RADAR BOGOR - Tingginya potensi tanah longsor di Kota Bogor mendorong lima siswa SMA Plus YPHB menciptakan alat pendeteksi bencana tersebut.
Berbekal modal sekitar Rp200 ribu, para siswa SMA Plus YPHB merancang prototipe sederhana yang diberi nama Siloka
Kelima siswa SMA Plus YPHB itu adalah Anindya Aisyah Fakhira, Andika Prasendriya Rizki, Byantara Nadzif Hamdani, Havillah Nayla Hermanto, dan Tadya Makarim Perdana.
Mereka semua duduk di bangku kelas 12 dan akan mengikutsertakan karya ini dalam ajang Bogor Innovation Award, Senin 11 Agustus 2025.
Perwakilan tim, Anindya Aisyah Fakhira, mengatakan nama Siloka memiliki makna kiasan yang menggambarkan ungkapan dalam bahaya.
Filosofi ini diambil sebagai pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman longsor.
“Siloka ini punya arti simbol yang memiliki makna tersirat. Kami ingin alat ini jadi pengingat bagi masyarakat akan bahaya longsor,” ujarnya kepada Radar Bogor, Sabtu 9 Agustus 2025.
Alat tersebut bekerja dengan sensor piezo berbentuk piringan untuk mendeteksi getaran, tekanan, dan suara.
Sinyal dari sensor kemudian diubah menjadi informasi listrik oleh amplifier sebelum diproses ke sistem.
Tim juga menambahkan fitur pengaturan ambang batas atau threshold yang bisa disesuaikan dengan kondisi medan.
Saat getaran melebihi batas yang ditentukan, lampu LED menyala dan alarm berbunyi sebagai tanda peringatan.
“Ambang batasnya bisa diatur di coding. Jadi kalau di daerah yang sering dilewati truk, harus disurvei dulu supaya tidak salah deteksi,” jelas Anindya.
Proses pembuatan Siloka memakan waktu sekitar satu minggu. Meski sederhana, mereka menyebut alat ini dapat dibuat oleh siapa saja sehingga masyarakat juga bisa terlibat langsung dalam mitigasi bencana.
Menurut Anindya, sebelumnya memang sudah ada alat pendeteksi longsor, namun versi mereka dibuat lebih sederhana dan murah. Dengan begitu, peluang untuk digunakan secara luas menjadi lebih besar.
“Kami ingin masyarakat bisa membuat dan memanfaatkan alat ini. Biayanya murah, jadi tidak hanya pemerintah yang bisa memasang alat pendeteksi longsor,” katanya.
Ke depan, mereka para siswa SMA Plus YPHB mengembangkan prototipe tersebut dengan membuat kotak pelindung agar lebih tahan terhadap hujan. Sosialisasi penggunaan alat ke masyarakat juga akan menjadi fokus mereka.
“Selain mengembangkan desainnya, kami juga akan mensosialisasikan cara kerja dan penggunaan alat ini agar bisa dimanfaatkan di banyak daerah rawan longsor,” pungkasnya.
Sementara itu, Pembimbing tim untuk lomba, Afro Indayana (co-founder ekotifa) mengatakan, proyek ini tidak hanya soal lomba atau teknologi, tapi soal rasa peduli.
"Anak-anak ini belajar langsung dari masalah di sekitar mereka. Mereka tahu Bogor rawan longsor, lalu bertanya: ‘Kalau kita bikin alat sendiri, bisa nggak bantu warga?’ Dari situlah semua ide bermula," ujarnya.
Ia mengaku, prosesnya penuh cerita. Ada momen sensor tidak mau bekerja, kabel salah pasang, sampai mereka harus mengutak-atik kode pemrograman dan prototype yang mereka ciptakan.
“Yang saya banggakan bukan cuma hasilnya, tapi cara mereka saling dukung. Ada yang jago coding, ada yang teliti pasang komponen, ada yang rajin cari data. Semua punya peran,” katanya.
Menurutnya, Siloka adalah bukti bahwa inovasi bisa lahir dari niat baik, dan keberanian mencoba.
"Kadang yang dibutuhkan bukan laboratorium besar, tapi keberanian untuk memulai, dukungan orang tua, sekolah dan ekosistem yang solutif, membuat Anak-anak ini dapat mewujudkan gagasan yang kongkrit dan solutif,” tutupnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin