellier, serta University of Texas ini dikepalai oleh Cut Aja Gita Alisa, seorang mahasiswa pascasarjana di Program Studi Ilmu Kelautan IPB University.
Hasil penelitian juga sudah dipublikasikan melalui jurnal bereputasi yakni Scientific Reports dan di Nature.com berjudul "Benthic communities on restored coral reefs confer equivalent aesthetic value to healthy reefs".
Riset ini melibatkan beberapa peneliti IPB University yakni Dr. Beginer Subhan, Dr. Tries B. Razak, dan Prof. Dr. Ir. Neviaty P. Zamani, M.Sc., serta mahassiswa pascasarjana lainnya yakni Rindah Talitha Vida.
Pakar Restorasi Terumbu Karang Indonesia Beginer Subhan mengatakan timnya menggunakan AI (Artificial Intelligent) atau kecerdasan buatan dalam penelitian ini.
"AI bertugas membantu kami membuat keputusan untuk mengkuantifikasi keindahan terumbu karang hasil restorasi," ujar Beginer Subhan dalam keterangannya.
Hasil penelitian diharapkan bisa menjadi standar yang digunakan untuk menilai keberhasilan kegiatan restorasi terumbu karang di Indonesia, bahkan di dunia.
Sementara terdapat para peneliti asing yang juga terlibat di antaranya Tim Lamont, Nicolas Mouquet, Nicholas Graham, Christopher Hemingson, dan David Mouillot. Juga tim monitoring Mars Coral Restoration Project, kelompok peneliti kelautan anak bangsa yang berbasis di Makassar.
Terkait keterlibatan AI, Gita Alisa menyampaikan bahwa mereka juga melakukan teknik fotografi dengan jenis kamera bawah air Olympus TG-5 yang kemudian dinilai oleh AI.
"Hasilnya adalah R kuadrat sama dengan 0,95," ujar Gita Alisa.
R2 = 0,95 maksudnya dalam banyak penelitian di seluruh dunia, nilai kuadrat R hingga mendekati angka 1 masuk dalam kategori high prediction accuracy atau akurasi sangat tinggi.
Sehingga saat AI mengkuantifikasi keindahan terumbu karang hasil restorasi tersebut sangat mirip dengan yang alami maka penelitian ini pun mengkonfimasi bahwa upaya restorasi yang dilakukan dengan baik dan benar bisa mengembalikan keindahan terumbu karang yang setara dengan yang masih sehat alami.
Metode Pemantauan
Indonesia merupakan negara dengan program restorasi terumbu karang terbanyak, di antara negara lain di dunia dan terumbu karang yang sudah mati tidak bisa dihidupkan lagi.
Dengan banyaknya program restorasi terumbu karang, maka Indonesia mengantungi banyak pengalaman menangani teknik pemulihan dari berbagai sektor seperti pemulihan terumbu karang rusak yang masih memiliki jaringan hidup, modifikasi kondisi air, hingga pemulihan lingkungan perairan di sekitar terumbu karang.
Metode restorasi yang diteliti dalam riset ini adalah memakai metode "Reef Star" yang diprakarsai oleh Mars Coral Restoration Project-sebuah cara memulihkan potongan dan pecahan tubuh terumbu karang, sehingga tutupan karang di laut yang tadinya hanya 10 persen, menjadi 60 persen.
Ketika terumbu karang menderita stres akibat pemanasan suhu air laut akibat perubahan iklim global, atau tercemar oleh aktivitas manusia - bahkan rusak, maka yang tampak pada kasat mata yakni perubahan keindahannya.
Para pakar kelautan IPB University dan kolaborator dalam proyek sepakat bahwa terumbu karang kehilangan daya tarik visualnya.
Sehingga para pakar kelautan kemudian mencoba membuat program pemantauan restorasi terumbu karang untuk mengembalikan bentuk visualnya.
Ada 18 lokasi pengambilan sampel terumbu karang, yang terletak di sekitar Pulau Bontosua, Sulawesi Selatan dan para peneliti memilih lokasi terumbu karang dari area seluas 0,79 km2.
"Artinya, kualitas air dan kondisi cuaca, setiap harinya konsisten di semua lokasi tidak boleh berubah," papar Dr. Beginer.
Sebelum masuk dalam penilaian oleh AI, para peneliti tersebut membagikan 883 foto terumbu karang dengan berbagai kondisi seperti sehat, restorasi, hingga rusak tersebut secara acak kepada 3.348 responden seluruh dunia, melalui koneksi dunia maya atau online.
Ribuan koresponden berasal dari Perancis, Indonesia, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, dengan kategori akademisi, pemerhati lingkungan, LSM, dan komunitas ilmiah yang mana hasilnya terdiri dari berbagai latar belakangpun konsisten, memilih foto terumbu dengan warna-warni cerah dan struktur karang kompleks.
Mereka memilih mana yang paling indah dan menegaskan pentingnya keragaman visual dalam menarik minat masyarakat pada terumbu karang.
Pemanfaatan AI
Dengan perpaduan metode restorasi dengan AI para peneliti IPB University kini berhasil memprediksi besaran nilai keindahan terumbu karang di area restorasi yang setara dengan terumbu sehat alami.
Pada era media sosial dan keterbukaan informasi yang nyaris tanpa batas ini pun penggunaan AI harus dilakukan dengan pertimbangan manfaat positif yang maksimal.
Sehingga hal itulah yang membuat IPB University memanfaatkan AI dalam penelitian ini, khususnya dalam mendorong pemanfaatan teknologi AI dalam konservasi laut.
Ke depan IPB University juga akan memanfaatkan AI untuk memantau pemulihan ekosistem secara efisien dan objektif, mendukung upaya perlindungan laut di Indonesia dan dunia.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi bisa membantu pengelolaan kawasan konservasi dan ekowisata berbasis laut, memastikan bahwa restorasi karang memberikan manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Selain itu penelitian ini juga memperkuat peran IPB University dalam kontribusi sains restorasi laut dan menunjukkan potensi besar Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam konservasi laut berbasis teknologi.
Editor : Eka Rahmawati