RADAR BOGOR – Sekolah Vokasi IPB University memperkenalkan inovasi baru untuk dunia pertanian.
Melalui riset yang didanai LPDP dalam Skema EMAS Penelitian Berdikari, tim peneliti IPB University mengembangkan teknologi bioaktivator yang mampu mempercepat proses penguraian pupuk organik.
Lewat uji coba di lahan mitra, teknologi dari IPB University ini memangkas waktu pembuatan pupuk dari 1–2 bulan menjadi hanya dua minggu.
Selain efisien, bioaktivator ini juga meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian hingga 30 persen, bahkan diprediksi bisa mencapai 70 persen dalam jangka panjang.
“Teknologi ini membantu petani mendapat hasil lebih cepat dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” ujar Dr. Aceng Hidayat, Dekan Sekolah Vokasi IPB University,
Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Eksternal di Gedung CC IPB, Kamis 24 Juli 2025.
Hadir dalam kegiatan itu perwakilan Kemdiktisaintek, jajaran dosen IPB University, serta tim peneliti lintas program studi.
Tak hanya riset, proyek ini juga menggandeng SMKN 2 Pacet. Guru dan siswa sekolah tersebut ikut menerapkan teknologi pengolahan limbah di lingkungan sekolah.
Selain bermanfaat secara praktis, kolaborasi ini juga menjadi media pembelajaran berbasis riset bagi pelajar.
MONEV juga menyoroti kelengkapan dokumen penelitian. Beberapa catatan yang diberikan di antaranya penyempurnaan laporan substansi dan pengajuan HAKI serta merek dagang.
Kemudian penambahan analisis pasar dan rencana bisnis untuk produk POC dan POP, dan penyiapan panduan penggunaan bioaktivator.
Selain itu peneliti juga diminta melakukan dokumentasi kerja sama lewat MoU dan laporan aktivitas dan acknowledgement pendanaan LPDP di setiap publikasi.
Transparansi keuangan turut diaudit, termasuk laporan eRISPRO, verifikasi bukti belanja dan labelisasi aset hasil penelitian. Setiap properti wajib diberi barcode untuk pelacakan.
Ketua tim peneliti, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, mengatakan seluruh tahapan riset akan segera dituntaskan. Kemudian produk bioaktivator siap diseminasi ke masyarakat.
“Kami berharap hasilnya bisa dirasakan lebih luas oleh petani dan pelaku usaha pertanian,” pungkasnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin