Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Manfaatkan Mikroorganisme, Mahasiswa IPB University Bantu Petani Cegah Gagal Panen di Leuwisadeng Bogor

Septi Nulawam Harahap • Senin, 28 Juli 2025 | 20:29 WIB
Mahasiswa KKN-TI IPB University membantu petani mencegah gagal panen dengan mengusung program pembuatan dan pemanfaatan PGPR di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.
Mahasiswa KKN-TI IPB University membantu petani mencegah gagal panen dengan mengusung program pembuatan dan pemanfaatan PGPR di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.

RADAR BOGOR - Mahasiswa KKN-TI IPB University mengusung program pembuatan dan pemanfaatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) di Desa Sadengkolot, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.

Program ini sebagai solusi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, sekaligus memperkuat ketahanan tanaman terhadap serangan patogen dan stres lingkungan khususnya di Leuwisadeng.

Perwakilan Tim KKN-TI IPB University, Muhammad Nafis Athaya Dzikrie mengatakan, program ini diusung setelah ia bersama mahasiswa lainnya melakukan survei kepada para Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Sadengkolot.

"Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung di lapangan, diketahui bahwa banyak petani menghadapi berbagai kendala, mulai dari menurunnya produktivitas tanaman hingga kasus gagal panen," ujar Nafis.

Permasalahan tersebut kata Nafis disebabkan oleh serangan hama penyakit serta perubahan cuaca yang ekstrem.

Mahasiswa IPB itu pun melihat, potensi besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal, yaitu banyaknya pohon bambu yang tumbuh subur di sekitar wilayah desa.

Dari situlah muncul ide inovatif dengan memanfaatkan mikroorganisme yang hidup di sekitar akar bambu untuk mendukung pertumbuhan tanaman pangan lokal.

"Berdasarkan literatur dan praktik pertanian organik, akar bambu hidup diketahui mengandung berbagai jenis bakteri (rhizobacteria) baik yang dapat membantu tanaman dalam menyerap unsur hara, meningkatkan pertumbuhan, serta melindungi tanaman dari serangan patogen," jelas Nafis.

Oleh karenanya, tim KKN-TI BOGORKAB36 itu mulai melakukan peracikan PGPR secara mandiri dengan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan, di antaranya larutan gula sebagai sumber energi mikroba dedak sebagai media fermentasi, rendaman akar bambu sebagai sumber bakteri alami, terasi sebagai pengaya mikroorganisme, dan air bersih sebagai pelarut.

Semua bahan tersebut dicampur dan disimpan dalam wadah tertutup seperti galon yang mana setiap hari, tutup galon dibuka sedikit untuk mengurangi tekanan gas hasil fermentasi.

Dalam beberapa hari, hasil fermentasi menunjukkan keberhasilan, ditandai dengan aroma khas dan tidak busuk, serta munculnya gelembung fermentasi.

"Setelah racikan PGPR dinyatakan berhasil, pada 23 Juli 2025, kami melaksanakan praktik langsung di lapangan dengan mengaplikasikan PGPR pada tanaman seperti padi, cabai, jagung, ubi jalar, dan singkong," jelas Nafis.

Kegiatan ini juga disertai dengan sosialisasi kepada Gapoktan mengenai manfaat PGPR serta cara membuatnya secara mandiri.

Edukasi dilakukan secara interaktif, disertai demonstrasi dan pemberian modul sederhana dan para petani sangat antusias karena bahan-bahannya mudah didapat dan tidak memerlukan biaya besar.

"Mereka mengapresiasi upaya kami dalam memberikan solusi praktis yang langsung dapat diterapkan di lahan pertanian mereka," kata Nafis.

Program inovasi PGPR ini pun diharapkan bisa menjadi awal dari penerapan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan di Desa Sadengkolot.

Dengan memanfaatkan potensi alam lokal seperti akar bambu, petani di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kesehatan tanah secara jangka panjang.

"Kami selaku tim KKN-TI BOGORKAB36 berharap inovasi ini dapat diteruskan dan dikembangkan oleh masyarakat, serta menjadi contoh nyata bahwa kemandirian pangan dan keberlanjutan pertanian dapat dimulai dari hal sederhana dan lokal," pungkas Nafis.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #petani #mahasiswa #Leuwisadeng #ipb university