Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sejumlah Kampus Swasta di Bogor Pontang Panting Cari Mahasiswa Baru, Apa Penyebabnya? Simak Pengakuan Para Rektor

Muhamad Rifki Fauzan • Minggu, 13 Juli 2025 | 17:55 WIB
Ilustrasi mahasiswa baru
Ilustrasi mahasiswa baru

RADAR BOGOR - Sejumlah kampus swasta di Kota dan Kabupaten Bogor kini harus putar otak demi mendapatkan mahasiswa baru.

Tren ini terlihat dari data pendaftar di Universitas Pakuan (Unpak) yang memang masih tinggi, namun tidak diiringi dengan jumlah mahasiswa baru yang melakukan registrasi.

Jumlah mahasiswa baru yang mendafta bahkan tercatat jauh lebih besar dibandingkan yang akhirnya resmi menjadi mahasiswa.

“Kita sampai sekarang bulan Juli itu ada yang daftar 2. 549. Kemudian yang registrasi atau yang diterima 883,” kata Rektor Unpak, Prof. Didik Notosudjono.

Menurut rektor, rendahnya minat melanjutkan pendidikan tinggi tidak sepenuhnya disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat.

Namun, lebih karena terbatasnya kemampuan ekonomi keluarga pasca-pandemi dan tekanan biaya hidup.

“Menurut saya dan pandangan saya. Masyarakat itu sebetulnya ingin sekolah. Namun kelihatannya mungkin karena kondisi perekonomian sehingga mungkin ada penurunan,” katanya.

Prof. Didik mencontohkan, hanya sepertiga dari lulusan SMA di wilayah Bogor yang memilih kuliah.

Angka itu menurutnya sangat rendah dan menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi nasional.

“Contoh angka di Bogor itu yang masuk perguruan tinggi hanya 30 persen. Dari total anak SMA yang lulus. Ini merupakan animo yang kecil sekali. Ini yang berat.”

Ia menyebut, kondisi ini menjadi ancaman besar bagi target pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Pemerintah diminta untuk lebih aktif turun tangan membantu masyarakat tidak mampu agar bisa kuliah.

“Sehingga masyarakat sangat perlu dibantu kalau kita mau mencapai Indonesia emas tahun 2045. Maka ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah bagaimana membantu masyarakat yang tidak mampu,” jelasnya.

Berbagai skema beasiswa dari pemerintah pusat menjadi tumpuan agar angka partisipasi kuliah tidak terus merosot. Ia mendorong penguatan dan perluasan program beasiswa pendidikan tinggi.

“Misalnya Kemendikbudristek itu mendorong untuk memperbanyak beasiswa-beasiswa KIP itu sendiri atau PDDI itu sendiri,” tuturnya.

Ia juga mengkritik panjangnya masa pendaftaran jalur mandiri di kampus negeri yang membuat calon mahasiswa menunda-nunda pilihan. Akibatnya, banyak yang batal mendaftar ke kampus swasta karena terlalu lama menunggu.

“Itu yang harus ditulis bagaimana pemerintah harus membatasi perguruan tinggi jalur mandiri, bukan sampai bulan Juli. Kalau bisa bulan April sudah berhenti,” ujarnya.

Dengan waktu pendaftaran yang terlalu panjang di kampus negeri, perguruan tinggi swasta kehilangan kesempatan emas untuk menarik calon mahasiswa. Beban operasional pun ikut membengkak tanpa kepastian jumlah mahasiswa.

“Kasih nafaslah perguruan tinggi swasta. Terus terang saya juga bejibaku. Saya sendiri juga menambahkan income sendiri seperti dari penelitian kemudian giat-giat yang lain dan usaha lain,” tuturnya.

Unpak sendiri sudah menerapkan berbagai strategi promosi, baik online maupun turun langsung ke sekolah-sekolah.

Namun, ia tetap khawatir jika kebijakan pendidikan tidak segera diperbaiki secara menyeluruh.

“Teras kita tuh sudah memakai strategi wahana Instagram, WhatsApp untuk promosi bahkan datang ke SMA-SMA,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Jumlah pendaftar memang besar, tetapi lebih dari separuhnya menggantungkan harapan pada beasiswa.

“Hampir 60 persen mahasiswa yang sudah daftar mengharapkan beasiswa,” ujar Rektor UIKA, Prof. Dr. Endin Mujahiddin.

