Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mahasiswa KKNT IPB University 2025 Hadirkan Solusi Pupuk Hayati PGPR Akar Bambu untuk Pertanian Desa Sukareja

Yosep Awaludin • Jumat, 15 Agustus 2025 | 11:00 WIB
Mahasiswa KKN-T IPB University Kelompok TEGALKAB08 saat menjalankan program pengembangan PGPR di Desa Sukareja, Tegal
Mahasiswa KKN-T IPB University Kelompok TEGALKAB08 saat menjalankan program pengembangan PGPR di Desa Sukareja, Tegal

RADAR BOGOR – Mahasiswa KKN-T IPB University Kelompok TEGALKAB08 yang bertugas di Desa Sukareja, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, menginisiasi program unggulan berupa pengembangan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) berbahan dasar akar bambu.

Program ini menjadi salah satu langkah nyata untuk mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat, sejalan dengan semangat IPB University 'Inspiring Innovation with Integrity'.

PGPR yang dibuat dari akar bambu ini mengandung mikroorganisme bermanfaat yang berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman, memperbaiki struktur tanah, dan menjaga kesuburannya dalam jangka panjang.

Pemanfaatan akar bambu dipilih karena bahan ini tersedia melimpah di desa, sehingga proses produksi dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Dengan teknik fermentasi sederhana, murah, dan mudah dipraktekkan, petani dapat mengaplikasikan PGPR secara langsung untuk meningkatkan kesuburan lahan sekaligus hasil panen.

Gagasan ini muncul dari kondisi pertanian di Desa Sukareja yang selama ini bergantung pada pupuk kimia.

Meskipun hasilnya cepat terlihat, penggunaan pupuk kimia berlebihan mengakibatkan penurunan kualitas tanah, hilangnya keragaman mikroba alami, dan berkurangnya produktivitas lahan, baik pada sawah maupun kebun.

Kehadiran PGPR alami dari akar bambu diharapkan dapat memperbaiki kondisi tanah, menekan biaya produksi, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Pembuatan PGPR dilakukan melalui beberapa tahap dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Proses diawali dengan pengambilan akar bambu segar, pembersihan, lalu pemotongan kecil-kecil.

Akar kemudian ditumbuk hingga seratnya terlihat dan direndam dalam air bersih untuk fermentasi awal selama tiga hari.

Selanjutnya, dibuat larutan nutrisi dari campuran 10 liter air mendidih dengan 500 gram bekatul, 5 sendok makan gula, 1 buah terasi, dan ½ sendok makan kapur sirih.

Setelah larutan dingin, ditambahkan 200 mL biang PGPR hasil saringan. Campuran ini difermentasi selama 14 hari dengan pengadukan rutin setiap 2–3 hari agar mikroba berkembang optimal dan kualitas larutan tetap terjaga.

Setelah fermentasi selesai, PGPR siap digunakan sebagai pupuk hayati cair untuk berbagai jenis tanaman.

Program ini dilaksanakan dengan melibatkan petani setempat di setiap tahapan, mulai dari pengumpulan bahan baku, proses fermentasi, hingga uji coba di lahan warga.

Selain itu, diberikan pula pelatihan teknis agar masyarakat dapat memproduksi PGPR secara mandiri bahkan setelah program berakhir.

Kelompok TEGALKAB08 menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Sukareja, terutama kepada Kepala Desa beserta jajaran, Dulkhalim, serta Kepala BUMDes Sukareja, Tri Laksono, atas dukungan penuh dan fasilitasi selama program berlangsung.

Dengan terlaksananya program ini, Desa Sukareja diharapkan menjadi percontohan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal.

Keberhasilan pengembangan PGPR akar bambu ini juga diharapkan menginspirasi desa lain untuk menerapkan inovasi serupa, sehingga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dan berkelanjutan. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#pertanian #tegal #ipb university