Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Antisipasi Perang Bologis, IPB dan Barantin Tekan MoU Perkuat Riset di Bidang Karantina

Dede Supriadi • Minggu, 28 September 2025 | 18:27 WIB
Barantin bersama IPB University menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama mengenai riset, dan teknologi di bidang perkarantinaan.
Barantin bersama IPB University menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama mengenai riset, dan teknologi di bidang perkarantinaan.

RADAR BOGOR - Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) University menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama mengenai pengembangan kapasitas sumber daya manusia, pendidikan, riset, dan teknologi di bidang perkarantinaan.

Acara berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB Dramaga, dalam rangkaian kegiatan Barantin Inspiring Day yang dirangkai dengan kuliah umum dan mini expo #GoEkspor.

Lebih dari 650 mahasiswa IPB hadir mengikuti kuliah umum bersama Deputi Karantina Hewan, Deputi Karantina Tumbuhan, Deputi Karantina Ikan, serta dosen IPB. Para pelaku usaha agribisnis yang telah sukses menembus pasar global juga hadir berbagi pengalaman langsung dengan mahasiswa.

Mini expo #GoEkspor turut digelar sebagai sarana edukasi publik terkait kekarantinaan dan ekspor komoditas unggulan Indonesia.

Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean, menyampaikan bahwa sinergi Barantin dan IPB menjadi langkah strategis menjawab tantangan global.

“Penandatanganan ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi ilmu pengetahuan dan kebijakan publik adalah kunci untuk masa depan,” kata Sahat.

Barantin berperan menjaga biosecurity, biosafety, dan biodiversity Indonesia, dengan dukungan IPB, maka pihaknya dapat mengembangkan riset, teknologi diagnostik, dan meningkatkan kapasitas SDM secara berkelanjutan.

Ke depan, tantangan akan semakin berat lantaran berbagai penyakit sangat berpeluang masuk ke Indonesia jika tidak ada pencegahan yang sangat ketat.

Oleh karenanya, perlu adanya perguruan tinggi dengan memberdayakan sejumlah pakar untuk mendukung kerja Barantin.

“(Dalam) MoU ini kita juga melihat pergerakan komoditi di perbatasan-perbatasan Indonesia yang sangat banyak, sangat luas, dan kemungkinan juga itu pintu-pintu pemasukan. Dan juga sekarang ini perang yang akan terjadi adalah perang biologis, biosecurity kita harus kuat,” ucapnya.

Dalam MoU ini, selain mengantispasi perang bilogis, Barantin juga berharap dapat mensejajarkan dengan Negara Australia, termasuk New Zealand, Amerika, Uni Eropa yang sudah memahamin kepentingan karantina.

“Nah itulah pentingnya MOU-MOU yang kami lakukan termasuk yang di IPB ini. Jadi negara-negara yang memang endemis atau outbreak penyakit kita bisa mapping dari data kita. Nah kita akan perkuat di situ,” beber dia.

Sahat menjelaskan jika tidak ada negara yang ingin Indonesia maju, sehingga, bagaimana caranya mereka ingin menjatuhkan Indonesia dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah penyebaran penyakit-penyakit.

“Melalui media-media makanan, bisa media-media hewan, ikan dan tumbuhan yang masuk ke Indonesia. MoU ini agar menjelaskan juga ke dunia sana, ke dunia luar sana, kepada negara-negara mitra kita. Bahwa kita sudah kuat, karantina sudah kuat, sudah di-backup oleh perguruan tinggi, dengan pakar-pakar yang ada,” kata Sahat.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan SDM Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (PPSDM-KHIT), Dian SR Kusumastuti, dalam laporannya menyampaikan, sejak 2024, Barantin telah bekerja sama dengan 15 perguruan tinggi negeri, termasuk IPB. Alumni IPB yang kini bekerja di Barantin berjumlah 403 orang, di antaranya menduduki jabatan tinggi madya dan pratama.

“Ini menunjukkan kontribusi nyata IPB dalam memperkuat kapasitas kelembagaan Barantin,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menegaskan pentingnya kolaborasi ini.

“Kerja sama IPB dengan Barantin bukan hanya dokumen, tetapi langkah strategis memperkuat kedaulatan pangan, keamanan hayati, dan akselerasi ekspor. Kami percaya melalui riset, inovasi, dan pendidikan, kolaborasi ini akan melahirkan solusi nyata bagi tantangan global,” ujar Prof Arif.

Dengan tema “Menjaga Sumber Daya Alam Hayati Indonesia untuk Keberlanjutan dan Akselerasi Ekspor Komoditas Pertanian dan Perikanan”, kegiatan Barantin Inspiring Day menjadi momentum memperkuat sinergi akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha menuju Indonesia Emas 2045.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
#ipb #Barantin