Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dosen Fakultas Hukum Unpak Terbitkan Novel Berjudul Wanita Sunda, Begini Ceritanya

Muhammad Ruri Ariatullah • Minggu, 31 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan (Unpak), Mustika Mega Wijaya (kiri) dalam launching novel Wanita Sunda di Gramedia Botani Square
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan (Unpak), Mustika Mega Wijaya (kiri) dalam launching novel Wanita Sunda di Gramedia Botani Square

RADAR BOGOR-Wanita Sunda bukanlah sosok yang lemah. Di balik pesona kecantikan alami dan juga kelembutan, tersimpan kekuatan tersembunyi yang seketika meruntuhkan pemikiran tersebut.

Hal itu yang tersirat dari buku berjudul Wanita Sunda karya Mustika Mega Wijaya, dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan (Unpak) dalam novel perdananya dalam launching di Gramedia Botani Square, Sabtu 30 Agustus 2025.

Novel ini menceritakan bagaimana wanita Sunda dengan segala macam permasalahan diri mereka, namun tetap tegar dalam menjalani roda kehidupan.

Tiap halaman mengisahkan bagaimana sosok wanita Sunda menjalani tiap roda kehidupan. Mulai dari permasalahan rumah tangga, korban perundingan dan perjuangan menghadapi kerasnya hidup.

Kemudian ada pula mengisahkan perjuangan sosok wanita Sunda untuk bangkit dari kanker yang nyaris merenggut nyawanya.

Pembaca diajak seolah-olah ikut merasakan proses transformasi sosok wanita Sunda, dari korban perundungan hingga menjelma menjadi wanita tangguh.

“Buku ini mencerminkan jika setiap wanita punya cara untuk bangkit dari pahit getirnya kehidupan. Begitu juga dengan para perempuan Sunda, “ ujar Mega-sapaan karibnya-kepada Radar Bogor.

Wanita kelahiran Bogor 40 tahun silam itu mengaku, inspirasi menulis novel pendek ‘Wanita Sunda’ karena memiliki beban moral terlahir sebagai seorang perempuan dari Tatar Pasundan.

“Saya asli Sunda. Lahir dari rahim wanita Sunda. Tentu ingin melestarikan budaya Sunda. Novel ini dibuat untuk merubah stigma negatif tentang wanita Sunda yang katanya matre, hobi berdandan dan tidak bisa berdiri sendirian," katanya.

“Tentunya wanita Sunda itu sebenarnya cantik, mandiri, dermawan, kuat dan bisa mengharmonisasikan antara kecantikan fisik dan kecerdasan dari dalam,” sambungnya.

Mega mengakui sejak kecil bercita-cita menjadi penulis novel. Ia bahkan di sela-sela pendidikan hingga menjadi dosen, sering meluangkan waktu untuk menulis cerita pendek.

Ada hal menarik di balik terbitnya novel ‘Wanita Sunda’. Saat itu, Mega baru saja sadar dari koma selama empat hari akibat penyakit yang ia derita.Oleh dokter, ia tak diizinkan membaca buku maupun memainkan telepon genggam.

“Lalu saya minta izin ke dokter untuk menulis. Makanya saat pinjam pulpen dan kertas, “ tukasnya. (rur)

Editor : Yosep Awaludin
#Wanita sunda #novel #Unpak