Ia menyebut, krisis ekonomi membuat keluarga kesulitan menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, meskipun minatnya tinggi. Bahkan biaya kuliah di kampus swasta disebutnya tidak selalu lebih mahal dibanding negeri.

Ia juga menyoroti kondisi sosial-ekonomi nasional yang disebut berada dalam situasi paradoks. Meski masuk kategori negara kelas menengah atas, angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi.

“Iya, jadi kecenderungan sekarang itu memang karena ekonomi yang kurang baik-baik, ya. Kan posisinya, kita ini masuk kategori upper middle class, ternyata kategori orang Indonesia yang miskinnya itu sekarang 60%, bukan 6% lagi,” jelasnya.

Menurutnya, bantuan pendidikan harus menjadi prioritas untuk memutus rantai kemiskinan antar-generasi.

Ia menegaskan peran pemerintah dalam mendampingi anak-anak bangsa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.

“Karena itu saya sangat berharap pemerintahbaik pusat, kemudian provinsi, kemudian pemerintah kabupaten/kota peduli lah kepada warganya yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi untuk memutus mata rantai kemiskinan mereka,” terangnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Dakwah UIKA Bogor, Dr. Hambari, menjelaskan, beban ekonomi ini tidak hanya terjadi di Bogor, tetapi juga hampir di seluruh kampus swasta di Jawa Barat.

Informasi ini ia peroleh dari jaringan kampus swasta saat pertemuan antarperguruan tinggi. “Kemarin dapat info dari kampus-kampus di Jawa Barat lain, di daerah lain menghadapi masalah yang sama,” ucap Hambari.

Ia menambahkan, jumlah lulusan SMA yang langsung bekerja masih tergolong kecil. Sementara itu, sebagian besar lainnya belum terdata atau melanjutkan pendidikan.

“Sebagai contoh tahun lalu itu yang lulus SMA sederajat itu sekitar 40-an persen yang melanjutkan perguruan tinggi, yang bekerja itu 7 persenan, sisanya itu belum terdeteksi,” terangnya.

Ia menyebut, tahun ini jumlah pendaftar jalur beasiswa meningkat cukup signifikan. Sedangkan untuk jalur reguler masih terus dalam proses hingga September.

“Kemarin yang melalui jalur beasiswa minggu lalu hampir 1.500-an, sedangkan reguler sekitar 400 lebih.” Bebernya

Sementara itu, tren berbeda justru terjadi di Universitas Nusa Bangsa (UNB). Kampus ini mencatatkan peningkatan jumlah pendaftar dibanding tahun lalu.

“Alhamdulillah, pendaftaran tahun ini ke UNB meningkat tajam, meningkat baik. Tahun kemarin kan kita hanya 270. Sekarang, hari ini yang tadi saya bilang, sudah 300 lebih yang sudah daftar ke UNB,” ujar Wakil Rektor III UNB, Karmanah.

Meski jumlah pendaftar naik, tantangan tetap ada di sisi pembiayaan. Ia menyebut, minat masyarakat tinggi, tapi tidak dibarengi dengan kemampuan ekonomi.

“Sebetulnya minat mereka tinggi untuk belajar. Dari pengalaman saya ke masyarakat, tetapi itu terkendala pembiayaan-pembiayaan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, UNB membuka sejumlah skema beasiswa internal bagi mahasiswa berprestasi. Hal ini dilakukan untuk memperluas akses dan mendorong semangat kuliah.

“Seperti yang saya sampaikan, kami ada beasiswa prestasi, kemudian anak-anak yang berprestasi baik secara akademik maupun di olahraga, atau juga yang tahfidz Quran, kami sediakan,” ujarnya.

Namun demikian, ia juga mengkritisi sistem akses beasiswa dari lembaga lain yang kerap membingungkan.

Menurutnya, tidak semua keluarga mampu mengakses atau memenuhi persyaratan teknisnya.

“Padahal kan link-nya ada, tapi setelah kita masuk, mungkin persyaratannya yang terlalu sulit atau bagaimana. Itu juga perlu dipikirkan,” keluhnya

UNB sendiri masih membuka gelombang pendaftaran dan menargetkan 500 mahasiswa baru tahun ini. Mereka juga tengah memproses pembukaan tujuh program studi tambahan.

“Kami rencana tahun ini, bismillah dengan kapasitas tampung kita, program studi yang ada, kapasitas ruangan, sarana-prasarana juga, kami memang bisa menampung sekitar lima ratusan,” pungkasnya. (rp1)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #mahasiswa baru #kampus swasta