RADAR BOGOR – Simak pembahasan mengenai Sekolah Rakyat, sebuah gagasan yang diinisiasi oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto.
Sekolah Rakyat ini merupakan lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah dengan menanggung seluruh biaya pendidikan siswa.
Ini mencakup biaya seragam, akomodasi (asrama), perlengkapan sekolah seperti alat tulis dan buku, bahkan biaya makan selama 24 jam.
Ada pertanyaan menarik yang sering muncul: "Pendaftaran siswa untuk Sekolah Rakyat sudah ditutup.
Lalu, bagaimana nasib adik-adik yang memiliki keterbatasan ekonomi dan tidak diterima pada pendaftaran sekolah tahap 1 dan 2? Apakah mereka putus sekolah?"
Pertama, perlu dipastikan di mana lokasi tinggal penanya. Sebaiknya tanyakan langsung ke Dinas Sosial setempat di tingkat kabupaten.
Perlu diingat, keberadaan Sekolah Rakyat saat ini masih terbatas di beberapa wilayah dan sebagian lainnya masih dalam tahap pembangunan.
Apabila di tingkat kabupaten pendaftaran sudah ditutup, coba tanyakan ke Dinas Sosial di tingkat provinsi.
Penerimaan siswa/siswi baru di Sekolah Rakyat, khususnya di tingkat provinsi, masih dibuka. Jadi, teruslah mencari informasi terbaru.
Meskipun bertujuan membantu, tidak semua anak yang memiliki keterbatasan ekonomi dapat langsung bersekolah di Sekolah Rakyat.
Ada beberapa persyaratan mutlak yang wajib dipenuhi:
1. Asal Keluarga Miskin atau Miskin Ekstrem
Calon siswa harus berasal dari keluarga miskin atau miskin ekstrem. Kriteria ini menjadi prioritas utama.
Mereka biasanya berada pada posisi desil rendah (desil 1 dan desil 2) dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Jika data calon siswa belum terdaftar di DTSEN, mereka belum bisa disekolahkan di Sekolah Rakyat.
2. Motivasi Belajar Tinggi
Calon siswa harus memiliki motivasi belajar yang sangat tinggi. Pihak Dinas Sosial setempat atau petugas khusus akan melakukan asesmen (survei) terhadap calon siswa dan keluarganya.
Proses ini bisa memakan waktu berhari-hari untuk menentukan apakah motivasi belajar mereka cukup tinggi dan apakah mereka layak diterima.
3. Keterlibatan Orang Tua/Wali
Orang tua atau wali harus siap sepenuhnya melepaskan anak untuk tinggal di asrama sekolah.
Anak-anak yang bersekolah di sini akan menghabiskan sebagian besar waktunya di asrama bersama siswa dari berbagai daerah, jauh dari wali atau orang tua.
4. Kondisi Kesehatan Memenuhi Syarat
Calon siswa harus dalam kondisi sehat dan dibuktikan dengan surat keterangan kesehatan dari pihak berwenang.
Meskipun Sekolah Rakyat akan menyediakan fasilitas kesehatan, pemeriksaan rutin, dan makanan bergizi, kesehatan awal calon siswa harus memenuhi standar yang ditetapkan.
Tahapan Pendaftaran Sekolah Rakyat:
1. Pastikan Status Ekonomi di DTSEN
Pastikan apakah orang tua calon siswa sudah menerima bantuan sosial seperti PKH atau BPNT.
Jika sudah, verifikasi apakah posisi desil mereka di DTSEN berada pada desil rendah (skala prioritas sebagai keluarga sangat miskin atau miskin ekstrem).
2. Melapor ke Pendamping Sosial atau Dinas Sosial
Jika persyaratan di atas terpenuhi, laporkan nama calon siswa kepada pendamping sosial PKH setempat atau langsung datangi Dinas Sosial setempat.
3. Proses Asesmen dan Verifikasi
Setiap Dinas Sosial di daerah memiliki petugas yang akan membantu melengkapi persyaratan lainnya.
Petugas ini akan mendatangi rumah KPM untuk melakukan asesmen atau survei.
Setelah itu, barulah bisa dipastikan apakah anak tersebut memenuhi syarat untuk disekolahkan di Sekolah Rakyat.
Keberadaan Sekolah Rakyat ini membawa harapan besar, terutama bagi adik-adik di daerah pedalaman atau dengan akses pendidikan terbatas.
Seperti yang sering terjadi, di beberapa wilayah terpencil, fasilitas pendidikan sering kali hanya tersedia hingga tingkat SD.
Untuk melanjutkan ke jenjang SMP atau SMA, anak-anak harus pergi ke kota kabupaten, yang berarti mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk tempat tinggal atau akomodasi lainnya.
Asrama gratis dari pemerintah pun sering kali terbatas atau sudah penuh.
Pemerintah berharap, dengan adanya Sekolah Rakyat ini, adik-adik yang memiliki keterbatasan ekonomi atau akses geografis dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan SMA.
Dengan pendidikan yang mumpuni, mereka diharapkan mampu mengubah nasib keluarga dan mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan.***
Editor : Eli Kustiyawati