Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hadapi Krisis Iklim, Faperta IPB University dan Gukje Cyber University Korea Selatan Jalin Kerja Sama Pendidikan dan Riset Pertanian

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 2 Oktober 2025 | 14:02 WIB
Suasana seminar internasional yang digelar Faperta IPB University di IICC Botani Square.
Suasana seminar internasional yang digelar Faperta IPB University di IICC Botani Square.

RADAR BOGOR – Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University menjadi tuan rumah seminar internasional bertajuk “2025 Seminar on Climate Change Responses and Eco-Friendly Agriculture” di IPB International Convention Center (IICC) Botani Square, Rabu 1 Oktober 2025.

Seminar internasional yang digelar Faperta IPB University itu mempertemukan akademisi, peneliti, serta praktisi dari Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) untuk mencari solusi atas dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.

Seminar ini merupakan kolaborasi strategis antara Faperta IPB University dengan Gukje Cyber University Korea Selatan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kantor Bisnis Chungcheongnam-do Indonesia, Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), serta perusahaan Share Green Co. Ltd.

Isu perubahan iklim menjadi tema utama, mengingat dampaknya nyata terhadap produktivitas pertanian. Suhu yang meningkat, perubahan pola cuaca, serta munculnya hama dan penyakit baru, menjadi tantangan serius petani di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Korsel.

“Climate change ini tidak bisa dihindari, dan sudah kita rasakan baik di Indonesia maupun di Korsel. Peningkatan suhu dan perubahan pola iklim berpengaruh besar terhadap hasil pertanian," kata Ketua Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB University, Ali Nurmansyah.

"Seminar ini merupakan forum penting membahas strategi adaptasi dan mencari solusi bersama,” tuturnya.

Ali menjelaskan, kerja sama dengan pihak Korea Selatan sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu.

Photo
Photo

Bermula dari kolaborasi antara Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB dengan perusahaan Share Green untuk melakukan pengujian produk pestisida dan fungisida ramah lingkungan di Indonesia.

“Pengujian tersebut berhasil dan hasilnya cukup bagus. Dari situ lahir rencana memperluas kerja sama, tidak hanya pada pengujian produk, tetapi juga bidang pendidikan dan penelitian dengan Gukje Cyber University di Provinsi Chungnam, Korea,” jelas Ali.

Ia menambahkan, seminar ini juga menjadi bagian dari rencana kerja sama yang lebih luas, yakni program Sister Province antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Chungnam, Korea Selatan.

Melalui kerja sama ini, bidang pendidikan, penelitian, hingga pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan akan menjadi fokus.

"Ke depan bisa diwujudkan dalam program nyata seperti pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, kolaborasi penelitian, serta pengembangan teknologi pertanian yang bermanfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Ali, keuntungan kerja sama ini tidak hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga sektor ekonomi. Indonesia, khususnya Jawa Barat, berpeluang memasarkan produk-produk pertanian ke Korsel.

Sebaliknya, pihak Korsel juga dapat memperkenalkan produk mereka di Indonesia. "Jadi sifatnya saling menguntungkan untuk kedua belah pihak baik Indonesia maupun Korsel,” jelasnya.

Seminar internasional ini menegaskan juga tantangan perubahan iklim tidak bisa diatasi sendiri oleh satu negara. Dibutuhkan kerja sama lintas batas, baik dalam hal pendidikan, riset, maupun penerapan teknologi.

“Kolaborasi internasional adalah kunci dalam mencari solusi krisis iklim yang berdampak langsung pada ketahanan pangan global dan lokal. Dengan kerja sama ini, diharapkan lahir inovasi pertanian yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berkelanjutan,” bebernya.

CEO Share Green, Seo Yoon-kyung, mengungkapkan alasan memilih Indonesia karena melihat potensi yang dimiliki.

Menurutnya, petani Indonesia menunjukkan minat besar terhadap pertanian ramah lingkungan, terutama pada tanaman obat dan metode budidaya berkelanjutan.

“Indonesia memiliki kebutuhan yang jelas terhadap sistem pertanian ramah lingkungan. Saya sudah berpartisipasi dalam proyek di banyak negara, tetapi yang paling menarik justru di Indonesia karena potensinya besar untuk mendukung pertanian yang baik bagi lingkungan,” kata Seo.

Seo juga menambahkan Share Green telah mengembangkan pestisida dan fungisida yang ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan pertanian Indonesia.

Produk-produk ini dapat digunakan untuk membantu petani mengatasi masalah hama dan penyakit tanaman.

"Kami ingin memperkenalkannya, lalu mendapatkan umpan balik dari petani agar bisa terus diperbaiki,” jelasnya.

Lebih jauh, ia berharap kerja sama ini tidak hanya terbatas pada pengenalan produk, tetapi juga membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih luas. Mereka ingin membangun hubungan jangka panjang dengan Indonesia.

"Kerjasama bisa dilakukan melalui penelitian bersama, pendidikan, maupun pengembangan produk-produk yang benar-benar bermanfaat bagi petani,” tambahnya.

Dalam seminar, sejumlah topik vital dibahas oleh para narasumber dari kedua negara. Beberapa di antaranya adalah prospek pasar agrikultur Jawa Barat, penerapan pertanian ramah lingkungan, serta strategi pengendalian hama berbasis teknologi modern dari Korsel.

Selain diskusi akademik, agenda utama adalah penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Faperta IPB University dan Gukje Cyber University.

Kesepakatan ini menjadi fondasi bagi penguatan kerja sama di bidang riset, pendidikan, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia di sektor pertanian. (uma)

Para peserta pelatihan menyimak MUA Profesional Make Over, Nikita yang memperagakan cara merias wajah model yang disiapkan.
Para peserta pelatihan menyimak MUA Profesional Make Over, Nikita yang memperagakan cara merias wajah model yang disiapkan.
Editor : Yosep Awaludin
#seminar internasional #pertanian #ipb university