RADAR BOGOR - Kabar tidak mengenakan datang dari dunia pendidikan di Kota Bogor, yakni 7 siswa pindahan SMAN 6 Kota Bogor mendadak dikeluarkan pihak sekolah.
Kebijakan SMAN 6 Kota Bogor tersebut menuai reaksi negatif dari orang tua murid.
Sampai-sampai kasus SMAN 6 Kota Bogor inipun viral di media sosial. Mereka beranggapan pihak sekolah tidak mengikuti aturan.
Sebanyak 7 siswa pindahan ini sebelumnya sempat mengikuti kegiatan pembelajaran.
Namun pada pertengahan bulan Agustus aktivitas akademik mereka di SMAN 6 harus terhenti.
Alasan pihak sekolah kepada wali murid, karena kuota siswa per kelas sudah penuh.
Namun ini tidak diterima, sebab acuan mereka adalah aturan Gubernur Jabar terkait 50 siswa perkelas.
Menanggapi persoalan itu, Kepala SMAN 6 Kota Bogor, Denty Dentrijadi buka suara.
Dia menyebut memang pada awalnya pihak sekolah mengacu pada aturan Gubernur Jawa Barat tersebut.
Namun aturan terbaru membatasi jumlah siswa per kelas. Saat ini pihak sekolah hanya diperbolehkan satu kelas diisi sebanyak 36 siswa.
“Sekarang itu maksimal 36 siswa. Otomatis saya sampaikan ke orangtua maunya gimana, sok cari dulu sekolah yang lain. Saya bantu kalau ada formasi,” jelas Denty.
Denty menyebut pihaknya pun telah mendatangi rumah siswa yang dikeluarkan tersebut.
Tujuannya untuk memberikan penjelasan dibalik kebijkan yang dikeluarkannya.
Saat bertemu dengan orangtua, Denty mengklaim bahwa mereka sudah memhami atas kondisi yang terjadi.
Bahkan pihak sekolah juga memberika rekomendasi sekola lain.
“Orangtua murid menerima, yuk sok sekarang mau sekolah dimana, saya bantu. Ini solusi dari pihak sekolah,” terang Denty pada awak media.
Dari 7 siswa pindahan yang dikeluarkan sudah ada empat yang dibantu untuk pindah ke sekolah lain. Dua diantaranya bergeser ke SMAN 10 Kota Bogor.
Pihak SMAN 6 Kota Bogor digaransi Denty akan kembali turun ke lapangan. Tujuannya untuk memastikan bahwa para siswa yang dikeluarkan dapat melanjutkan pendidikannya.
“Karena dari awal kami nggak ada niat komersial. Niatnya bantu lilahitaala. Ini dunia pendidikan, jangan sampai ada yang putus sekolah,” pungkas Kepala SMAN 6 Kota Bogor.(rp1)
Editor : Alpin.