Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Ikhsan Salah Satu Siswa dari Sekolah Rakyat SRMA: Anak Buruh yang Cita-Cita Jadi Bupati

Tegar Widya Utomo • Sabtu, 19 Juli 2025 | 08:59 WIB

Captoin Foto: Kisah Ikhsan murid Sekolah Rakyat SRMA yang bermimpi menjadi Bupati.
Captoin Foto: Kisah Ikhsan murid Sekolah Rakyat SRMA yang bermimpi menjadi Bupati.


RADAR BOGOR - Ikhsan Fajar Susandi, seorang pelajar berusia 16 tahun dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki cita-cita besar di usianya yang masih muda.

Ikhsan seorang pelajar Sekolah Rakyat SRMA bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi bupati, bukan semata-mata demi prestise, melainkan karena ingin memberi manfaat bagi masyarakat, terutama di daerah asalnya..

Dalam sesi dialog santai tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menanyakan secara langsung kepada para siswa tentang cita-cita para murid Sekolah Rakyat SRMA.

Ketika giliran Ikhsan tiba, ia menjawab pertanyaan menteri yang disapa Gus Ipul itu dengan yakin bahwa ia ingin menjadi seorang bupati.

Pernyataan itu langsung disambut dengan tepuk tangan dan semangat dari rekan-rekan sekelasnya.

Baca Juga: Menteri Sosial Gus Ipul: Sekolah Rakyat Bukan Cuma Tempat Belajar, tapi Obor untuk Masa Depan Anak Bangsa

Hal itu bukan tanpa alasan, karena Ikhsan memang telah menunjukkan jiwa kepemimpinan sejak dini, bahkan kini dipercaya sebagai ketua kelas.

Motivasi Ikhsan untuk menjadi seorang kepala daerah berangkat dari pengalaman pribadi dan kondisi di lingkungannya.

Ia teringat akan tetangganya yang menderita kanker lutut dan akhirnya meninggal dunia menjelang hari raya Idul Fitri dua tahun lalu.

Menurut Ikhsan, saat itu tetangganya sulit mendapatkan akses perawatan medis karena fasilitas kesehatan yang sangat terbatas di daerah tempat tinggalnya.

Ia tinggal di Clapar III, Kelurahan Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, di mana jarak ke rumah sakit cukup jauh dan sulit dijangkau, terutama oleh para lansia.

Hal ini yang kemudian mendorongnya bercita-cita membangun rumah sakit di wilayah tersebut jika suatu hari ia dipercaya menjadi bupati.

Latar belakang keluarga Ikhsan pun cukup sederhana.

Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sementara ibunya mencari nafkah dengan membuat dan menjual tempe benguk, makanan tradisional dari biji koro benguk yang difermentasi dan khas Kulon Progo.

Baca Juga: Tiga Orang Meninggal di Pesta Rakyat Pernikahan Maula Akbar dan Putri Karlina di Garut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Minta Maaf

Penghasilan dari penjualan tempe tersebut juga tidak besar, rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per dua hari saat dagangan ramai. Kondisi ini menjadikan pendidikan sebagai harapan utama bagi Ikhsan untuk memperbaiki masa depan keluarganya.

Bagi Ikhsan, Sekolah Rakyat merupakan tempat yang membuka peluang untuk menggapai impian.

Dikutip Radar Bogor dari laman Kemensos, sejak hari pertama mengikuti MPLS pada Senin, 14 Juli, Ikhsan merasa semakin yakin bahwa dirinya bisa mengubah nasib.

Ia mengaku awalnya sempat gugup karena belum mengenal lingkungan barunya, namun seiring waktu, ia merasa nyaman karena suasana sekolah yang ramah dan penuh kehangatan. Guru-guru di sekolah pun sangat mendukung dan memperlakukan para siswa dengan baik.

Baca Juga: Serunya Wisata Edukatif di Penangkaran Rusa Cariu Bogor, Segini Harga Tiket Masuknya

Cita-cita besar dan semangat pantang menyerah juga ditunjukkan oleh Mutiara Hanifah, siswi SRMA 20 Sleman yang juga berusia 16 tahun.

Ia bercita-cita menjadi dokter dengan niat utama untuk membantu masyarakat di sekitarnya.

Dorongan ini muncul karena banyak warga di sekeliling tempat tinggalnya yang mengalami kesulitan dalam hal kesehatan, termasuk ibunya sendiri yang sedang sakit.

Muti, sapaan akrabnya, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian dengan penghasilan tidak tetap.

Mereka tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan di Sleman.

Ia mengaku ingin membanggakan kedua orang tuanya dan berharap bisa meringankan beban keluarga melalui pendidikan.

Sambil menahan air mata, Muti menyampaikan keinginannya agar bisa membuat orang tuanya tersenyum kembali.

Menurut Muti, lingkungan di Sekolah Rakyat sangat mendukung.

Teman-temannya bersikap baik dan saling membantu, sehingga mereka telah merasa seperti keluarga sendiri.

Ia juga menilai fasilitas sekolah sudah cukup memadai dan guru-gurunya sangat perhatian.

SRMA 20 Sleman sendiri merupakan sekolah yang dikelola dengan pendekatan khusus untuk mendampingi siswa dari latar belakang keluarga kurang mampu.

Saat ini terdapat 75 siswa jenjang SMA yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Mereka didampingi oleh 14 wali asuh yang bertugas penuh selama 24 jam, serta dua orang wali asrama.

Untuk kegiatan belajar-mengajar, sekolah ini memiliki 17 guru dari berbagai bidang studi yang siap membimbing siswa mencapai cita-cita mereka.

Melalui cerita Ikhsan dan Muti, tampak bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi wadah harapan dan perubahan bagi generasi muda dari keluarga sederhana untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Editor : Eka Rahmawati
#Sekolah Rakyat