RADAR BOGOR - Setiap pagi, pemandangan yang sama selalu berulang, hampir setiap sudut kota di Indonesia memiliki tumpukan sampah menunggu untuk diangkut.
Ada plastik kresek, sisa makanan, botol minuman, hingga sayuran layu. Bau menyengat sering menusuk hidung, sementara lalat berterbangan di sekitarnya.
Tentu saja kita semua mengetahui sampah merupakan masalah besar, namun, pertanyaannya apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi, atau justru masih menjadi bagian dari masalah?
Apabila kita melihat pada data yang dikeluarkan (SIPSN, 2025), Indonesia menghasilkan 35 Juta Ton sampah setiap tahunnya, dengan persentase pengurangan sampah per tahunnya hanya 1,11%.
Hal ini menunjukan belum optimalnya pengelolaan sampah yang ada. Presiden Republik Indonesia sendiri sudah menginstruksikan untuk mengatasi masalah sampah yang ada di Indonesia.
Mengingat berdasarkan sumbernya Limbah Rumah tangga berkontribusi sebesar 53,77% dari total sampah yang dihasilkan.
Kota Bogor sendiri berkontribusi sebesar 779,81 ton sampah setiap harinya dengan Limbah Rumah Tangga sebagai sumber penghasil terbesar mencapai 52,26%, dan secara komposisi sampah sisa makanan adalah sampah terbesar yang dihasilkan mencapai 40%.
Jika dibiarkan tentunya hanya masalah waktu saja sampai TPAS Galuga tidak bisa menampung sampah.
Wali Kota Bogor sendiri sudah bergerak dengan bekerja sama dengan Pemkab Bogor untuk mengatasi masalah sampah di TPAS Galuga.
Namun kita tidak bisa membiarkan pemerintah bergerak sendiri, perlu adanya dukungan dari seluruh elemen masyarakat, salah satunya adalah gerakan Waste Rangers.
Waste Rangers adalah gerakan inisiatif dari remaja yang tergabung ke dalam Tim B-Magg yang dibimbing Dr. Abel Gandhy, S.Pi., MM. serta beranggotakan Adi Surya Panji Gumilang, Indi Naswa, Ranti Audina Yuristianti, Novena Putrianti dan Benedict Hubert Nathanael.
Gerakan ini juga turut berkolaborasi dengan PIK-R Aregam serta KWT Cempaka yang memiliki kepedulian akan pengelolaan sampah dan meyakini sampah bisa diubah menjadi berkah.
Gerakan Waste Rangers memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan mendorong mereka untuk memisahkan sampah di rumah dan melakukan pengelolaan sampah secara mikro.
Gerakan ini sudah dimulai pada 11 Juli 2025 dengan melakukan edukasi mengenai peluang dan ancaman dari sampah di KWT Cempaka.
Bentuk gerakan dari Waste Rangers sendiri adalah dengan:
- Mengedukasi masyarakat tentang peluang dan ancaman sampah serta mendorong mereka untuk memisahkan sampah dari rumah.
- Mengubah sampah menjadi berkah melalui konsep Koperasi Sampah, di mana masyarakat menukar limbah organik dengan kredit yang dapat ditukar dengan barang kebutuhan.
- Mengolah limbah organik menggunakan Biokonversi Maggot BSF untuk menciptakan keberlanjutan dan kemandirian pangan bagi KWT.
Pemantauan dan skalabilitas gerakan
Hasil dari gerakan Waste Rangers ini sangat memuaskan, sebab di awal gerakan KWT Cempaka Berhasil mengurangi sampah sisa makanan dan merubahnya menjadi Maggot BSF.
Di mana setiap minggunya KWT bisa menghasilkan 5 Kg Maggot BSF sehingga berhasil mengurangi penggunaan pakan untuk ikan dan unggas serta pupuk untuk tanaman sekaligus menghasilkan uang untuk keperluan KWT.
Sebab sebagian maggot yang dihasilkan dijual ke pengusaha pakan ikan lele, sehingga siklus sederhana ini tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga menambah pendapatan.
Baca Juga: Rotasi Besar-besaran, 325 Pejabat Dilantik Bupati Indramayu Lucky Hakim dan Wakilnya Syaefudin
Harapannya gerakan ini bisa diaplikasikan di daerah lain sebagai upaya mengurangi jumlah sampah dan mengubahnya menjadi berkah.
Sebab kita meyakini bahwa sampah bukan masalah, melainkan peluang untuk mendatangkan berkah. Mari ubah sampah jadi berkah bersama Waste Rangers!. (***)
Editor : Yosep Awaludin