Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB University Kukuhkan Guru Besar FEMA, Dorong Inovasi Kelembagaan Petani dan Desa

Muhamad Rifki Fauzan • Selasa, 29 Juli 2025 | 20:25 WIB
Orasi ilmiah guru besar IPB University, Prof Amiruddin.
Orasi ilmiah guru besar IPB University, Prof Amiruddin.

RADAR BOGOR – IPB University kembali mengukuhkan guru besar tetap dalam bidang Ekologi Manusia, salah satunya Prof. Dr. Ir. Amiruddin Saleh dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA).

Pengukuhan dilakukan dalam sidang terbuka orasi ilmiah guru besar, yang digelar di Gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Sabtu, 26 Juli 2025.

Dalam orasinya, Prof. Amiruddin memaparkan dua model inovatif penguatan kelembagaan petani dan desa, yakni Komunitas Estate Padi (KEP) dan Kampus Desa.

“Inovasi kelembagaan ini menjadi jawaban atas tantangan regenerasi petani, fragmentasi lahan, dan kesenjangan akademik-desa,” kata Prof. Amiruddin.

Model KEP ditujukan untuk menjawab berbagai persoalan struktural yang dihadapi petani kecil, mulai dari lemahnya posisi tawar hingga krisis regenerasi petani muda di Indonesia.

Melalui pendekatan kawasan dan manajemen kolektif, KEP menyatukan seluruh rantai nilai produksi padi, dari pembenihan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran dilakukan dalam satu sistem terpadu.

“KEP bukan sekadar pertanian modern, tapi ruang sosial demokratis tempat petani belajar, memimpin, dan berbagi teknologi,” ujarnya.

KEP telah diimplementasikan di tujuh kabupaten di Jawa dan Sumatera dan model ini terbukti meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta melahirkan startup agribisnis berbasis komunitas.

Salah satu keunggulan KEP terletak pada keberadaan Forum Perwakilan Petani Pemilik dan Penggarap Lahan (FP4L), forum ini memungkinkan petani menjadi pengambil keputusan strategis.

“Keberhasilan KEP lebih ditentukan oleh komunikasi kelompok dan semangat gotong royong, bukan semata teknologi,” ungkap Prof. Amiruddin.

Teknologi tetap menjadi elemen penting dalam pendekatan ini, petani didorong memanfaatkan benih unggul IPB 3S, drone untuk pemupukan, hingga pelatihan digital marketing.

Prof. Amiruddin juga mengenalkan Kampus Desa sebagai model intervensi edukatif dan menyebutnya sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat desa.

Kampus Desa dikembangkan dengan prinsip community-based education dan project-based learning, mahasiswa dan dosen berperan sebagai co-learner bersama warga.

“Masalah desa bukan teknologi, tapi lemahnya komunikasi sosial. Kampus Desa mengelola perubahan dari bawah,” tegasnya.

Program ini sudah diterapkan sejak 2018 di lebih dari 60 desa di Bogor dan sekitarnya, IPB menggandeng mitra seperti University of British Columbia (UBC), Kanada.

Kampus Desa tidak hanya membentuk forum warga, tetapi juga mendorong partisipasi dalam mendesain program lokal. Salah satu inovasi menarik adalah adanya Wisuda Kampus Desa.

Wisuda itu menjadi simbol berakhirnya siklus pembelajaran komunitas. Sekaligus mengakui capaian warga desa sebagai aktor perubahan sosial.

“Desa harus jadi subjek, bukan objek pembangunan, itulah semangat utama dari Kampus Desa,” ucap Prof. Amiruddin.

Namun ia juga menyoroti tantangan yang belum selesai, seperti minimnya pelibatan perempuan dan perlunya sistem pendampingan jangka panjang.

Dua model inovatif ini menempatkan komunikasi kelompok sebagai jantung transformasi dan pertemuan tatap muka dan platform digital dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan sosial.

“Komunikasi bukan cuma saluran informasi, ia adalah fondasi demokrasi akar rumput,” imbuhnya.

Di akhir orasinya, Prof Amiruddin mengajak seluruh pihak untuk membangun ekosistem pertanian yang tangguh. Petani dan warga desa harus diposisikan sebagai subjek utama pembangunan nasional.

“Kita perlu kebijakan yang berpihak pada petani, sejalan dengan agenda koperasi merah putih,” pungkasnya.(rp1)

Editor : Eka Rahmawati
#FEMA #guru besar #ipb university