RADAR BOGOR – Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) terus mendorong hadirnya inovasi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Salah satunya melalui program pulang kampung dengan memperkenalkan inovasi peternakan berbasis ekonomi sirkuler yang disebut SATURI (Sapih Tujuh Puluh Hari).
Inovasi SATURI berfokus pada penggemukan anak domba selama 70 hari untuk menghasilkan daging empuk berkualitas, terutama untuk olahan sate.
Uniknya, konsep ini tidak hanya berhenti pada produksi daging, tetapi juga mengajarkan pengelolaan limbah peternakan agar bernilai ekonomi melalui pengolahan pupuk organik dan budidaya cacing.
Program ini dilaksanakan bersama Yayasan Baitul Azemi Mumtaaz (YABAM) di Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
YABAM merupakan yayasan yang menaungi santri yatim dan dhuafa sekaligus mengelola peternakan domba.
Melalui inovasi ini, para santri tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga pengetahuan praktis tentang wirausaha modern berbasis peternakan.
Harapannya, mereka mampu mandiri secara ekonomi ketika kembali ke masyarakat.
Dr. Ir. Sri Multasih, M.Sc.Agr., selaku ketua tim dosen, menjelaskan bahwa inovasi SATURI hadir sebagai solusi yang menyeluruh.
“Peternakan domba bisa memberikan manfaat ganda. Dagingnya berkualitas, limbahnya bisa diolah menjadi pupuk dan media ternak cacing. Jadi tidak ada yang terbuang, semuanya memberi nilai tambah. Inilah esensi dari ekonomi sirkuler yang kami perkenalkan kepada santri dan peternak sekitar,” tuturnya.
Kegiatan ini berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi pertama, para santri dan peternak mendapatkan penyuluhan mengenai Good Farming Practices (GFP) yang mencakup breeding, feeding, dan manajemen pemeliharaan domba.
Mereka juga diperkenalkan dengan teknik penggemukan domba lepas sapih selama 70 hari beserta ransum pakan penggemukan, serta materi mengenai pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk organik dan media ternak cacing.
Dari proses ini, santri dan peternak belajar bahwa limbah yang selama ini dianggap masalah justru dapat mendatangkan keuntungan.
Pengolahan limbah dilakukan dengan dua metode.
Pertama, feses domba difermentasi menggunakan mol tape atau EM4, dikeringkan, lalu dicacah dan dikemas menjadi pupuk organik siap pakai.
Kedua, limbah dijadikan media ternak cacing.
Cacing hasil budidaya bisa dijual ke pemilik kolam ikan, sementara media bekasnya menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi yang dikenal sebagai kascing.
Bagi YABAM, program ini sangat bermanfaat.
Tidak hanya meningkatkan produktivitas peternakan domba yang baru dirintis, tetapi juga memberi pengalaman berharga bagi santri yatim dan dhuafa untuk menjadi wirausahawan muda.
Selain itu, peternak rakyat di sekitar Desa Leuwikaret juga mendapat akses pengetahuan baru yang bisa diterapkan dalam usaha mereka.
Lebih jauh, inovasi SATURI sejalan dengan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-2, yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, meningkatkan gizi, serta mendorong pertanian berkelanjutan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim