Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sijaka, Inovasi Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB University yang Jadi Solusi Herbal bagi Penderita Diabetes

Yosep Awaludin • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 18:00 WIB
Sijaka inovasi herbal dari Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB Prof Mega Safithri.
Sijaka inovasi herbal dari Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB Prof Mega Safithri.

RADAR BOGOR - Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB University, Prof Mega Safithri, menilai potensi obat herbal di Indonesia sangat besar.

Ia melihat kesadaran masyarakat untuk memilih pengobatan alami dengan efek samping lebih kecil kini semakin meningkat.

Menurut Prof Mega, kepercayaan pada obat herbal bisa makin kuat jika didukung oleh kajian ilmiah yang jelas. Hal ini mencakup uji keamanan, toksisitas, dan efektivitas yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam orasi ilmiahnya pada Sabtu, 30 Agustus 2025, ia memaparkan hasil riset timnya mengenai kandungan aktif di beberapa tanaman herbal.

Misalnya, piperine dan piperanine pada sirih merah, gingerol pada jahe merah, hingga sinamaldehid dan asam sinamat pada kayu manis.

Zat aktif tersebut, lanjutnya, terbukti memiliki manfaat untuk membantu menurunkan kadar gula darah sekaligus meredakan peradangan, terutama bagi penderita diabetes.

Prof Mega menjelaskan, penelitian herbal untuk diabetes mellitus (DM) bisa dilakukan dengan pendekatan biokimia medis dan nutrisi.

Salah satu caranya adalah menguji senyawa herbal terhadap enzim pengendali gula darah, seperti amilase dan alfa-glukosidase, melalui simulasi komputer.

Jika hasil awal menunjukkan potensi, penelitian akan dilanjutkan ke tahap laboratorium (in vitro), lalu ke hewan coba (in vivo), sebelum akhirnya uji klinis pada manusia.

Salah satu produk hasil riset timnya adalah Sijaka, yang sejak 2022 sudah memasuki tahap komersialisasi.

Beberapa testimoni pengguna menyebutkan adanya perbaikan kesehatan, mulai dari penurunan tremor, perbaikan kadar HbA1c, hingga kesiapan operasi mata.

Namun, izin edar Sijaka masih menunggu pemenuhan persyaratan oleh mitra industri, yaitu PT Nano Herbaltama. Targetnya, semua persyaratan ini bisa selesai pada Agustus 2025.

Prof Mega juga menekankan pentingnya edukasi publik serta dukungan tenaga medis dalam penggunaan herbal berbasis bukti.

Saat ini, IPB University sudah memiliki Fakultas Kedokteran dan bekerja sama dengan beberapa rumah sakit, termasuk RSUD Cibinong dan RS Pendidikan Universitas Airlangga, untuk pengembangan terapi pendamping bagi pasien diabetes.

Ia melihat tren global menunjukkan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pusat riset dan investasi obat herbal dalam 10 tahun ke depan.

Apalagi, dukungan pemerintah dan peran aktif Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB University semakin memperkuat langkah tersebut.

Dengan riset yang serius, Prof Mega optimistis Indonesia bisa menghasilkan ribuan paten herbal berbasis sains. Hal ini akan membuat posisi Indonesia lebih diperhitungkan di kancah internasional.

Ia berharap, dengan kerja sama lintas sektor, obat herbal Indonesia bisa menjadi pilihan utama, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar global.

“Melalui riset berbasis bukti, kita bisa menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di industri obat herbal dunia,” tegas Prof Mega. (Raul/BSI)

Editor : Yosep Awaludin
#guru besar #ipb university #sijaka